ABOUT YOU

ABOUT YOU
Daseos



Edward melihat dengan seksama beberapa gambar mobil di layar laptop milik Arthur. Di depannya ke empat sahabatnya menatap heran ke arahnya.


“Mengapa kau tiba-tiba ingin tau semua mobil milik Thunder?” tanya Arthur memecah keheningan.


“Apa sesuatu terjadi?” Jovial menambahi.


“Kudengar Megan baru saja di labrak oleh Emily. Itu benar?” tanya Leo tanpa mengalihkan pandangan dari stik PS nya.


“Hm. Kemarin di halaman belakang” Edward membenarkan.


“Apa yang dilakukan gadis ular itu?” tanya Arthur


“Menjambak”


“Sungguh memuakkan”


“Jadi. Apa yang akan kita lakukan?” tanya Jovial to the poin.


“Leo, kau urus Emily. Jo, selalu pantau pergerakan Thunder. Dan kau Arthur, ku ingin kau memasang pengintai” ucap Edward.


“Apa aku melewatkan sesuatu?” Mr. Mark tiba-tiba muncul dari balik pintu.


“Dad? Kapan kau datang” tanya Edward saat melihat sang ayah sudah berada di rumah.


“Baru saja. Jadi apa yang aku lewatkan hem?” ulang Mr. Mark.


“Hanya merencanakan sesuatu”


“Baiklah. Beritahu aku jika butuh bantuan”


“Kau yang terbaik Uncle Mark” ucap Leo mengangkat kedua ibu jarinya.


“Ah ya. Kudengar akan ada kontes hacker lagi musim depan. Apa kalian akan pergi?” tanya Mr. Mark sebelum benar-benar meninggalkan kamar anak semata wayangnya.


“Sepertinya menyenangkan” ucap Arthur.


“Kami akan pikirkan itu nanti Dad”


Jovial melirik jam tangannya “Time to work”


Sepeninggalan teman-temannya, Edward masih setia di depan layar monitornya. Salah satu gambar mobil dihadapannya cukup mengusik pikirannya, hingga suara ketukan pintu membuatnya menoleh mengalihkan pandangannya.


“Apa mommy boleh masuk?”


“Masuklah”


“Apa yang menarik di layar monitormu hingga melewatkan makan malam?” ucap Mrs. Mark meletakkan segelas susu hangat.


“Sesuatu yang ingin segera ku selesaikan mom”


“Kapan kau akan membawa gadismu kesini Ed? Mommy dan Grandma juga ingin mengenalnya” goda Mrs. Mark.


“Grandma sudah mengenalnya. Bahkan Grandma pernah membawanya kesini”


“Benarkah? Kalau begitu ajak dia kemari minggu depan” ucap Mrs. Mark dengan mata berbinar.


“Ku usahakan”


“Baiklah. Lanjutkan kegiatanmu, jangan lupa habiskan susu mu”


🌚


Megan membenarkan ikatan rambutnya saat mobil ayahnya akan sampai di sekolahnya. Mematut wajahnya dicermin kecil yang selalu isa bawa kemanapun. Kantung matanya masih menghitam akibat seharian menangis. Tak lama, mobil ayahnya berhenti.


“Apa kau yakin sweety? Kau masih belum terlalu baik” ucap ayahnya sambil mengelus pipi putri sulungnya.


“I’m okay dad” ucap Megan meyakinkan.


“Baiklah. Segera telfon daddy jika terjadi sesuatu”


“Ay yay captain”


Sepeninggalan ayahnya, Megan berjalan sambil menenteng tas hitam miliknya. Keadaan koridor kelas sastra pagi ini cukup ramai hingga membuat kepala Megan sedikit merasa pusing.


“Challista” pekik Ella saat Megan muncul dari balik pintu. “Apa kau sudah merasa baik?” nada bicara Ella melemah.


“Bagaimana aku tak khawatir saat aku tak menemukanmu di halaman belakang. Saat aku kembali aku malah mendengar berita buruk tentangmu” ucap Ella mengerucutkan bibir. “Jadi apa benar jika Edward yang menolongmu?” senyum jahil muncul dari wajah Ella.


“Ya. Dia yang menolongku”


“Kurasa dia menyukaimu”


“Your mouth! Dia itu populer, tak sebanding denganku”


“Apa maksudmu? Kau itu cantik, pintar, berbakat. Tak seperti...”


“Jangan membicarakan orang Ell” potong Megan.


Suara riuh terdengar di luar kelas yang Megan tempati membuat Ella bangkit dari duduknya. Megan sama sekali tak berniat untuk melihat apa yang terjadi. Badannya masih cukup lemah untuk melakukan banyak kegiatan.


“Kenapa kau masuk?” suara berat membuat Megan mendongakkan kepalnya.


“Ah. Kau disini?” ucap Megan membenarkan duduknya.


“Mengapa memaksakan diri?”


“Aku sudah membaik” Ucap Megan meyakinan pemuda gagah di depannya.


“Ed. Sudah hampir bel” teriakan dari luar kelas membuat Edward beranjak dari tempatnya.


“Jaga dirimu”


Megan menahan nafasnya untuk berapa saat, udara disekitarnya tiba-tiba menipis hingga membuatnya meneguk air mineralnya hingga tersisa setengah. Tak lama setelah kepergian Edward, Ella datang dengan wajah yang Megan pikir akan menyusahkannya seharian ini.


“Oh My God Meganku, kau hampir saja membuatku jatuh pingsan”


“Kau mau aku tidak masuk esok?” tanya Megan menyerupai ancaman. Sedangkan Ella menampilkan wajah tanpa dosanya.


Entah mengapa hari ini NSS di bebaskan dari segala macam kegiatan. Suasana kafetaria sangat ramai hingga membuat Megan enggan mengunjungi surga siswa-siswa NSS itu. Disinilah dia, menelungkupkan wajahnya dengan tumpuan tangan di salah satu sudut bangku di perpustakaan. Tiba-tiba ekor matanya menangkap sekotak susu putih juga roti di samping lengannya. Saat ia mendongak, wajah pemuda yang akhir-akhir ini muncul dalam hidupnya sedang duduk tenang dengan sebuah buku yang tengah di bacanya.


“Makanlah”


“Aku tak lapar” ujar Megan malas.


“Tapi tubuhmu butuh” tegas Edward lalu menutup bukunya.


“Apa pedulimu?”


“You is mine” ucap Edward singkat.


“I’m yours?” tanya Megan memastikan tak ada yang salah dengan pendengarannya. “Wait wait” Megan menegakkan badannya “Apa maksudmu?”


“Mulai saat ini kau milikku Megan Challista Andreas”


Baru saja Megan akan membantah, Edward sudah lebih dulu memasukkan sedotan ke dalam mulut Megan membuat si empunya terdiam mengerucutkan bibir.


“Apa kau ada kelas setelah ini?” tanya Edward disela-sela kegiatan membacanya.


“Akan ada bimbingan satu jam lagi”


“Bimbingan?”


“Ya. Mrs. Mille memasukkan namaku dalam perlombaan sains bulan depan”


Edward menganggukkan kepalany tanpa paham “Perlu ku antar?”


“Tak perlu. Lab sains cukup dekat dari sini” kunyahan Megan terhenti saat tiba-tiba otaknya memikirakan apa pemuda di depannya ini sudah makan. “Apa kau sudah makan?”


“Sudah. Apa kau sudah selesai?” tanya Edward yang mendapat anggukan Megan. “Kau masih ingin disini atau ke lab?”


Megan melihat jan tangan digitalnya “Disini saja. Apa kau akan pergi?”


“Hm. Aku ada sesuatu yang harus dikerjakan. Tak apa jika aku meninggalkanmu?”


“Pergilah”


“Baiklah. Sampai jumpa jaga dirimu” Edward mencium sekilas puncak kepala Megan hingga membuat Megan menahan nafas beberapa detik.


“Sepertinya aku butuh tabung oksigen” monolog Megan sambil tangan kananya memegang puncak kepala bekas ciuman Edward.