
Suara riuh tepuk tangan menggema ke seluruh penjuru ballroom hotel bersamaan dengan turunnya Edward dari podium setelah memberikan sedikit sambutan. Wajah penuh karisma yang sedari tadi menarik perhatian seorang Megan Challista Vanderson itu perlahan mendekat, senyum simpul yang mampu membuat Megan semakin jatuh dalam pesonanya. Sungguh, bahkan Megan tak pernah berpikir akan menjadi kekasih anak dari keluarga billionaire.
"Apa aku begitu tampan sampai membuatmu tak mengedipkan matamu nona Vanderson?" tanya Edward yang membuat Megan tersadar dari lamunannya. Sudah dapat dipastikan sekarang wajahnya terlihat semerah kepiting rebus karena tertangkap memandang pemuda tampan di depannya ini.
"Tidak. Jangan sok tau" elak Megan berusaha menutupi rasa malunya.
"Baiklah. Aku akan percaya padamu nona" senyum jahil nampak pada wajah Edward.
"Aku tidak melihat teman-temanmu. Apa mereka tidak datang?" tanya Megan saat menyadari ia sama sekali tak melihat ke empat teman Edward.
"Mereka datang"
"Benarkah? Tapi aku tak melihat salah satu dari mereka" mata Megan menelisik setiap sudut ballroom.
"Mereka ada di dalam, tidak berniat untuk keluar"
Megan terdengar berdecih "Mereka melewatkan acara pentingmu"
Bibir Edward terangkat membentuk sebuah senyuman. Oh gadisnya sungguh sangat polos. "Mereka melihatnya sweetheart" ucap Edward lalu membelai pelan pipi gadisnya.
"Kau membuatku malu Ed" lirih Megan membuat alis Edward bertaut lalu sesaat bibirnya membulat.
"Kau malu mempunya kekasih sepertiku?" tanya Edward dengan nada yang dibuat kecewa.
"Bukan. Ah kau selalu menggodaku"
"Baiklah. Baiklah. Sebaiknya kita harus mencicipi beberapa makanan"
"Ya. Aku sudah sangat lapar"
Di balik sebuah pilar tinggi seorang gadis tengah tersenyum sinis memperhatikan kemesraan sepasang kekasih.
"Did you see them?"
"Ya, tentu. Aku tak menyangka Edward akan memiliki seorang kekasih"
Emily memutar bola matanya "Kau tau kan jika aku sangat menyukai Edward"
"Tentu saja. Kau menyukainya sejak aku berkencan dengan Jo"
"Oh c'mon Georgia, kau harus melupakannya atau Arthur akan memindahkanmu lagi" peringat Emily membuat gadis berlesung pipi itu menunduk.
"Aku ingin pulang" ucap Georgia lemah.
"What's wrong? Kau merasa sakit lagi?" wajah Emily berubah khawatir.
"Kau bilang Jo juga disini. Apa kau mau aku tiba-tiba menangis dan membuatmu malu?" suara Georgia terdengar bergetar menandakan gadis ini akan menangis.
"Baiklah. Ayo ku antar"
Kepergian dua gadis itu tak luput dari tatapan tajam Arthur dan Jovial yang sedari tadi memantau mereka lewat kamera pengawas.
Mata Jovial kembali memerah, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh. Arthur menatap iba sahabatnya yang sama sekali tak pernah menampakkan sisi lemahnya di depan orang lain.
"Jo, hear me" Arthur menjeda kalimatnya "Aku berjanji akan membantumu menemukan pelaku penculikan Georgia dan membuat ini semua kembali benar"
Kepala Jovial terangkat menatap Arthur yang duduk di sebelahnya.
"Thanks bro"
🌚
Arthur menatap tajam kedua adik perempuannya. Rahangnya mengeras menandakan pemuda ini sedang menahan amarah.
"Want to explain something beauty?" tatapannya mengarah pada Georgia yang menunduk ketakutan.
"Aku akan menjela.."
"Em" peringat Arthur membuat Emily kembali menutup mulutnya.
"Aku memaksa untuk ikut" Georgia bersuara pelan.
"Agar dapat bertemu Jovial? Begitu?"
Arthur menghembuskan nafasnya kasar "Beristirahatlah" ucap pemuda itu lalu meninggalkan kedua adiknya yang masih duduk diam di sofa ruang tamu.
"Aku yakin, kakak akan mengerti keadaanmu" Emily menepuk pelan punggung saudarinya.
"Ayo ku antar ke kamar" lanjutnya menuntun Georgia dengan hati-hati.
Setelah mengantar Georgia ke ke kamar, Emily segera menuju kamar yang terletak tak jauh dari kamar Georgia.
Dengan ragu tangannya mengetuk beberapa kali pintu berwarna hitam itu.
Pemandangan seorang pemuda yang tengah berbaring dengan mata tertutup di sebuah sofa panjang menyambut Emily saat memasuki kamar saudaranya.
"Ada apa Em? Apa kau tak tidur?"
"Aku akan tidur setelah ini" ucap Emily lalu duduk di sebelah Arthur yang masih memejamkan mata.
"Kak. Apa tidak sebaiknya kita mencari tau siapa pelaku sebenarnya? Aku yakin Jovial juga merasakan ketidak nyamanan. Bahkan kau tau bahwa Jo sangat menyayangi Georgia"
"I know that Em. Tapi ada banyak hal yang membuatku masih belum bisa menerima Jo"
Emily menatap sendu kakaknya. Ia sebenarnya tak tega melihat keadaan kakaknya seperti ini. Seorang pemuda yang sangat penyayang tiba-tiba berubah menjadi seorang monster yang menakutkan.
"Beristirahatlah. Aku menyayangimu" ucap Emily lalu beranjak pergi.
"Me too" balas Arthur pelan.
Sebenarnya ia benar-benar tidak ingin terlihat lemah didepan kedua adik perempuannya. Perempuan yang sangat ia lindungi dan sangat ia sayangi melebihi siapapun.
🌚
Cahaya matahari pagi menjadi penanda mulainya hari baru. Kicauan burung yang terbang bebas di langit Kota Toronto membuat Megan semakin mengembangkan senyumnya.
Dia sudah kembali dari rumah Edward setelah pesta selesai. Awalnya Mrs. Rosie tak mengizinkannya untuk kembali dengan alasan masih ingin bersama Megan, namun dengan halus Megan menolaknya karena sang ibu sudah kembali setelah menemani ayahnya kemarin.
Jam digital berwarna baby pink miliknya menunjukkan pukul 7.00. Setelah merasa cukup dengan penampilannya, Megan segera turun ke lantai bawah.
"Morning sweety" sapa Margareth.
"Morning too mom. Apa Chelin dan daddy sudah pergi?" tanya Megan yang tak melihat ayah dan adik satu-satunya itu.
"Daddymu belum kembali dari perjalanan bisnisnya"
"Daddy tidak kembali bersamamu?"
"Semalam sebelum pesta selesai, Daddymu menerima telepon dari Paris. Katanya ada yang perlu diselesaikan"
"Oh. Aku sangat merindukannya"
"Sudahlah. Cepat makan sarapanmu sebelum Edward datang"
Tak sampai 10 detik, suara klakson mobil terdengar.
"Apa mom bilang, sudah bergegaslah. Bawa ini dan jangan lupa untuk memakannya" peringat ibunya sambil menyerahkan paper bag berisi kotak makan.
Seorang pemuda tengah bersandar pada pintu sebuah mobil dengan memainkan handphone nya.
Untuk kesekian kalinya Megan dibuat terpana dengan pesona kekasihnya.
"Sudah siap?"
"Eh em ah ya sudah" Edward mendekat membuat Megan menahan nafasnya.
"Apa kau sakit?"
"Tidak. Kenapa?"
"Wajahmu memerah"
Mendengar itu membuat Megan memukul pelan lengan Edward.
"Berhenti menjahiliku Ed" kesal Megan membuat Edward tertawa.
"Baiklah baiklah. Ayo kita pergi" ucap Edward lalu membukakan pintu mobil untuk Megan yang masih kesal.
Di dalam mobil Megan masih enggan melihat ke arah Edward membuat pemuda itu kembali tersenyum. Ia suka membuat gadisnya kesal, wajah cantik itu akan terlihat berlipat ganda.
Tangan panjang Edward terulur membelai lembut rambut Megan dengan tulus.
Hal itu membuat Megan sedikit terkejut tapi berusaha menutupinya.
"Berhenti kesal kepadaku atau aku akan semakin menyayangimu" perkataan Edward membuat Megan tersenyum.
"Berhenti membuatku malu Ed"
Tawa Edward pecah melihat ekspresi Megan yang sangat lucu menurutnya.
Hingga akhirnya mobil Edward memasuki area NSS. Banyak siswa menatap kagum ke arah mobil mewah berwarna hitam itu, sampai seorang pemuda keluar lalu berlari membukakan pintu sampingnya membuat kekaguman siswa NSS bertambah.
"Kalian terlihat sangat bahagia"