ABOUT YOU

ABOUT YOU
Saran Ayah yang membuatku Tenang



Semenjak kejadian kemarin di sekolah, aku berusaha untuk memikirkan masalah ini dengan kepala dingin. Seharusnya aku tidak marah kepada Arfan, karena Arfan sendiri sudah menjelaskan semuanya padaku. Tapi, aku terlalu syock dengan masalah ini. Karena aku belum terbiasa menghadapi masalah seperti ini sebelumnya. Masalahnya memang simple, tapi entah kenapa aku sangat kecewa dengan sikap Arfan di masa lalu.


Pagi ini, Arfan datang ke rumah untuk menjemputku. Tapi, aku minta si bibik untuk mengatakan kepada Arfan kalau aku ingin pergi bersama ayah ke sekolah. Arfan pun pergi dengan raut wajah yang terlihat begitu kecewa. Aku bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah Arfan yang begitu kecewa padaku dari balik jendela rumahku. Mungkin, sikap acuhku terbilang kejam. Tapi, untuk saat ini aku hanya ingin sendiri dan terlepas dari bayangan Arfan.


“Kamu berantem sama Arfan, Nak?” tanya ayah saat sedang menyetir bermaksud mengantar aku ke sekolah. “Kenapa? Coba cerita sama ayah.”


“Yah, kalau berantem dalam suatu hubungan boleh nggak, sih? ”tanyaku sambil menatap wajah ayah dengan seksama.


“Berantem? Wajar sih, yang namanya pacaran kan nggak selalu mulus. Pasti akan selalu ada cobaannya.”


“Dulu, waktu ayah pacaran sama bunda suka berantem juga?” tanyaku penasaran.


“Hampir tiap hari,” jawab ayah cepat.


“Cara baikkannya lagi gimana?”


Ayah tersenyum dan memegang kepalaku dengan lembut. “Ternyata, anak ayah sekarang sudah dewasa, yah? Kamu sudah bisa mengalami hal-hal seperti ini.”


Aku tersenyum malu. Aku fikir, aku tidak akan pernah membutuhkan ayah untuk masalah percintaanku. Ternyata aku salah. Malah, dalam kejadian seperti ini, aku butuh sosok ayah untuk memberikan nasehat-nasehatnya padaku. Karena aku tahu, pengalaman ayah jauh lebih banyak dari pada aku.


“Risa, masalah apa pun yang datang menghampiri kamu. Kamu harus bisa mengambil sikap bijak apa pun keputusanmu nanti. Hadapi masalahmu itu dengan kepala dingin, jangan ikuti emosimu. Emosi sesaat itu wajar, karena kamu dalam masa pertumbuhan. Tapi, jangan selalu mengambil keputusan dalam keadaan emosi, nanti kamu akan menyesal pada akhirnya.”


“Menyesal?”


Ayah mengangguk dan kembali berkonsentrasi menyetir.


“Kamu harus bisa mengendalikan ego dan emosimu, Nak.”


“Caranya?” tanyaku kembali.


“Fikirkan hal yang membuatmu senang. Jangan ambil pusing masalahmu itu. Selalu tenang dan bersabar. Berbicara mungkin gampang, Nak. Prakteknya pasti sangatlah sulit. Tapi, sabar dan bersikap tenang itu indah, Nak. Kamu jadi tidak stress sendiri. Coba fikirkan masa-masa indah kamu saat sedang bersama Arfan. Persempitlah ruang amarah itu dalam hatimu. Fikirkan juga sebab akibatnya kalau kamu mengambil suatu keputusan nanti.


“Ayah tahu percis watak kamu seperti apa. Mungkin, saat ini kamu butuh waktu sendiri untuk memikirkan semua ini. Jadi, banyaklah ambil air wudhu, sholat malam, berdoa dan fikirkanlah semua masalah ini dengan hati yang tenang. Insha Allah, kamu bisa menyelesaikan masalahmu dengan cepat.”


Aku tersenyum lebar dan memeluk ayah dari samping. Ayah yang hebat, ayah yang luar biasa, ayah yang keren dan ayah yang bijak. Setiap kali berbicara dengan ayah, hatiku selalu tenang dan damai. Beruntungnya aku memiliki ayah seperti ayahku ini.


“Terimakasih banyak, Ayah.”


“Sama-sama cantik.”


Setelah mengantarku sampai depan sekolah, aku melambaikan tanganku begitu mobil ayah berlalu. Aku langsung bergegas masuk dan segera menuju kelasku. Begitu sampai di depan kelas, aku sempat bepapasan dengan Arfan. Kami cukup lama saling beradu pandang, tapi ini bukan saatnya aku untuk menyapanya. Tunggulah sebenar lagi Arfan, aku masih butuh waktu untuk berfikir.


Aku hanya tersenyum tipis padanya kemudian masuk ke dalam kelasku. Aku sempat melirik ke arah Arfan, dia sepertinya sangat kecewa dengan sikapku yang mengacuhkannya. Aku juga tidak bermaksud untuk seperti itu padanya, tapi setiap kali aku melihat wajahnya Arfan, bayangan foto diri Arfan yang tengah berciuman dengan Asti selalu membuatku kesal.


Jadi, lebih baik aku menjauhi Arfan dulu untuk sementara waktu ini sampai emosiku mulai stabil. Saat jam istirahat, aku kembali bertemu dengan Arfan di kantin. Aku kembali mengacuhkannya dan ikut pergi bersama dengan Jeni dan juga Dhea. Bayangan foto itu masih terlalu kuat di dalam fikiranku. Jadi, lebih baik aku pergi saja dari pada aku emosi sendiri saat melihat wajahnya.


“Masih berantem kalian?” tanya Jeni.


“Mau sampai kapan?” tanya Dhea yang kali ini giliran bertanya.


“Sampai emosi gue stabil.”


Jeni dan Dhea terdiam. Karena sama-sama diam, suasana diantara kami menjadi sangat canggung.


“Ris, ada kang Abi,” tutur Jeni yang membuatku langsung menatap ke arah kang Abi yang menghampiriku.


“Kita duluan ke kelas yah, Ris,” kata Dhea yang langsung menarik tangan Jeni untuk pergi hingga membuatku menatap sinis ke arah kang Abi.


“Ris,” kata kang Abi pelan.


“Kenapa?” tanyaku dingin.


Aku masih kesal dengan perkataan kang Abizar kemarin yang memintaku untuk memutuskan hubunganku dengan Arfan secara sepihak. Memangnya dia siapa? Kenapa dia harus ikut campur urusan percintaanku? Aku saja tidak pernah ikut campur dalam urusan percintaannya dengan teh Tita.


“Kamu masih marah soal kemarin?”


“Kalau udah tahu, kenapa masih tanya? Kenapa kang Abi mau ketemu sama aku? Mau mengambil kesempatan dalam kesempitan?” tanyaku sinis.


“Aku tidak sepicik itu, Risa. Aku ke sini mau minta maaf sama kamu.”


“Maaf di terima,” kataku cepat kemudian pergi.


“Risa, tunggu!” katanya yang langsung menarik tanganku hingga membuat langkahku terhenti.


“Apa lagi?”


“Aku sayang sama kamu, Ris.”


“Aku tahu, kang Abi udah pernah bilang kan waktu itu sama aku,” kataku menjawab dengan memasang ekspresi dingin dan juga jutek.


“Kalau saja kamu tidak pernah berpacaran sama Arfan, apa kita masih bisa berpacaran, Ris?’


Aku tersenyum tipis. Ku lepaskan genggaman tangan kang Abi dari pergelangan tanganku secara perlahan.


“Jawabannya masih tidak. Walau aku tidak pernah berpacaran dengan Arfan, aku tidak akan pernah pacaran dengan kang Abi.”


“Kenapa?” tanyanya yang tak percaya dengan jawabanku.


“Karena mungkin, aku akan jatuh cinta pada pria lain. Dan, pria itu bisa jadi adalah Arfan.”


Setelah menyelesaikan kalimatku, aku langsung pergi meninggalkan kang Abi yang masih berdiri di tempatnya sembari menatapku dengan tatapan mata nanarnya. Keputusanku sudah bulat, aku memang harus menjauhi kang Abi.


Bukan karena apa-apa, aku hanya ingin menghargai Arfan yang masih berstatus sebagai pacarku. Aku tidak ingin menyakiti perasaannya lagi. Walau aku tahu foto-foto pribadi Arfan yang tersebar luas menyakiti perasaanku, tapi aku tidak ingin membalasnya dengan cara yang sama.