
"Kim Hanbin! Kim Jinhwan! Kim Jiwon! Song Yunhyeong! Koo Junhoe! Kim Donghyuk, Jung Chanwoo! iKON! Jalhaejulge iKON! Jikyeojulge iKON! Bichweojulge iKON! Haengbokkaja iKON!" dengan semangat Megan meneriakkan fanchat milik boygrup favoritnya.
Gadis berkebangsaan Canada itu memang bukan sedang menonton konser secara langsung, melainkan hanya lewat layar handphone nya. Ia rela menghabiskan banyak-banyak paket internet nya hanya untuk idol yang biasa dipanggil oppa.
Tidak ada kegiatan lain menurut Megan yang lebih menyenangkan dari pada ber Fangirl ria.
Sudah hampir 2 tahun gadis dengan gummy smile itu menyandang gelar Fangirl. Ia mengenal K-Pop saat sebuah girlgroup bernama Blackpink yang beranggotakan 4 orang comeback dengan lagu mereka berjudul Ddu-du-ddu-du.
Jam beker pada meja nakas milik Megan sudah menunjukkan pukul 2.30.
"Hoam" Megan menguap lantas meregangkan otot badannya . Hal ini sudah biasa terjadi, bermain handphone sampai tengah malam bahkan tidak tidur pun berkali-kali ia alami.
Esoknya, Megan telah siap dengan berbagai atribut sekolahnya. Dengan penuh semangat Megan menuruni tangga rumahnya sambil bersenandung kecil.
"Morning mom" sapa gadis remaja itu pada Margareth, ibu nya.
"Too sweety" balas Margareth ramah.
"Chelin dimana?" tanya Megan sambil mengambil potongan sosis pada nasi gorengnya.
"Baru saja berangkat. Kau ingin bawa bekal?"
"Tentu saja. Aku tak akan melewatkan nasi goreng ini"
"Baiklah. Ini untukmu" ucap Margareth lembut sambil memberikan kotak makanan berwarna grey itu.
Sekolah Megan hanya berjarak 1 kilometer dari rumahnya, jadi ia hanya perlu berjalan tanpa harus menggunakan kendaraan seperti anak-anak lainnya.
Gerbang dengan huruf berjajar rapi membentuk nama sebuah sekolah sudah dapat Megan lihat. Ternyata keadaan sekolah sudah ramai, terbukti dengan banyak siswa yang melewatinya entah itu dengan kendaraan atau hanya berjalan kaki sepertinya.
"Chal!" teriak seseorang yang membuat Megan menoleh ke belakang. Nampak seorang gadis dengan langkah panjangnya sedang menghampiri Megan.
"Hey, kenapa kau berlari?"
"Aku dari tadi memanggilmu, tapi kau sama sekali tak menoleh"
"Benarkah? Aaa aku tidak mendengarnya. Mian" ucap Megan.
"Mian? Aahh ya aku ingat. Bukankah itu berarti maaf?" tanya Ella memastikan.
"Ya. Sepertinya kau sudah sedikit hafal kosa kata yang sering ku ucapkan"
Keduanya terkekeh, hingga tak sadar jika didepan mereka ada 3 orang gadis dengan wajah penuh makeup menghadang jalanan koridor.
"Heyy girls. Sepertinya ada yang sedang membicarakan hal menyenangkan" ucap gadis dengan rambut berwarna coklat.
"Emily. Tolonglah, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu"
"Sayangnya aku ingin" Emily berkata sambil memutari tubuh Megan "Apakah pagi ini kau sudah menyanyikan lagu-lagu tak jelas itu?" tanya Emily dengan nada mengejek.
"Sepertinya belum Em. Bagaimana kalau kita minta dia sedikit menyanyikannya untuk kita" sahut teman Emily yang bernama Rose.
"Jangan lupa untuk tariannya" tambah gadis ber nametag Liodra Vanderson.
Sungguh. Jika saja Megan tidak memegangi lengan Ella, dapat dipastikan gadis itu sudah menginjak sepatu mahal milik Emily seperti minggu lalu.
"Girls. Bel sudah hampir berbunyi tapi kalian masih disini?" suara berat tiba-tiba muncul dari belakang punggung Megan. "Emily apa kau berulah lagi?" tanya Mr. Jack.
"Tidak Mr. Aku hanya sekedar menyapa temanku" mata Mr. Jack sedikit memicing "Baiklah, segera masuk kedalam kelas kalian"
🌚
"Baiklah, sekarang katakan padaku. Apa kau semalam tak tidur lagi?" tanya Ella penuh selidik, karena sejak pergantian jam Megan terlihat sering menguap. Belum lagi kantung mata nya yang terlihat jelas menandakan gadis itu kurang tidur.
"Tidak. Aku semalam tidur sesudah menonton beberapa variety show" Megan tak sepenuhnya berbohong bukan.
"Baiklah, kau memang tidur"
Suasana kafetaria seketika berubah riuh penuh pekikan para gadis Northern Secondary School.
"Ah sungguh memuakkan"
"Kau jangan begitu Chal. Bukankah mereka sangat tampan?" ucap Ella tanpa mengalihkan pandangan pada lima lelaki berpostur tinggi yang berjalan beriringan memasuki area kafetaria.
"Apa kau sungguh tak tertarik pada salah satu dari mereka Chal?" tanya Ella tanpa mengalihkan pandangan dari lima lelaki menduduki bangku didepan bar.
"Tak ada yang lebih membuatku tertarik dari pada oppa-oppa ku!" tukas Megan.
Lima lelaki tampan yang di gilai hampir seluruh gadis NSS itu sudah duduk tenang di salah satu bangku tepat di depan meja bar.
"Bukankah wajahku ini sangat tampan sampai-sampai seluruh gadis memperhatikanku?" Leo berucap dengan percaya dirinya.
"Tarik kembali ucapanmu Leo. Mereka berteriak-teriak karena Edward" bantah lelaki lainnya bernama Alvin.
"Benar! Seharusnya kau melihat wajahmu yang menyerupai tiang lampu di CN Tower" tambah Harry.
Seketika itu tawa mereka pecah bersamaan dengan ekspresi kesal Leo.
"Tapi sepertinya, tak semua gadis menyukai Edward" sahut Jovial yang sedari tadi diam.
"Maksutmu?" tanya Arthur yang akhirnya ikut bersuara.
"Lihatlah gadis di samping jendela itu" tunjuk Jo menggunakan dagunya "Dia tetap diam meskipun teman didepannya ikut histeris"
"Oh Megan" ucap Harry santai.
"Kau mengenalnya?" tanya Leo tak santai.
"Calm down dude. Aku hanya tau namanya. Dia salah satu korban Emily"
"Korban?"
"Ya"
"Ed, kau tak ingin memesan makanan?" tanya Jo pada Edward yang hanya memesan segelas cola.
"Tidak" jawab Edward singkat.
"Apa tak lelah jika selalu diam Ed?" tanya Leo yang mendapat tatapan tajam dari Edward.
"Oh c'mon Leo. Sudah berapa kali kau tanyakan hal itu" ucap Arthur jengah.
"Sudahlah. Habiskan makanan kalian sebelum Mr. Jack membunyikan bel sialan itu" Jo menengahi.
Dari mereka ber lima, Jovial lah yang sering menjadi penengah. Lelaki kelahiran Australia itu sungguh sangat dewasa dalam berfikir.
🌚
"Kau ingin ku antar Chal?"
"Oh ayolah Ell, sampai kapan kau memanggilku seperti itu"
"Entahlah. Aku lebih nyaman memanggilmu Challista daripada Megan" ucap Ella sambil terus mengunyah permen karetnya.
"Baiklah. Apa kau ingin ku antar Megan Challista?" Ella kembali bertanya.
"Kurasa kau tau jawabanku"
Belum sempat Megan sampai di pintu kelas, ia dikejutkan dengan Ella yang tiba-tiba memekik.
"What's wrong Ell?" tanya Megan khawatir.
"Lihatlah ketampanan mereka"
"Oh para lelaki itu. Sudahlah aku tak mempunyai ketertarikan pada mereka"
"Ppali Ell" teriak Megan yang sudah mendahului Ella.
"Hah. Kau berkata apa?" Ella yang sudah mensejajarkan langkah dengan Megan pun dibuat bertanya-tanya.
"Ppali. Itu berarti cepat" jelas Megan.
"Aaah ya. Kau sering mengatakan itu saat aku membuatmu menunggu"
"Baiklah. Kita berpisah disini"
"Kau yakin tak ingin ku antar?" tanya Ella untuk memastikan.
"Tak perlu Ell. Pergilah, supirmu sudah menunggu"
"Ya. See you tomorrow"
"See you"