
Hiasan bunga mawar putih dengan beberapa aksen gold yang membuat ballroom hotel Luna Vista yang terletak di pusat kota Toronto ini nampak lebih mewah.
Cocktail Winston sudah tertuang rapi di dalam gelas yang dijajarkan di atas meja bundar dengan beberapa kue kecil sebagai tambahannya.
Karpet merah panjang menyambut kedatangan para tamu undangan. Mr Mark nampak gagah dengan senyum yang selalu mengembang, tak lupa Mrs. Rosie yang tampak anggun dengan balutan dress panjang berwarna gold.
Disisi lain, Arthur terlihat sedang fokus mengamati monitor-monitor yang sudah terhubung dengan beberapa kamera tersembunyi. Sebuah earpiece sudah terpasang di telinga kanannya sejak tadi. Disampingnya terdapat Leo yang tengah menikmati keripik kentang dengan tenang.
"Apa Mr. Alex sudah terlihat?" tanya Leo tanpa menghentikan kunyahannya.
"Belum"
"Ah ini membosankan. Aku akan keluar untuk mengambil minuman"
"I'll kill you. Kita tidak boleh menampakkan diri" ucap Arthur tajam.
"Oh aku hanya haus"
"Lihat dibawah meja"
"Memangnya apa yang kudapatkan dari sebuah kotak" gerutu Leo setelah melihat benda yang dimaksud.
"Whoaa. Ini kulkas. Oh kau sungguh sudah menyiapkan ini semua dengan baik Arthur" ucapnya dengan mata berbinar.
"Siapa dia?" monolog Arthur saat matanya menangkap sebuah objek yang cukup mengganggunya di layar monitor.
"Yang mana?" Arthur menunjuk seseorang yang baru saja memasuki kamar mandi.
"Bukankah itu Georgia, dia teman kita. Apa kau melupa.." ucapan Leo terhenti saat tersadar akan sesuatu yang membuatnya menyemburkan minuman yang hampir ditelan.
"Bukankah dia sudah ma.." tanya Leo dengan suara rendah.
"Cepat kejar dia!" ucap Arthur membuat Leo bergegas keluar ruangan.
"Cek. Arthur disini. Kita harus bergerak"
"Ada apa? Aku belum melihat Mr. Alex masuk" Edward menyahut.
"Ada Georgia"
"Oh c'mon Arthur jaga bicaramu" kini giliran Harry yang menjawab.
"Kamar mandi wanita. Leo sedang mengejarnya"
Mendengar itu, Jovial langsung berlari secepat mungkin tanpa melihat sekitarnya hingga terkadang tak sengaja menabrak bahu beberapa orang.
Edward yang melihat Jovial seperti itu pun segera menyusul.
"Ini yang aku takutkan" batin Edward.
Ia lega saat melihat Leo sedang menahan Jovial yang sudah memaksa masuk ke dalam kamar mandi wanita.
"Hey calm down" Edward menarik kasar lengan Jovial. Rahang pemuda itu nampak mengeras, wajahnya merah padam menunjukkan amarah yang sudah memuncak.
"Let me go" Jovial berkata pelan namun tajam. Mata nya memerah menahan sesuatu.
"Kita akan pastikan siapa dia. Bisa saja Arthur salah lihat. Control yourself" ucap Edward setenang mungkin, mencoba menahan emosi dengan diri lain Jovial yang kembali muncul.
"Terus awasi dia" lanjutnya berkata pada Leo.
Edward membawa Jovial kedalam ruang kendali.
"Kau mengecewakanku Jo" ucap Arthur tak percaya pada Jovial yang terlihat masih menahan amarah.
Seorang berbalut dress hitam panjang dengan belahan tinggi yang membuatnya terlihat lebih dewasa. Lipstik merahnya terlihat sangat sensual.
Leo menggeleng melihat gadis itu melewatinya.
"Dia berubah" gumamnya.
Dengan meminimalkan suara langkahnya, Leo terus mengikuti gadis di depannya.
Gadis itu melangkahkan kakinya pada sebuah ruangan.
"Arthur, segera sadap suaranya"
"Hello sister. Long time no see" Arthur, Edward dan Jovial dibuat tak percaya dengan apa yang dilihat mereka pada layar monitor.
"Impossible" seru Jovial lalu bangkit dari duduknya.
"Tahan dirimu Jo. Kita lihat dulu" tangan Edward menampilkan otot-otot panjangnya.
"Dia Georgia Ed. Really my Georgia" air mata Jovial meluncur dengan bebasnya melihat gadisnya.
Flashback on
*My Jo
Aku sampai dalam 15 menit.
Ujung bibir Georgia terangkat membentuk sebuah senyum. Ia kembali mematut dirinya pada cermin full body. Gadis itu sudah siap dengan dress selutut berwarna peach yang cocok dengan warna kulitnya.
Hari ini 15 Mei 2015 tepat 2 tahun ia menjalin hubungan dengan Jovial, kakak kelas yang berhasil membuatnya jatuh cinta.
"You look so beautiful. Ada acara?"
"Ya mom. Hari ini tepat 2 tahun"
"Ahh ya ya mom tau. Apa Jovial sudah sampai?"
Tiin!!
"Baiklah. Berhati-hatilah. Have fun beauty"
Tapi apa yang dilihat Georgia bukanlah kekasihnya, melainkan orang lain.
"Tuan Jovial menyuruhku menjemputmu nona"
"Benarkah? Ah pasti dia akan memberiku kejutan" dengan senyum mengembang, Georgia memasuki mobil itu.
Tak lama setelah mobil itu pergi, sebuah Rolls hitam berhenti tepat di depan gerbang rumah berlantai tiga tersebut.
"Jo?"
"Aunty, apakah Georgia sudah siap?"
"Apa yang kau katakan. Georgia baru saja pergi, dia bilang ini tepat 2 tahun hubungan kalian"
"Shit" umpat Jovial pelan.
"Jangan katakan jika. Oh no"
"Aunty tenang dulu. Aku akan mencarinya"
Jovial melajukan mobil nya dengan kecepatan penuh. Umpatan demi umpatan keluar bergantian dari mulut pemuda itu.
"What the hell! Kenapa macet!" seru Jovial saat lalu lintas di depannya terhambat.
"What's wrong?" tanya Jovial pada seorang petugas kepolisian yang melewatinya.
"Ada kecelakaan"
Deg!
"Tidak mungkin" Jovial keluar dari mobil berniat memastikan bahwa pikirannya salah.
Tapi nihil. Bagai disambar petir di cuaca panas, seorang gadis tergeletak disamping mobil yang sudah hancur dengan bersimbah darah.
"Georgia"
"No no. Open your eyes beauty"
Suara sirine membelah jalanan kota membuat semua mobil menyingkir memberi jalan.
Wajah khawatir, cemas, marah menjadi satu saat keluarga Georgia menunggu di depan ruang operasi.
"Jo. Pulanglah, kau perlu beristirahat"
"Tidak aunty. Aku akan menunggu sampai Georgia sadar"
"Jangan paksakan dirimu. Aku akan selalu memberitahu kabar tentangnya"
"Baiklah. Aku akan kembali besok" ucap Jovial lesu lalu berjalan gontai meninggalkan rumah sakit.
Sudah 2 hari Jovial mengurung diri, membuat seluruh orang terdekatnya khawatir. Pemuda itu terus menyalahkan dirinya atas kecelakaan gadisnya. Tangannya dengan bebas melempar semua barang yang ada di dekatnya, hingga sebuah panggilan menghentikan gerakan brutalnya.
Aunty Jane is calling...
"Hall.."
"Jo.." aunty Jane terdengar terisak.
"Apa yang terjadi aunty?"
"Georgia.. dia.. sudah pergi*"
Flashback off
Sebuah panggilan mengalihkan pandangan Edward.
Meganš¤ is calling...
"Hallo"
"Kau dimana? Acaranya sudah dimulai"
"Aku akan segera kesana"
Pip
"Aku akan ke depan. Jo, tetap kendalikan dirimu. Aku akan segera kembali"
Langkah panjang Edward memasuki ballroom, berjalan di atas karpet merah dengan wajah dinginnya.
Seluruh mata menatap kagum padanya, tak terkecuali Megan. Sedari tadi matanya tak berkedip melihat ketampanan kekasihnya.
"Oh Megan, selama ini kau berada satu sekolah dengan pemuda setampan itu. Tapi kau baru menyadarinya. Your so stupid" batin Megan berseru hingga sebuah senggolan menyadarkannya.
"Dia sangat tampan kan?"
"Ah mommy. Apa yang kau katakan" ucap Megan menunduk malu.
"Kau tak salah memilih kekasih sweety"
"Oh c'mon mom, jangan menggodaku"
"Why? Apa kau takut blush-on di pipimu tiba-tiba bertambah?"
"Mom, enough"