
Sepulang sekolah, tiba-tiba saja Tatang, Erwin dan Mbul datang menghampiriku di gerbang sekolah. Aku tidak tahu maksud mereka menghampiriku itu karena apa, tapi ada satu alasan yang kuat kenapa mereka menghampiriku secara keroyokan seperti itu.
“Ris, ngobrol sebentar, yuk? Bisa, kan?” tanya Tatang.
Aku mengangguk. Kami berempat pun langsung menuju arah parkiran sekolah agar bisa berbicara lebih leluasa.
“Ada apa?” tanyaku membuka suara begitu tiba di parkiran.
“Sorry, kalau kita ikut campur masalah lo sama Arfan. Tapi, kita sebagai temannya Arfan gak suka melihat kalian perang dingin seperti ini. Tidak enak di pandang,” kata Erwin memulai pembicaraan.
“Iya, gue tahu.”
“Tadinya, kita nggak mau ambil pusing soal masalah lo sama Arfan. Itu juga urusan kalian, bukan urusan kita. Tapi, kita udah anggap Arfan sebagai saudara kita sendiri. Arfan selalu baik sama kita dan selalu menolong kita tanpa pamrih.
“Kali ini, biarkan kami yang membantu dia. Masalah video dan foto itu, mungkin akar permasalahannya dari Asti sendiri. Karena lo harus tahu, yang menyebarkan video dan foto-foto itu adalah Asti dan juga Sakti,” kata Tatang memberi tahu.
“Apa? Tapi, bagaimana mungkin mereka sendiri yang menyebarkannya?”
“Itu bisa saja terjadi. Mereka ingin membuat Arfan hancur dan Asti bisa membuat Arfan kembali lagi padanya. Gue denger dari Arfan sendiri, kalau yang menyebar luaskan foto dan video itu adalah Sakti dan Asti sendiri. Soalnya, temen satu sekolah Arfan dulu membeberkan semuanya sama Arfan kemarin malam,” sambung Tatang.
“Arfan itu sayang banget sama lo, Ris. Kita nggak pernah melihat Arfan sampai sesayang ini sama satu cewe,” kata Mbul yang tampak serius.
“Kita tahu, Arfan itu memang punya masalah sama lo. Tapi, dia selalu terlihat biasa-biasa aja kalau sedang bersama kita. Walau dia berusaha menutupi permasalahannya dari kita, yang namanya temen pasti bakalan tahu kalau temannya menyembunyikan sesuatu dari kita semua. Semua yang dia tutupi, yang tak terlihat oleh orang lain, bakalan terlihat oleh sahabatnya sendiri.
“Jadi, cepatlah selesaikan masalah lo sama Arfan. Karena yang bisa menyelesaikan semua masalah ini cuma kalian berdua. Dan, jangan pernah mengulur-ngulur waktu dalam menyelesaikan masalah kalian. Karena semakin di ulur, masalah kalian akan semakin banyak dan bertambah runyam.”
Begitu mendengar Erwin mengucapkan kalimat yang begitu panjang itu, kini aku semakin sadar. Arfan itu memang anak yang baik. Orang baik pasti akan mendapatkan teman yang baik juga.
Aku sadar, sahabat-sahabat Arfan yang biasanya selalu membuat gaduh di kantin, membuat kerusuhan di lapangan sekolah, selalu menjahili teman-teman yang lain adalah sahabat yang peduli bila temannya sedang mendapatkan masalah.
Aku bisa merasakan itu saat Mbul di keroyok oleh anak buahnya Sakti. Persahabatan mereka begitu kuat. Meski saling menyindir dan mengejek satu sama lainnya, tapi mereka itu saling peduli. Mereka adalah tipikal teman yang setia kawan. Aku suka melihat persahabatan mereka. Saking pedulinya dengan kisah cinta temannya, mereka datang menghampiriku dan mengajakku berbicara panjang lebar seperti ini.
“Gue pasti akan secepatnya menyelesaikan masalah gue dengan Arfan. Kalian tenang saja, ini tidak akan berlarut-larut, ko. Hanya saja, berikan gue waktu sedikit lagi untuk berfikir lebih realistis. Gue bukannya tidak mau menyelesaikan semua masalah ini dengan cepat, tapi kalian harus tahu kalau perempuan itu butuh dimengerti.
“Gue tahu, foto ciuman itu hanya ada di masa lalu Arfan dan juga Asti. Tapi, kalian juga harus mengerti perasaan gue. Walau gue berkata gue baik-baik saja, hati gue sebenarnya tidak baik-baik saja. Walau itu hanya masa lalu, tapi hati gue tetap sakit.
“Kenapa sakit? Karena gue itu pacarnya Arfan. Gue punya perasaan, makanya gue cemburu melihat foto itu. Jadi, gue mohon kasih gue waktu lagi untuk mencoba menerima masa lalu Arfan. Kalian bisa kan memahami gue?”
Erwin, Tatang dan Mbul saling beradu pandang silih berganti. Mereka bertiga tersenyum padaku. Senyuman yang begitu tulus dari seorang sahabat.
“Iya, kita faham ko, Ris. Thank’s banget lo udah dengerin omongan kita. Kita berharap, lo dan juga Arfan bisa kembali seperti dulu lagi. Soalnya, gue kangen ngebully kalian seperti dulu,” kata Mbul yang membuat kami semua tertawa mendengarnya.
“Makasih yah, terimakasih karena kalian sudah menjadi sahabat terbaik untuk Arfan. Selalu ada untuk Arfan dan selalu membuatnya tertawa. Tanpa kalian, hidup Arfan pasti akan kesepian. Terima kasih sudah mau mengerti sosok Arfan. Dan, terimakasih juga sudah memberitahukan semua hal yang kalian tahu tentang Arfan sama gue.”
“Satu hal lagi. Jangan terlalu membebani Arfan yah, Ris,” kata Tatang memberi tahu.
“Kenapa memangnya?”
“Elo udah tahu cerita soal tante-tante berlipstik merah itu, kan?” tanyanya hingga membuatku menganggukkan kepala.
“Kakaknya sudah pulang ke rumah kemarin. Sekarang, fikirannya Arfan lagi bercabang. Jadi, jangan tambah bebannya lagi,” katanya yang membuatku langsung terdiam dan menundukkan kepala.
“Jadi, kakaknya sudah kembali?”
“Sudah, kemarin malam Arfan nginep di rumah dan cerita banyak sama gue,” jawab Tatang.
“Arfan baik-baik aja, kan?” tanyaku cemas.
“Dia kurang baik, Ris,” tutur Erwin menjawab.
Aku menundukkan kepala kembali. Rasanya, aku menyesal telah menambah beban fikiran Arfan. Aku seperti kekasih yang tidak berguna.
“Gue sedih kalau Arfan seperti ini”
“Arfan pasti lebih sedih lagi kalau dia tahu lo sedih karenanya,” kata Mbul yang membuatku kembali menundukkan kepala. "Ris, gue udah kirim sesuatu di Whatssapp. Baca, yah?"
"Kirim apa?"
"Buka aja. Itu bisa jadi hiburan di kala lo lagi sedih," kata Mbul yang kemudian pergi di susul oleh teman-temannya yang lain.
Begitu mereka semua pergi, ku buka handphoneku dan melihat apa yang sudah Mbul kirim lewat whatssapp. Begitu aku melihat dan membacanya, aku langsung tertawa lebar.
"Mahluk-mahluk yang aneh."