ABOUT YOU

ABOUT YOU
First Date



Semalaman skype dengan Jeni dan juga Dhea, membuatku jadi begadang dan tidur sekitar jam 2 Subuh. Yang tadinya mau bahas soal penampilanku untuk kencan pertama besok, malah jadi bahas drama Korea, Sehun Exo, sampai-sampai kita jadi berfantasi ria dan membayangkan kalau kita bisa pacaran dengan Idol Korea.


Kami bertiga ini memang K-pop sejati, jadi bawaannya suka heboh sendiri kalau sudah membicarakan soal dunia Korea.


Besok paginya, aku tampak sibuk memilah-milah pakaian yang mau aku pakai untuk kencan bersama Arfan. Skype dengan kedua sobatku itu pada akhirnya tidak membuahkan hasil sama sekali. Andai saja bunda masih ada, pasti bunda akan membantuku mencarikan baju yang tepat untukku.


Sekarang, aku malah jadi bingung sendiri. Kamarku saja sampai terlihat berantakan sekali karena aku malah sibuk bongkar lemari untuk mencari pakaian yang cocok untuk aku pakai sekarang.


“Kamu ngapain, Ris?” tanya ayah yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar. “Ya Tuhan, kamarmu berantakan sekali. Risa, ini kamar gadis, loh. Kenapa malah seperti kapal pecah begini?”


“Maaf, Yah. Risa lagi bingung buat cari baju yang cocok untuk Risa pakai.”


“Emangnya kamu mau ke mana, sih?” tanya ayah sambil merapihkan beberapa tumpukan pakaian di atas tempat tidurku.


“Ngedate sama Arfan,” jawabku yang masih terlihat bingung untuk memilih pakaian.


“Ngedate? Pakai baju yang ada aja, sih. Kenapa sampai ngeluarin semua baju kamu segala?”


“Risa pengen terlihat cantik aja gitu di depan Arfan. Ini first date Risa, Yah. Coba kalau bunda masih ada, bunda pasti bisa milihin baju yang cocok buat Risa.”


Aku terdiam sejenak. Sepertinya, aku sudah salah berbicara. Ayah pasti terlihat sedih jika aku mengungkit-ungkit soal bunda lagi.


“Maaffin Risa, Yah,” kataku menyesal sambil menundukkan kepala.


“Kamu gak salah, Nak. Gini, Risa pakai baju yang buat Risa nyaman aja. Gak usah berlebihan, pakai baju apa pun Risa pasti terlihat cantik. Kalau Arfan memang suka sama Risa, dia pasti bilang Risa cantik walau kamu pakai baju apa pun itu. Simple, nyaman dan favorit kamu. Pakai baju yang seperti itu saja, itu sudah lebih dari cukup.”


Aku tersenyum lebar dan memeluk ayahku begitu erat sampai-sampai aku mencium kening ayahku beberapa kali karena saking senangnya.


“Makasih banyak ayahku sayang. Ayah memang terbaik, Risa sayang ayah.”


“Ayah juga sayang sama kamu, Nak. Sudah sana siap-siap, sudah jam setengah 10.”


“Siap, Pak bos!”


Setelah cukup lama berdandan, aku mendengar ada suara motor yang sudah memasuki wilayah rumahku. Itu pasti motornya Arfan, aku pun langsung begegas turun dan segera menuju lantai satu untuk bertemu dengannya.


“Cantik nggak, Yah?” tanyaku saat masuk ke dalam kamar ayahku.


“Anak ayah selalu cantik,” jawab ayah sambil memegang kepalaku lembut.


Setelah mendengar jawaban ayah, aku langsung begegas keluar dan segera menemui Arfan di ruang tamu.


“Hai,” sapaku sambil melambaikan tangan.


“Hai,” jawabnya sambil tersenyum lebar.


Tiba-tiba saja Arfan datang menghampiriku. Ia menatapku begitu tajam dan memegang rambutku dengan tangan kanannya. Aku langsung dibuat syock olehnya, aku fikir dia mau melakukan hal-hal di luar dugaanku. Seperti yang sudah di bahas di dalam video-call semalam bersama dengan Jeni dan juga Dhea.


“Elo kenapa gugup, Ris?” tanyanya begitu melihatku gugup setelah dia mengambil sesuatu dari rambutku. “Ini rollan lo masih nempel di rambut lo,” katanya sambil menyerahkan sebuah rollan rambut ke arah tanganku


Aku hanya tersenyum kecut dan langsung menjadi salah tingkah karena sikapnya itu.


“Yah, Risa pergi dulu!” teriakku begitu melihat ayah yang baru saja keluar dari kamarnya.


Ayah mengangguk hingga membuat Arfan datang menghampiri ayah sambil mencium telapak tangannya.


“Om, saya mau minta izin ajak Risa keluar untuk jalan-jalan.”


“Jangan pulang terlalu malam, yah?”


“Siap, Om. Kalau gitu, kita pergi dulu. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan.”


Setelah berpamitan, kami berdua langsung bergegas pergi. Selama di perjalanan, aku sangat gugup sekali. Tadinya, aku ragu untuk memeluk tubuhnya. Beberapa kali mencoba, aku merasa canggung dan juga malu. Apa aku harus meminta izin Arfan terlebih dulu?


“Peluk aja, Ris,” katanya tiba-tiba yang membuatku langsung terkejut karena mendengar ucapannya.


“Ko, elo tahu isi fikiran gue, sih?” tanyaku gugup.


“Tahu dong, gue gitu, loh!” katanya berbangga diri.


Arfan langsung menarik tanganku dan melingkarkannya di pinggangnya yang lebar. Aku sangat gugup, tapi ini pertama kalinya aku memeluknya seperti ini. Aku juga memberanikan diri untuk menyandarkan kepalaku di atas punggung Arfan yang lebar. Rasanya begitu nyaman, jadi ini rasanya berpelukan di motor bersama pacar sendiri?


Selama kurang lebih dua jam, kami sampai juga di perkebunan teh daerah Ciwidey. Arfan memparkirkan motornya dan mengajakku berkeliling di perkebunan teh. Rasanya sejuk, indah, tenang dan menenangkan hati juga fikiran.


“Ris,” katanya memanggilku.


“Iya?”


“Makasih.”


“Ris,” katanya kembali.


“Apa?”


“Gue suka sama lo,” katanya kemudian hingga membuatku terdiam beberapa saat. “Suka semua yang ada di dalam diri lo. Suka senyum lo, juteknya lo, pokoknya semua suka. Jangan berhenti untuk tersenyum sama gue, yah?”


Aku tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Kami berdua duduk di atas sebuah batu yang cukup besar dan juga cukup tinggi. Rasanya indah sekali pemadangannya. Jadi tidak mau beranjak cepat dari tempat ini.


“Jadi pengen denger lo bilang suka sama gue, deh. Rasanya gimana, yah? Pasti menyenangkan,” katanya yang membuatku langsung salah tingkah begitu mendengarnya.


“Emangnya, kalau pacaran itu harus tahu perasaan masing-masing, yah?” tanyaku gugup.


Arfan mengangguk dan menatapku.


“Iya, dong. Yang namanya pacaran itu harus saling terbuka, jujur, percaya dan juga setia. Kalau nggak ada 4 syarat itu, hubungan lo di jamin bakalan runyam.”


“Putus gitu maksud lo?” kataku cepat hinga membuat Arfan terdiam kemudian mengangguk.


“Yang nama berhubungan pasti akan selalu ada yang namanya berantem, perbedaan pendapat, bahkan kasarnya akan ada kata putus. Tapi, itu tergantung situasinya aja kaya gimana.”


“Lo sebelumnya pernah pacaran, yah?” tanyaku penasaran dan membuatnya kemudian mengangguk. “Kenapa putus?”


“Nggak cocok,” jawabnya singkat. “Udah, gak usah ungkit masalah putus-putusan lagi. Nggak baik tahu.”


“Jadi, yang baik itu apa?”


“Ngomongin soal kita. Kita yang lagi dilanda kasmaran,” katanya yang kemudian terkekeh hingga membuatku merasa geli sediri begitu mendengar kata ‘kasmaran’ keluar dari mulutnya.


“Ris, kalau gue tiba-tiba berantem sama orang lain lo bakalan marah nggak?” tanyanya tiba-tiba.


“Kenapa? Elo mau berantem lagi sama orang?” tanyaku balik.


“Gue cuma nanya, kalau suatu saat gue berantem lagi elo marah nggak sama gue?”


“Gue pasti bakalan nanya dulu alasannya apa. Kalau alasannya gue bisa terima, gue nggak akan marah.”


Arfan terdiam hingga membuatku sangat penasaran, sebenarnya dia itu kenapa? Kenapa dia tiba-tiba mengungkit soal berantem lagi?


“Jangan pernah berubah yah kalau gue tiba-tiba gak terlalu fokus sama lo lagi.”


“Kenapa lo tiba-tiba ngomongnya kaya gitu, sih? Elo mau ninggalin gue?” tanyaku penasaran.


Arfan menggeleng dan memegang kepalaku lembut seraya menatapku dengan pandangan mata yang sangat sulit diartikan.


“Gue kayanya akan bermasalah lagi, Ris. Temen gue si Tatang, lo tahu dia, kan? Akhir-akhir ini dia sering banget di ganggu sama anak sekolah lain. Dia di palak, terus di hajar sama anak-anak sekolah itu.”


“Elo mau nuntut balas dendam?” tanyaku yang mendadak gugup dan juga khawatir.


Arfan mengangguk dan membuatku rasanya cemas dan tidak suka mendengar dia ikut berantem lagi seperti itu.


“Harus yah dengan cara berantem? Gak bisa diselesaikan secara baik-baik?”


“Kalau lo gak izinin gue berantem, gue gak akan berantem. Sekarang kan, gue punya lo. Jadi, kalau ada apa-apa gue harus izin dulu sama ibu Negara.”


Aku tersenyum kecut dan mengacak-ngacak rambutnya pelan seperti yang selalu ia lakukan kepadaku.


“Gue izinin, tapi mukul wajahnya doang, yah? Cuma dua kali, tapi harus langsung roboh.”


Arfan tertawa lebar hingga membuatku bingung sendiri begitu melihat Arfan tertawa seperti itu.


“Kenapa ketawa?”


“Nggak apa-apa. Eh, lapar nggak?”


Aku mengangguk hingga membuat Arfan langsung turun untuk mencari makan.


“Mau cepat turunnya nggak?” tanyanya yang membuatku langsung mengangguk cepat. “Kalau gitu, gue harus gendong lo. Cepet naik ke atas punggung gue.”


“Gue berat tahu, Fan.”


“Masih berat gendong si Mbul,” katanya yang membuatku tertawa ngakak.


Karena di paksa, akhirnya aku melingkarkan kedua tanganku ke lehernya Arfan. Arfan pun langsung menggendongku sambil berlari-lari kecil, hingga membuatku tertawa bersamanya dan merangkul lehernya semakin erat.


Dunia seketika terlihat seperti berhenti berputar, ingin rasanya aku seperti ini terus bersamanya. Apa mungkin aku mulai jatuh cinta kepadanya?