
Baru saja gue mendengar pengakuan cinta Karisa beberapa jam yang lalu. Kini, masalah lain timbul begitu saja dan membuat hubungan gue dengan Karisa menjadi sedikit kacau.
Sebenarnya, ingin rasanya gue menghajar orang yang sudah menyebar luaskan foto-foto pribadi gue di masa lalu. Tapi, gue nggak bisa. Gue nggak tahu siapa pelaku sebenarnya yang ingin menghancurkan hubungan gue dengan Risa, juga menghancurkan nama baik gue di sekolah gue sekarang.
Pergi menyendiri memang lebih baik dari pada kata putus. Gue berharap, Karisa sedikit lebih bijak dan dewasa dalam menyikapi hubungan kami yang baru seumur jagung ini. Gue tahu, Karisa belum punya banyak pengalaman soal masalah percintaan seperti ini. Gue tahu, dia pasti bingung, dilema, bahkan bahasa lebaynya gundah gulana.
Kalau pun memang hubungan gue dengan Karisa harus berakhir sampai di sini. Gue sudah siap mengalami hal itu. Karena lelaki brengsek seperti gue, tidak pantas mendapatkan perempuan baik-baik seperti Risa.
Kalau boleh jujur, gue sayang banget sama Karisa. Entah kenapa itu bisa terjadi dalam waktu yang singkat ini, tapi gue bener-bener nggak mau kehilangan dia.
“Fan,” panggil nyokap yang membuyarkan semua lamunan gue tentang Karisa.
“Iya, Bu? Ada apa?” tanya gue saat melihat nyokap masuk ke dalam kamar gue.
“Ada temanmu di depan.”
“Siapa?”
“Seno.”
Begitu mendengar nama Seno, gue langsung bergegas pergi keluar untuk menghampiri teman lama gue sewaktu di sekolah gue terdahulu.
“Sen, gimana? Pesenan gue ada?”
“Ada. Ini video asli dari perkelahian kalian tempo lalu. Untungnya, gue langsung cepet minta CCTV aslinya sama pak Asep. Soalnya, temennya Sakti waktu itu pernah ke ruang CCTV dengan alasan handphonenya hilang. Padahal, aslinya dia mau ngehapus beberapa potongan video yang jadi barang bukti kalau lo nggak bersalah.”
Gue langsung menerima sebuah CD pemberian dari Seno. “Thank’s banget, Sen. Elo bener-bener penyelamat gue kali ini.”
“Kalem aja, Bro. Ini juga ada beberapa dokumen hasil pemeriksaan Sakti yang katanya sampai geger otak. Kebetulan, dokter yang menangani Sakti itu Om gue. Jadi, gue bisa langsung lihat CT-SCAN aslinya. Dan, ternyata dia sama sekali nggak geger otak. Itu cuma luka ringan dan Sakti sudah membohongi kita semua dengan menukar hasil CT-SCAN punya dia dengan milik orang lain.”
Gue menerima beberapa dokumen yang diserahkan Seno. Ternyata, selama ini gue memang tidak bersalah. Harusnya, gue memang tidak di keluarkan dari sekolah gue dulu. Harusnya, gue tidak menerima hukuman sebesar ini hingga menyebabkan kedua orang tua gue kecewa besar dengan sikap gue.
“Sen, gue nggak tahu harus ngomong apa lagi sama lo. Hatur nuhun pisan, gue berhutang budi sama lo, Sen.”
“Santai aja, Fan. Dan, elo juga harus tahu satu hal lagi. Yang menyebarkan foto pribadi lo di sosmed juga perihal video perkelahian lo dengan Sakti, itu semua biang keroknya Asti dan Sakti sendiri.”
“Jadi, mereka yang menyebar luaskan foto dan video itu?” tanya gue emosi dengan dada yang mulai naik turun.
“Iya. Temen gue sendiri yang mendengar percakapan mereka tentang kejadian ini. Sekarang, tinggal lo selesaikan masalah lo dengan mereka.”
“Thank’s banget, Bro.”
“Sama-sama. Ya udah, gue balik dulu, Fan.”
Sepeninggalnya Seno, gue langsung memandangi dokumen-dokumen dan CCTV asli yang Seno berikan kepada gue. Sekarang, gue hanya tinggal menyelesaikan kepingan-kepingan masalah yang belum terselesaikan. Berkat Seno, sekarang gue tahu langkah apa yang harus gue lakukan selanjutnya.
Gue tidak akan membiarkan Asti dan Sakti merusak kebahagiaan gue sekarang. Karena fakta yang tertunda akan segera terungkap setelah gue menemukan bukti-bukti yang kuat ini. Tunggu saja, kemenangan mutlak akan segera tiba menghampiri gue.
“Arfan?” panggil seseorang yang tiba-tiba saja berdiri di dekat pintu rumah gue setelah kepergian Seno.
“Kamu? Ngapain kamu malam-malam begini ke rumah saya?” tanya gue dengan volume suara yang sangat rendah begitu melihat seorang perempuan dengan sentuhan lipstik merah di bibirnya.
“Aku kangen sama kamu, Fan. Kangen sama ibu juga.”
“Mending kamu pulang, deh. Sebelum ibu saya melihat kamu.”
“Fan, sekali ini saja. Izinkan aku ketemu sama ibu,” katanya kembali memohon seraya menggenggam pergelangan tangan gue.
“Mending tante pulang deh sebelum saya usir. Pliss, tante pulang, yah?”
“Sarah?” seru nyokap yang tampak terkejut begitu melihat seorang perempuan berdiri di dekat gue.
“Ibu,” tutur Sarah terdengar lirih.
“Kamu pulang, Nak?” tanya nyokap dengan mata berkaca-kaca.
“Iya, Bu. Sarah pulang buat ketemu ibu, Arfan sama Arini.”
“Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang juga, Nak. Ibu kangen sama kamu.”
Sarah berlari menghampiri nyokap dan memeluk nyokap begitu erat seraya menyiun telapak tangannya. Tangisan rindu mulai menyelimuti keluarga gue. Air mata mereka mulai membanjiri kelopak mata mereka. Dengan melihat kejadian langka ini, gue kembali meneteskan air mata haru gue untuk pertama kalinya.
“Kenapa kamu baru pulang sekarang, Sarah? Ke mana saja kamu selama ini? Apa kamu tahu, ibu, Arini, Ayu, Arfan, bahkan almarhum bapa sangat merindukanmu.”
“Sarah takut, Bu. Sarah takut sudah tidak diterima lagi di rumah ini,” tangisnya kembali.
“Ya Allah, Sarah. Semarah-marahnya orang tua, mereka hanya marah sesaat. Bagaimana pun kamu, buruknya kamu, baiknya kamu, kamu tetap anak bapa dan juga ibu. Dan, kamu tetap menjadi kakak dari adik-adikmu. Orang tua tidak pernah ada yang membenci anaknya, mereka marah karena sayang pada anaknya. Mereka peduli karena mereka ingin melihat anaknya bahagia.”
Sarah kembali meneteskan air matanya. Ia kembali memeluk nyokap begitu erat karena saking rindunya dia kepada nyokap. Setelah kembalinya Sarah ke rumah, nyokap mengajak Sarah untuk masuk ke dalam rumah dan memintanya untuk menceritakan apa yang sudah terjadi selama ini kepadanya.
Arini yang baru saja keluar dari kamarnya pun, langsung berlari menghampiri Sarah dan memeluknya dengan tangisan rindu yang mulai membanjiri kedua pipinya.
“Ceritakan kepada kami, Nak. Ada kejadian apa yang sudah terjadi di dalam kehidupanmu selama ini.”
Sarah mulai menceritakan semuanya secara perlahan kepada nyokap. Mulai dari dia mengenal Edo, kekasihnya yang brengsek itu. Hingga dia yang hampir saja terjerat narkoba, diselingkuhi Edo, kerja serabutan untuk tetap bertahan hidup, sampai dia yang di vonis Leukeumia oleh dokter.
Begitu mendengar Sarah sakit, nyokap dan Arini kembali menangis. Bahkan, Sarah sampai bersujud dan memegang kaki nyokap untuk meminta pengampunannya. Yang sangat membuat kesal di sini adalah Edo. Dia menelantarkan kakak gue, menyakiti kakak gue, bahkan dia sudah melakukan tindak kekerasan terhadap kakak gue.
Mendengar ceritanya, rasanya ingin sekali gue menghajar pria brengsek itu sekarang juga. Tapi, nyokap meminta gue untuk tetap tenang. Nyokap bilang, marah jangan dibalas dengan marah lagi. Nyokap juga bilang, do’a kan saja Edo itu agar dia kembali ke jalan yang benar. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan teh Sarah. Kesehatannya lebih penting di atas segala-galanya.
“Maaffin Sarah ya, Bu. Maaffin teteh yah, Rin, Fan. Teteh janji, teteh nggak akan ninggalin kalian lagi. Teteh juga janji akan melanjutkan kehidupan teteh lebih baik dari sebelumnya. Kalian mau kan membantu teteh?”
“Arini akan selalu ada untuk teteh. Yang penting, sekarang teteh sembuh dulu. Selanjutnya, nanti kita fikirkan sama-sama.”
Sarah menganggukkan kepalanya dan kembali menggenggam kedua tangan Arini dengan erat. Mereka bertiga berpelukan hingga membuat gue hanya bisa menundukkan kepala dan tersenyum kecil melihatnya.
“Kamu nggak akan manggil teteh dengan panggilan tante lagi kan, Fan?” tanya Sarah sambil membuka pintu kamar gue.
“Nggak,” jawab gue pendek sambil menundukkan kepala karena malu.
Teh Sarah masuk ke kamar gue dan duduk di samping gue sambil menggengam tangan gue dengan kedua bola matanya yang mulai memerah dan berlinangan air mata.
“Bantu teteh untuk menata hidup teteh ke arah yang lebih baik, yah? Kamu juga harus janji sama teteh, abaikan Edo dan lupakan dia. Sekarang, prioritas teteh hanya kalian. Teteh ingin menebus dosa teteh. Jadi, kamu jangan mencari Edo. Demi teteh, Fan. Lupakan dia dan abaikan dia.”
“Teteh baik-baik aja, kan?” tanya gue dan hanya kalimat itulah yang bisa gue ucapkan sekarang.
“Teteh baik-baik aja, Fan.”
“Alhamdulillah kalau begitu.”
“Nanti, temani teteh ziarah ke makam bapa, yah? Sekarang, kamu tidur dan besok kamu harus kembali menjadi Arfan yang ceria lagi. Jangan ada tangisan lagi diantara kita, yang ada hanya kebahagiaan.”
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, teh Sarah keluar dari kamar gue hingga membuat gue merenung sejenak. Permasalahan gue satu persatu mulai terselesaikan dan mulai menemukan titik temu.
Ternyata, Allah masih baik sama gue. Di balik permasalahan yang sedang menimpa hubungan gue dengan Risa, masih ada setitik cahaya kebahagiaan yang mulai bisa gue raih.
“Apa gue bisa mendapatkan kebahagiaan gue semuanya di waktu yang bersamaan? Risa, gue kangen banget sama lo. Elo kangen nggak sama gue?” ujar gue pelan sambil menatap ke arah foto gue dengan Risa yang berada di atas meja belajar gue dengan tatapan lirih.