ABOUT YOU

ABOUT YOU
Se



Koridor NSS nampak ramai setelah beberapa menit lalu lonceng dibunyikan. Bahkan tak jarang bahu Megan tersenggol anak-anak lain saat berpapasan. Ingin rasanya Megan mengumpat karena mengiyakan ajakan Ella untuk keluar kelas lebih dulu. Selepas sekolah, Ella mengajaknya untuk pergi ke toko buku dipusat kota.


"Kau ingin membeli sesuatu?" tanya Ella saat memasuki Brookfield.


"*B*ubble tea terlihat menyegarkan" ucap Megan saat melihat penjual bubble tea yang tengah ramai pembeli.


"Kau pergilah, aku akan ke toko buku sebrang sana"


"Em baiklah, aku akan segera menyusulmu"


Megan berada antrian ke 4. Ah, bayangan bubble tea di depan membuatnya ingin segera mendapatkannya.


Satu cup bubble tea rasa taro sudah berada di tangannya. Megan melangkahkan kakinya menuju book store yang di tunjukkan Ella tadi.


“Sebanyak itu?” tanya Megan saat melihat Ella sudah membawa setumpuk buku di tangannya.


“Ya. Kau tau, buku-buku ini sangat menarik”


“Itu bukan buku melainkan sebuah novel Ell” bantah Megan, “Aku akan kesana untuk melihat-lihat”


“Em. Aku akan ke kasir”


Buku dengan judul Memoris Of You menarik perhatian Megan. Sayang, tangan panjangnya masih tak sampai untuk mencapai buku yang terletak di bagian rak teratas. Baru kali ini Megan merasa pendek.


Tiba-tiba sebuah tangan kekar terulur mengambil buku tersebut hingga membuat Megan berbalik. Matanya terkunci pada dada bidang seorang lelaki. Cukup lama keduanya bertahan pada posisi tersebut. Sampai akhirnya lelaki berperawakan tinggi itu memberi buku tersebut pada Megan yang setengah mati menahan agar semburat merah tak nampak pada kedua pipi nya.


“Ah, em terimakasih” ucap Bila lalu segera pergi.


“Ed. Kau mencari sesuatu?” suara Nenek Lusi membuat Edward kembali tersadar.


“Ah apakah nenek sudah selesai?”


“Ya. Aku sudah selesai” ucap Nenek Lusi menunjukkan buku resep yang di pegangnya.


Megan hampir saja mengumpat saat membaca pesan dari Ella yang memberitahu jika ia pulang lebih dulu. Parahnya gadis itu juga mengirim gambar saat Megan tengah bersama lelaki yang ternyata adalah Edward. Megan berjanji akan memarahi Ella esok.


“Ck. Bagaimana caraku pulang. Uangku tak cukup jika harus menaiki taksi. Ah sungguh Ella kau akan kubalas” gerutu Megan merutuki jika ia lupa membawa kartu kredit.


“Megan”


“Nenek Lusi” sudut bibir Megan terangkat saat melihat wanita tua itu berjalan ke arah nya, tak lupa dengan Edward yang mengikutinya dari belakang.


“Apa yang kau lakukan disini?”


“Aku membeli sebuah buku”


“Sendirian?” tanya Nenek Lusi saat tak mendapati siapapun disamping Megan.


“Ah tadi bersama teman, tapi ia pulang terlebih dahulu”


“Apa kau langsung pulang?”


“Yaa, setidaknya sampai hujan reda” ucap Megan sambil menatap nanar hujan yang bahkan semakin deras.


“Pulanglah bersamaku”


“Ah, tak perlu”


“Aku tak menerima penolakan Megan” ucap Nenek Lusi lembut.


“Apa tak merepotkan? Arah rumah kita berlawanan”


“Tak apa. Ayolah. Ed, segera ambil mobilnya”


“Hm” jawab Edward dan berlalu.


Tak butuh waktu lama, Edward sampai dengan Rolls hitam. Di dalam mobil pun Edward tak banyak bicara.


“Terimakasih nek. Aku masuk. Berhati-hatilah”


Megan tersenyum sembari memperhatikan mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumahnya.


“I’m home” Megan melihat sekeliling rumahnya yang nampak sepi.


“Kemana semua orang? Mom where are you?” suara Megan menggema ke seluruh ruangan. Matanya menangkap sebuah note kecil yang ditempel di pintu kulkas disamping meja makan.


Ibu dan Ayah pergi ke rumah nenekmu untuk beberapa hari. Aku meninggalkan beberapa makanan untuk kau panaskan.


Jaga dirimu sweety


Love


Megan berjalan lesu menuju kamarnya dan langsung menjatuhkan tubuh di tempat tidurnya. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamarnya dan perlahan terpejam.


💮


Susana kafetaria NNS pagi ini tak begitu ramai, hanya beberapa siswa yang terlihat menempati beberapa sudut kafetaria. Roti panggang yang Megan pesan pun masih tersisa setengah, matanya memandang ke arah kaca besar disampingnya yang menampakkan beberapa siswa yang lewat dan terhenti pada pemuda yang baru saja turun dari motor besarnya. Dalam beberapa detik, Megan dibuat terpana dengan ketampanan yang Edward miliki.


“Ah apa yang kupikirkan. Tentu saja dia tak setampan oppa-oppa ku” ucap Megan bernolog.


Saku seragamnya bergetar menandakan ada sebuah telfon masuk. Nama Ella terpampng pada layar handphone hitamnya.


“Ha..”


“Kau dimana? Apa kau tak masuk hari ini?” suara Ella terdengar nyaring di sebrang sana.


“Aku masih di kafetaria”


“Are you crazy Chal?!” umpatnya bertambah nyaring.


“Lonceng sebentar lagi akan berbunyi dan kau masih bersantai di kafetaria? Kau ingin masuk ruang bimbingan?”


“Astaga. Aku akan segera kesana Ell” ucap Megan lalu menutup sambungan telefon dan langsung berlari meninggalkan kafetaria.


Beberapa kali Megan tak sengaja menabrak bahu siswa lain, ”Shit, bukankah itu Mr. Ben? Oh god help me”. Ternyata langkah Mr. Ben berbelok ke arah kamar mandi membuat Megan sedikit bernafas lega.


“Mengapa kelas ini jauh sekali” keluh Megan saat berhasil mendudukkan dirinya di salah satu meja.


“Kau sungguh ingin mati Chall? Ini kelas statistik kau ingat?”


“Beri aku minum Ell”. Ella pun memberikan botol minum yang selalu ia bawa. Tak lama Mr. Ben masuk dengan wajah mengerikannya.


Lonceng pergantian jam baru saja berbunyi membuat seluruh siswa kelas statistik bernafas lega. NSS termasuk sekolah yang menerapkan sistem moving class yang membuat Megan tak selalu mempunyai teman yang sama di kelas.


“Hemm”


“Berarti kau akan sekelas dengan Edward bukan” ucap Ella dengan senyum jahilnya.


“Berhenti menggodaku atau aku akan marah padamu”


“Aku tak menyangka jika kau akan seberani itu Chall” goda Ella lagi.


“Terserah. Pergilah ke gedungmu” ucap Megan jengah.


“Kau mengusirku nona Chall? Kirim aku pesan jika kelasmu usai” teriak Ella sembari memperhatikan punggung Megan yang berjalan menjauh.


Beberapa siswa terlihat melakukan pemanasan kecil. Megan pun menghampiri Kate, temannya saat di kelas atletik.


“Kenapa kau lama sekali Meg?”


“Ah sorry Kate”


“Wajahmu pucat. Apa kau sakit?”


“Benarkah? Aku baik-baik saja” ucap Megan meyakinkan.


“Beritahu aku jika kau merasa tak enak badan”


Belum sempat Megan mengiyakan perkataan Kate, tiba-tiba tubuhnya terjatuh dan seketika pandangannya gelap.


Edward menatap heran kerumunan di tepi lapangan.


“Apa yang terjadi?” tanya Leo yang juga memperhatikan arah pandang Edward.


“Oh astaga. Kenapa kalian diam saja” bentak Leo saat melihat Megan terkapar pingsan. Tanpa bicara, Edward langsung membopong tubuh Megan dan membawanya keluar dari kerumunan.


Mata Ella membulat saat melihat apa yang tertera pada layar handphone nya. Sebuah gambar yang menjadi hot line di forum NSS. Ia pun langsung berlari meninggalkan kelas, tujuannya kali ini adalah ruang kesehatan.


Brakk!!


Ella membuka kasar pintu ruang kesehatan, nampak seorang gadis dengan bibir pucat yang terbaring lemah di brangkar.


“Apa kau temannya?” tanya Dokter Ghisel yang muncul dari balik tirai.


“Ya. Apa yang terjadi dengan Megan?”


“Tenanglah. Sepertinya dia tak sarapan pagi tadi, tubuhnya lemas. Berikan ini jika ia sudah sadar” ucap Dokter Ghisel sambil memberikan sekotak makanan dan air putih.


“Kau yang membelikannya?”


“Tidak. Tadi Edward yang membelinya di kafetaria”


“Benarkah?”


“Ya. Kalau begitu aku keluar dulu”


“Ah ya. Terimakasih”


“Awshh”


“Chal. Are you okay?”


“Why I’m here?”


“Kau pingsan Chal. Apa kau tadi pagi tidak sarapan?”


“Aku sarapan di kafetaria hari ini”


“Kau tak menghabiskannya bukan. Cepat makan ini”


Setelah melewati perdebatan yang cukup lama, akhirnya Mega berhasil membujuk Ella untuk membiarkannya keluar dari tempat membosankan itu.


“Apa kau sudah memberitahu ayahmu?”


“Ya. Aku sudah mengirim pesan padanya. Mungkin sebentar lagi akan sampai”


Megan menatap heran sekitarnya, tak sedikit orang di sepanjang koridor memperhatikannya “Apakah orang-orang itu melihat kearah kita Ell?” tanya Megan lirih.


“Bukan kita. Tapi kau”


“Aku? Memangnya ada apa denganku?”


“Ah ya. Aku lupa menunjukkanmu sesuatu” ucap Ella lalu menunjukkan gambar yang menjadi trending topic seantero NSS.


“What the hell” pekik Megan.


“Are you crazy?! Look around you Chall!” Megan menatap sekitarnya lalu menunduk malu.


“Ige moya?"


“You’re language please” Ella memutar bola matanya malas.


“Jangan katakan kalau Edward yang membawaku ke ruang kesehatan”


“Tapi sayangnya aku harus berkata yes”


“Aishh”


“Bukankah itu Edward?”. Mata Megan mengikuti arah pandang Ella dimana Edward dan teman-temannya berjalan ke arah mereka.


“Sudah membaik?” tanya Edward dengan nada dinginnya.


“Ah ya. Aku sudah membaik. Emm terimakasih”


“Emm Megan. Apa kau langsung pulang?” tanya Harry.


“Yaa”


“Biarkan Edward yang mengantarmu” mendengar itu, Megan langsung mengangkat kepalanya lalu bergeleng.


“Tak perlu. Ayahku yang akan menjemput. Ah itu dia” ucap Megan saat melihat mobil ayahnya telah sampai.


“Aku pergi. Ell sampai jumpa”