
Megan berjalan ringan di trotoar MT Pleasant Rd yang cukup ramai sore ini. Angin menyejukkan yang berasal dari pepohonan cukup menghilangkan penat.
Mata biru milik Megan menangkap seorang wanita tua yang sepertinya kesusahan untuk menyebrang jalan. Tanpa ragu, Megan pun menghampiri wanita itu lalu membantunya menyeberang.
"Terimakasih gadis baik" ucap wanita tua itu dengan suara renta nya.
"Tidak masalah. Apa kau sendirian?"
"Ya. Aku ingin pulang, tapi aku lupa jalan ke rumah"
"Mengapa tak mengajak orang? Apa kau ingat alamat rumahmu?"
"Aku mengingatnya"
"Baiklah. Akan ku antar"
"Sungguh?"
"Tentu nenek. Aku tak akan tega membiarkanmu pulang sendirian" ucap Megan tak lupa dengan gummy smile nya.
"Terimakasih gadis baik"
"Kau cukup memanggilku Megan. Baiklah, taksinya sudah datang"
Selama di perjalanan Nenek Lusi berbicara banyak tentang keluarganya, terutama cucu laki-laki yang sangat ia cintai.
"Sungguh? Itu sangat menggelikan nek" Meghan memegangi perutnya karena cerita konyol cucu Nenek Lusi.
"Kita sudah sampai" ucap Nenek Lusi menghentikan tawa Meghan.
Sebuah rumah megah dengan halaman yang sangat luas mampu membuat Megan tak berkedip.
"Masuklah untuk beristirahat" ucap Nenek Lusi membuyarkan lamunan Megan.
"Ah iya"
Sungguh, Megan tak tau harus berkata apa. Halaman rumah ini bahkan 2 kali lipat luas rumahnya.
Seorang housemaid datang menghampiri Nenek Lusi dengan raut khawatir nya.
"Nyonya. Kau sungguh membuatku khawatir"
"Kau berlebihan Anna. Aku hanya berjalan-jalan sebentar tadi"
Pandangan housmaid itu beralih pada Megan yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya.
"Ah iya. Dia Megan, gadis baik yang membantuku pulang"
"Ahh baiklah, mari nona"
"Cukup panggil aku Megan" ucap Megan sopan.
Pilar-pilar tinggi menyambut Megan saat memasuki rumah megah tersebut. Megan mengikuti Nenek Lusi yang duduk di sebuah sofa berwarna putih.
"Duduklah "
"Dimana semua orang?" tanya Megan sembari memperhatikan seluruh sudut ruangan yang sangat sepi.
"Cucuku mungkin belum kembali. Anak-anakku masih bekerja di jam seperti ini"
Tak lama, seorang pemuda berperawakan tinggi, memasuki rumah dengan jaket kulit yang masih melekat di badan.
"Ed. Kau sudah datang"
"Ya, baru saja" pandangan Edward mengarah ke seorang gadis yang berseragam sama dengannya.
"Ini Megan, gadis yang membantu nenek pulang"
"Pulang? Apakah nenek keluar lagi?
"Hanya sekedar berjalan-jalan"
"Oh ayolah nek"
"Baiklah, aku tak akan mengulanginya lagi. Seragam kalian nampaknya serupa. Megan, kau tentu mengenalnya bukan? "
"Emm sebenarnya aku tak mengenalnya"
"Benarkah? Kau tak sepopuler yang ku bayangkan Ed" ucap Nenek Lusi dengan tawanya.
"Aku ke kamar" ucap Edward lalu pergi meninggalkan Megan dan neneknya.
Megan melihat jam tangan digital nya. "Aishh. Aku belum memberi kabar mommy"
"Emm nenek. Aku akan pulang"
"Secepat itu?"
"Ya. Aku takut ibu mencariku"
"Biarkan Edward mengantarmu"
"Ah tak perlu. Aku bisa memesan taksi" tolak Megan halus.
"Big no girl. Kalau kau tak mau diantar Edward, biarkan supir yang mengantarmu"
"Baiklah" ucap Megan lirih.
🌚
"Sampaikan terimakasih ku pada nenek Lusi"
Range Rover sport silver itu melaju meninggalkan pekarangan rumah Megan.
"Ah sorry mom. Aku lupa mengirim kabar. Aku ada keperluan sebentar tadi"
"Baiklah. Cepat ganti baju, dan turun untuk makan malam"
"Ay yay capten" ucap Megan lalu menuju kamarnya.
Megan terduduk di balkon kamarnya, ia baru saja makan malam bersama ibu dan adiknya. Lagu K-Pop menemaninya merenung malam ini. Matanya mulai berkaca-kaca saat membaca rentetan komentar pedas postingannya tentang idol Korea.
"Apakah sebuah dosa besar jika aku mengagumi mereka?" air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya meluncur bebas pada pipi kanannya.
"Sweety. Diluar dingin, masuklah" suara Margareth membuatnya segera menghapus air matanya.
"Sebentar lagi aku akan masuk mom"
"Baiklah. Jangan tidur terlalu malam"
Bersama dengan suara pintu di tutup, Megan beranjak dan naik ke tempat tidur.
Keesokan harinya, seperti biasa Megan berangkat dengan berjalan kaki menuju sekolahnya. Air akibat hujan semalam pun masih menggenang di pinggiran jalan.
"Yaa! Sekya" umpat Megan dalam bahas Korea saat sebuah motor sport melaju melewati genangan air yang mengakibatkan airnya mengenai seragam Megan.
"Aishh bajuku. Aku akan terlambat jika harus kembali ke rumah"
Akhirnya, Megan pun tetap melanjutkan perjalanannya meskipun keadaan seragam yang mungkin akan menyusahkannya. Apalagi jam pertama nanti adalah kelas sastra.
"Menyebalkan" entah sudah berapa kali Megan mengumpat.
"Astaga Chal. Ada yang terjadi dengan seragammu?" tanya Ella saat Megan muncul dengan seragam penuh noda.
"Akan ku ceritakan nanti. Sekarang antar aku mengganti ini"
Baru saja Megan membuka pintu kelasnya, ia langsung disambut dengan teriakan histeris gadis-gadis diluar kelasnya.
"Megan?" ucap seorang lelaki memastikan.
"Ya?"
"Ini untukmu, Edward tak sengaja membuat seragammu kotor" Harry berkata sambil memberikan seragam yang masih terbungkus plastik.
"Edward?" tanya Megan dengan alis bertaut.
"Ya. Maaf aku harus segera pergi. Aku ada kelas" ucap Harry lalu berlari meninggalkan kerumunan.
Mendengar itu, Megan pun tersadar dan langsung bergegas ke kamar mandi untuk mengganti seragamnya.
🌚
"Ceritakan padaku Chal!" ucap Ella yang membuat Megan mendengus. Pasalnya sedari tadi Ella tak henti-hentinya bertanya tentang apa yang terjadi pagi tadi.
"Baiklah. Tak ada yang terjadi antara aku dan Edward"
"Tapi mengapa dia memberimu seragam?"
"Menurutku, dialah yang mencipratkan air hingga mengenai seragam ku"
"Oooh. Kau sungguh beruntung Chal" perkataan Ella mulai melembut.
"Beruntung kau bilang? Aku hampir saja terkena amukan Mrs. Pricilla karenanya"
"Kau memang tak mengerti perempuan"
"Maksudmu aku bukan perempuan?" Megan benar-benar geram dengan Ella kali ini, "Sudahlah" putus Megan meninggalkan meja kafetaria.
"Hey! Mau kemana kau?" teriak Ella sia-sia.
Koridor kelas seni cukup sepi hari ini. Tak banyak siswa lewat membuat Megan bisa sedikit mengeluarkan kekesalannya.
"Kau sungguh beruntung" ucap Megan dengan gaya yang dibuat-buat menirukan perkataan Ella.
Langkah Megan terhenti saat sudah sampai di lapangan basket indoor yang sepi. Ia mendudukkan bokongnya pada kursi penonton. Ia membuka handphone, lalu mulai men scroll berita-berita terbaru tentang idol K-Pop nya.
"Arrghh" pekikan kuat menghentikan aktivitas Megan. Dilihatnya seorang pemuda sedang memegangi kakinya.
"Kau tak apa?" tanya Megan saat sudah sampai dihadapan pemuda tersebut. Dilihatnya pergelangan kaki yang memerah menandakan kaki pemuda ini terkilir.
"Luruskan kakimu" pinta Megan sambil memegang kaki pemuda tersebut. Tapi pemuda tersebut malah menepis tangan Megan yang membuat dahi Megan mengerut,
"Aku tak butuh bantuanmu" ucap pemuda itu singkat lalu meninggalkan Megan. Namun belum sempat badan pemuda itu berdiri tegak, ia sudah kembali terjatuh.
"Arrghh sial"
"Sudah ku bilang, luruskan kakimu. Aku tak punya niat macam-macam. Sungguh" ucap Megan sambil mengangkat dua jarinya.
Pemuda itupun akhirnya menurut. Dengan telaten, Megan memijat dengan sedikit tekanan yang membuat pemuda itu sedikit kesakitan.
"Kau terkilir. Ingin ku antar ke ruang perawatan?" tawar Megan. Tak mungkin pemuda ini bisa berjalan sendiri dengan keadaan kaki seperti ini.
"Tak perlu" ucap pemuda itu tanpa menatap Megan.
"Ed! Apa yang terjadi?". Tiba-tiba seorang pemuda lari menghampiri keduanya dengan nafas tersengal-sengal.
"Ah kau temannya? Kaki nya terkilir. Tadi sudah ku berikan pijatan kecil pada pergelangan nya. Mungkin hanya butuh istirahat" ucap Megan lalu berdiri sambil menepuk-nepuk belakang roknya yang terkena debu, "Kalau begitu aku pergi".
Jovial menatap punggung Megan yang mulai berjalan menjauh.
"Bukankah itu Megan?"
"Jo" ucap Edward pelan namun tajam.
"Ah ya" Jovial pun membantu membopong Edward menuju ruang kesehatan NSS.