ABOUT YOU

ABOUT YOU
EPILOG



Langit yang cerah terlihat begitu indah. Seorang pria separuh baya tampak sedang saling bergandengan tangan dengan seorang gadis yang sedang di landa kasmaran. Dengan membawa sebuket bunga mawar putih, pria separuh baya itu menatap begitu lama sebuah pusaran batu yang bertuliskan nama Andia Resmi dengan begitu indah.


“Sayang, maafkan aku yang sudah lama tidak mengunjungimu.”


“Iya bunda, ayah sekarang terlalu sibuk dengan segudang pekerjaannya. Jadinya ayah jarang ke sini, deh. Meluangkan waktunya untuk Risa aja udah jarang banget, Bun. Maaffin ayah yang nakal ya, bunda,” tutur gadis ABG yang memakai seragam SMA itu mengadu.


“Risa, ayah kan sibuk mencari uang untuk masa depanmu,” katanya sambil menatap wajah anak semata wayangnya itu.


“Iya, Risa tahu. Ayah kan, ayahnya Risa yang paling kece, suaminya bunda yang paling ganteng dan pria keren yang digandrungi perempuan-perempuan di luar sana.”


“Percuma saja ayah digandrungi perempuan-perempuan di luar sana kalau tidak bisa membuat anak ayah yang satu ini berhenti ngomel-ngomel minta dibelikan handphone baru. Bunda, anakmu nih, dia bawel banget minta dibelikan handphone baru.”


“Ayah!! Ko, bilang-bilang sama bunda, sih?” teriaknya manyun.


“Sudah sana, ayah mau pacaran dulu sama bundamu. Kasih waktu ayah berduaan dengan bundamu, yah?”


Karisa mengangguk kemudian pergi. Ia sengaja memberikan waktu untuk ayahnya yang ingin berduaan dan melepas rindu dengan istrinya tercinta.


“Sayang, aku sangat merindukanmu. Kamu tahu, sehari saja tanpa memikirkanmu, hatiku terasa sakit dan pedih. Sayang, anak kita sekarang sudah beranjak dewasa. Dia sudah mempunyai teman specialnya, setiap malam dia selalu menceritakan teman specialnya itu padaku. Tapi, aku juga bangga padamu dan juga anak kita.


“Anak kita tumbuh menjadi gadis yang kuat, gadis yang pintar dan juga cantik. Dia semakin mirip denganmu, aku seperti melihat bayanganmu di dalam diri Risa. Sayang, kamu baik-baik di sana, yah? Berikan aku kekuatan agar pekerjaanku tetap lancar. Berikan Risa kekuatan juga, semoga tahun depan anakmu itu lulus sekolah dengan nilai yang bagus. Do’a ku selalu menyertaimu. Sayang, I love you.”


Tak terasa, butiran air mata pria separuh baya itu keluar juga dari pelupuk matanya. Risa yang sempat melihat dari kejauhan ayahnya menangis, ikut menitikkan air matanya juga.


Arfan, pria berseragam putih abu-abu yang kebetulan berdiri di samping Risa langsung merangkul kekasihnya seraya memegang lembut kepala gadis yang paling ia sayangi itu.


“Sekarang giliran kalian. Ayah sudah selesai.”


Risa dan Arfan mengangguk. Mereka berdua langsung melangkahkan kaki mereka menuju kuburan ibunda Risa. Arfan dan Risa tampak memejamkan mata mereka sejenak seraya memanjatkan doa, berdoa untuk orang yang paling mereka hormati dan juga sayangi.


“Assalamualaikum, Tante Andia. Saya Arfan, teman specialnya Risa. Mungkin kita tidak pernah bertemu. Tapi, saya sangat mengagumi tante Andia seperti yang diceritakan Om Arya.


"Mendengar cerita tante dari Om Arya saja, saya sudah merasa dekat sekali dengan tante. Sekarang, tante tenang saja, di sini sudah ada dua laki-laki yang akan menjaga dan menyayangi anak perempuan tante dengan setulus hati.”


Mendengar penuturan Arfan, Risa kembali menitikkan air matanya. Ia begitu terharu dan juga begitu bangga memiliki kekasih seperti Arfan. Walau usianya belum genap 17 tahun, tapi Arfan tampak terlihat dewasa. Walau kata-katanya sederhana, tapi itu sangatlah bermakna.


“Bunda, Risa kangen sama bunda. Bunda, boleh kan ayah mendapatkan pengganti bunda? Bunda setuju sama Risa, kan? Bunda nggak marah, kan? Risa ingin melihat ayah juga bahagia dengan pasangannya. Walau ayah nanti mempunyai istri baru, tapi Risa yakin di hatinya ayah akan selalu ada bunda. Karena Risa tahu, ayah sangat mencintai bunda.


“Bunda, Risa pulang dulu, yah? Risa mau kencan dulu sama Arfan,” katanya sambil tersenyum malu-malu. “Bunda setuju kan Risa sama Arfan? Bunda suka kan sama Arfan?” tanyanya dengan suara yang sangatlah pelan.


“Elo ngomong apa, Ris?” tanya Arfan penasaran.


“Nggak, ko. Ya udah, kita pulang dulu ya, Bun. Assalamualaikum.”


Setelah cukup puas bertemu dengan ibunda tercinta, Risa berpamitan kepada ayahnya kalau dirinya mau pergi jalan-jalan dengan Arfan. Setelah mendapatkan ijin dari ayahnya, Risa pun langsung menghampiri Arfan yang tengah menunggunya.


“Nih,” katanya Arfan sambil memberikan helm bergambar Hello Kitty kepada Risa.


“Mau ke mana kita?”


“Ke mana, yah? Elo mau nya ke mana?”


“Ke mana aja yang penting ada kamu.” Risa tersenyum malu-malu.


“Kenapa? Nggak suka aku panggil kamu?”


“Bukan begitu, suka aja, sih. Berasa kaya pacaran beneran,” katanya sambil tertawa.


“Emangnya selama ini kita nggak pacaran?”


“Pacaranlah. Kamu kan, pacarnya Arfan,” tutur Arfan yang mengikuti gaya obrolan Risa dengan memanggil kamu.


Risa tersenyum merekah. Mereka pun langsung bergegas pergi dan menikmati suasana Bandung sore hari di atas motor.


“Risa, kamu tahu nggak?”


“Apa?”


“Aku suka sama kamu,” katanya malu-malu.


“Tanpa kamu bilang juga aku udah tahu ko, Fan. Kan, Arfan pacarnya Risa,” katanya malu-malu yang mengikuti kalimat Arfan.


“Jangan pernah lepasin tangan aku yah, Ris?” kata Arfan sambil menarik tangan Risa pelan dan melingkarkannya ke dalam perutnya.


“Iya, nggak akan pernah aku lepasin,” jawabnya yang semakin mempererat pelukannya.


“Sayang kamu, Risa!” teriak Arfan sambil mengemudikan motornya.


“Sayang kamu juga, Arfan!” balas Risa berteriak sambil merentangkan kedua tangannya.


Risa dan Arfan menghabiskan sore ini bersama-sama. Mengelilingi Alun-Alun dan jalan bersama sambil bergandengan tangan di sekitar jalan Braga seperti 2 bulan yang lalu.


Tiba-tiba saja, hujan turun begitu derasnya. Suasana jalanan Braga pun mulai riuh oleh gemericik air hujan yang membasahi jalanan.


"Yah, hujan!" seru Risa tampak kecewa.


"Hujan tidak akan menghalangi kencan kita, Ris. Ayo?" katanya sambil mengulurkan tangannya.


Risa meraih tangan Arfan kemudian tersenyum lebar. Mereka berdua pun berlari-lari kecil sambil tersenyum riang di tengah hujan yang membasahi seluruh pakaian mereka.


"Kalau ada Mbul, gakkan cukup dia berteduh dari air hujan di jaket seperti kita berdua ini, Ris."


"Kenapa harus Mbul sih, Fan?"


"Karena dia benci hujan dan nggak suka berlarian seperti ini. Karena seluruh badannya pasti nantinya akan bergetar."


Mendengar celoteh Arfan tentang Mbul, Risa tertawa lebar. Risa dan Arfan kembali saling beradu pandang dan saling melempar senyum begitu hangat.


"Makasih yah sudah mau menjadi kekasihku, Fan."


Arfan tersenyum lebar. Ia merangkul Risa dan memperdekat jaraknya dengan kekasihnya itu. Kemudian, mereka kembali berlari di tengah derasnya hujan dengan jaket Arfan yang ia gunakan sebagai payung untuknya juga Risa, kekasihnya.


Akankah kisah Arfan dan Risa berakhir seperti ini? Nantikan kelanjutan keromantisan, kesederhanaan dan kekonyolannya mereka yah 😊