ABOUT YOU

ABOUT YOU
Sibchil



Distillery District nampak ramai sore ini. Cuaca yang agak dingin di pertengahan Desember ini tak membuat orang-orang berdiam diri di rumah.


Sama seperti Megan yang sedang duduk didalam sebuah cafe dengan secangkir caramel macchiato yang masih mengepulkan asap ya. Mata birunya tak terfokus pada sepasang adik kakak yang asik bernyanyi dengan memainkan ukulele. Hingga sebuah tangan besar melingkar di pundaknya.


"Kau sudah datang"


"Maaf membuatmu menunggu"


"Tak apa" ucap Megan tulus dengan senyum manisnya.


"Aku ingin bertanya sesuatu"


Megan mengangguk sesaat setelah meniup caramel macchiato nya "Tanyakan saja"


"Kenapa kau selalu terlihat cantik?"


Pertanyaan itu sukses membuat Megan menghentikan kegiatannya "Berhenti menggodaku Ed"


Edward yang melihat tingkah kekasihnya ini pun merasa gemas, bagaimana bisa ia jatuh hati pada gadis ini dalam waktu yang singkat.


"Apa kau memakai riasan hari ini?"


"Tidak, ada apa?"


"Pipimu merona"


Megan menunduk mendengar itu. Oh ayolah lelakinya selalu bisa membuatnya merona setiap saat.


"Aku akan pulang jika kau terus menggodaku"


"Baiklah, akan ku coba" ucap Edward sembari menahan tawanya.


"Apa kau tidak memesan makanan?" lanjutnya.


"Aku baru saja makan di tempat Bibi Amber tadi. Apa kau lapar?"


"Tidak. Bagaimana jika berkeliling?" tawar Edward.


"Not bad”


Lonceng berbunyi bersama dengan keluarnya Edward dan Megan. Tangan Megan melingkar sempurna pada lengan kiri Edward. Senyum keduanya seakan menunjukkan bahwa mereka adalah pasangan paling bahagia.


Kini langit jingga sudah berganti dengan langit malam dengan beberapa titik bintang yang menampakkan cahayanya.


Edward melihat kesamping bangkunya, tangannya membelai lembut surai coklat gadisnya. Megan sudah tertidur tak lama setelah mereka memutuskan pulang.


"I promise I will do my best sweetheart" ucap Edward pelan lalu mengecup singkat dahi Megan yang terhalang sedikit rambut panjangnya.


🌚


Ella tak hentinya menggerutu sejak ia memasuki lobby NSS. Koridor masih sangat sepi.


"Dion sialan"


Langkah Ella terhenti pada sebuah bangku di halaman belakang NSS.


"Sepertinya ada yang salah mengatur alarm" suara bass dari belakang membuat gadis dengan berlesung pipi itu menoleh.


"Kau"


"Jadi, jam berapa kau mengatur alarm mu?" tanya Harry yang sudah duduk dengan kaki diangkat menumpu kaki lainnya. Rambut coklat undercut menambah kesan maskulin pemuda kelahiran Barcelona ini semakin bertambah.


"Bagaimana ia bisa sangat tampan?" batin Ella.


"Hey. Apa kau melamun?" Harry bertanya sambil mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Ella agar gadis di sampingnya ini tersadar.


"Ah em ya?" mulut Megan tiba-tiba terasa kelu hanya untuk mengeluarkan satu kata.


"Apa yang kau pikirkan? Kau nampak kurang baik"


"Ah tidak. Aku hanya sedang dalam mood yang buruk" elak Megan tak sepenuhnya berbohong.


"What's wrong?"


"Dion menjahiliku hingga membuat aku berangkat sekolah sepagi ini"


Harry nampak menaikkan sebelah alisnya tanda tak paham.


"Ah. Dia sepupuku" ucap Megan seakan paham.


"Ingin berkeliling?" tawar Harry yang mendapat anggukan setuju dari Ella.


Keadaan koridor yang masih sepi membuat Ella dengan bebas berbicara dengan Harry. Jika koridor ramai, sudah dipastikan Ella akan menjadi trending pembicaraan seluruh NSS karena berjalan bersama salah satu most wanted sekolah.


"Keadaanya tak jauh berbeda saat aku terakhir kesini"


"Ini lebih rapi dari sebelumnya kau tau" ucap Harry lalu duduk di sebuah sofa panjang yang terlihat lusuh.


Ella mendekat lalu ikut mendudukkan dirinya di sebelah Harry. Matanya terpejam, membiarkan angin menerbangkan rambutnya. Itu semua tak luput dari pandangan Harry, bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman.


Ella membuka matanya lalu melihat jam tangan kulitnya.


"Lonceng akan berbunyi sebentar lagi" baru saja Ella akan berdiri, tiba-tiba tangan kekar Harry menahan gerakannya hingga membuatnya kembali terduduk.


"Oh God. Sadarkan aku sekarang, bagaimana mungkin seorang most wanted NSS tiba-tiba berjongkok dan mengikat tali sepatuku?" batin Ella dengan tubuh yang menegang.


"Perhatikan sepatumu jika kau tak ingin lututmu terluka"


Megan tak hentinya memandang Ella dengan pandangan bertanya-tanya. Apa yang terjadi pada gadis itu?


"Ell. Apa kau sakit?" tanya Megan kesekian kalinya dan jawaban yang didapatkannya tetap sama. Hanya sebuah gelengan.


Megan menghela nafasnya lelah.


Mrs. Angela baru saja meninggalkan kelas. Beberapa siswa terlihat langsung ikut beranjak dari bangkunya.


Megan yang masih sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dikejutkan dengan Ella yang tiba-tiba menepuk pundaknya.


"Katakan padaku jika ini bukan mimpi Chall"


Bukannya menjawab, Megan malah mencubit pipi Ella hingga membuat si empunya memekik kesakitan.


"See" Megan kembali mengemasi barangnya.


"Oh God" teriak Ella membuat Megan berjingkat kaget.


"Pelankan suaramu Ell" peringat Megan dengan suara lirih. Bahkan seluruh siswa yang masih belum keluar tengah menatap ke arah bangkunya kali ini.


"Aku. Sungguh. Aishhh"


"Ada apa? Tenangkan dirimu dulu"


Ella menarik nafasnya dalam lalu mengehembuskannya pelan.


Megan tak henti-hentinya tertawa saat mengingat alasan dibalik keanehan sahabatnya.


"Oh c'mon Chall. Stop it"


"Why? It's very funny you know" ucap Megan sembari mengaduk milkshake strawberry nya.


"Oh lihat. Itu Harry. Ingin ku panggilkan Ell?"


"I'll kill you" ancam Ella yang malah membuat Megan tertawa.


"Edward" panggil Megan sambil melambaikan tangan ke arah kekasihnya.


"Oh God" lirih Ella.


"Hey. kau sudah makan?" tanya Edward lalu duduk tepat di samping Megan.


"Aku sedang tidak ingin makan. Kalian hanya berdua?"


"Ah, Arthur dan Leo sedang memesan makanan" jelas Harry.


"Jo?"


"Dia ke ruangan Mr. Jack sejak jam kedua" jawab Edward.


"Ahhh. Ell, kenapa kau diam?"


"Ah tidak"


"Apa kau sakit?"


Oh sungguh. Rasanya ingin sekali Ella menenggelamkan sahabatnya ini. Bagaimana mungkin seorang sahabat malah membuat sahabatnya sendiri terpojokkan.


"Aku sepertinya harus ke kamar mandi Chall" ucap Ella terburu-buru lalu berdiri dari duduknya.


"Bukankah kau baru saja ke kamar mandi El?" tanya Megan dengan sedikit berteriak membuat Ella semakin mempercepat langkahnya.


Megan yang melihat itupun kembali tertawa membuat Edward dan Harry heran.


"Ada apa?" tanya Edward.


"Ah tidak" elak Megan lalu kembali meminum milkshake nya.


🌚


"Bagaimana ini bisa terjadi?"


...


"Cepat temukan"


Wajah Mr. Vanderson memerah menandakan amarahnya sudah memuncak. Jari tangannya bergerak dengan lihat di atas keyboard handphone nya.


Setelah menekan send, Ia kembali memasukkan handphone dengan casing berwarna hitam itu ke dalam saku celananya.


Di tempat lain, keadaan Mr. Mark tak jauh berbeda dari sahabat karibnya. Bahkan dasi dengan motif garis-garis itu sudah mengendur.


Tangannya meremas lembaran kertas di meja kerjanya.


"Pasti ada yang salah" monolog Mr. Mark dengan tatapan tajamnya.