ABOUT YOU

ABOUT YOU
Bunga Tulip



Setelah menceritakan kisah kelam keluarga gue, gue dan Risa memutuskan untuk pulang karena sepertinya malam sudah semakin larut dan gue tidak mau Risa dimarahi ayahnya karena pulang malam-malam.


“Oh iya, elo bisa main gitar, yah?” tanya Risa saat kami berdua berada di motor dalam perjalanan pulang.


“Iya. Kenapa?”


“Jadi inget waktu lo nyanyi bareng sama Arya tempo lalu.”


“Kenapa? Mau dinyanyiin lagu sama gue?”


“Nggak, ko,” jawabnya cepat, “ayo ngebut, udah malam, nih!”


“Siap, tuan putri!” teriak gue yang langsung mengemudikan motor dengan kecepatan tinggi hingga membuat Risa semakin mempererat pelukannya.


“Makasih untuk hari ini dan makasih juga sudah mengenalkan ibu lo yang begitu baik sama gue,” kata Risa pelan di teras rumahnya begitu gue selesai berpamitan kepada ayahnya.


“Iya, sama-sama. Makasih juga karena lo udah mau jalan sama gue. Hari ini menyenangkan.”


“Inget loh, kalau mau berantem sama orang harus izin dulu sama gue,” katanya yang membuat gue langsung tertawa lebar begitu mendengar ucapannya barusan.


“Iya. Sana masuk, udah malam. Angin malam nggak bagus.”


“Kalau udah sampai rumah kabarin gue, yah?”


“Iya.”


“Malam, Arfan.”


“Malam, Sayang. Eh, Risa maksudnya,” kata gue mengklarifikasi hingga membuat Risa langsung tertawa mendengarnya. “Risa?”


“Iya?”


“Risa?” kata gue kembali.


“Apa?”


“Risa,” kata gue lagi yang kali ini membuat kami berdua tertawa bersama.


“Apa, sih? Manggil-manggil nama gue terus dari tadi.”


“Suka aja manggil nama lo. Nama lo bagus.”


Risa tersenyum merekah. Senyuman yang sangat indah dan gue suka saat melihatnya tersenyum seperti itu.


“Nama lo juga bagus ko, Fan”


Gue kembali tersenyum.


“Selamat malam, Sayangku. Eh, Risaku maksud gue,” kata gue yang langsung cepat-cepat mengklarifikasi kembali.


“Malam, Arfanku,” katanya pelan sambil tersenyum tipis hingga membuat gue tersenyum merekah begitu mendengar penuturannya.


Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan. Gue senang bisa jalan bersama Risa. Gue juga senang bisa melihatnya akrab dengan nyokap dan juga Arini.


Arini juga tadi bilang sama gue, katanya dia suka sama Risa. Risa cantik dan baik, Arini suka. Alhamdulillah, Arini bisa suka juga sama Risa. Awalnya gue takut Arini tidak suka sama Risa. Untungnya, nyokap sama Arini suka Risa. Jadi, gue bisa lebih leluasa kalau suatu waktu mengajak Risa kembali ke rumah.


Besok paginya, gue sibuk banget ngurusin banyak hal. Semalam, gue telepon Risa dan memintanya untuk pergi bersama ayahnya saja ke sekolah untuk hari ini, karena gue ada urusan mendadak di rumah. Sebenarnya itu semua bohong, gue sengaja berbohong karena gue sedang menyiapkan sebuah kejutan kecil untuknya,


“Sejak kapan lo jadi romantis gini, Fan?” tanya Erwin yang sedang membantu gue mempersiapkan peralatan tempur untuk hari ini.


“Sejak gue kenal mahluk manis bernama Karisa,” jawab gue sambil tersenyum lebar.


“Anjrit!! Geleuh aing ngadengena!!” seru si Mbul yang langsung membuat anak-anak yang lain menyoraki gue. (Menjijikan sekali aku mendengarnya).


“Pokoknya, rencana hari ini harus sukses, yah? Gue nggak mau gagal. Jam istirahat nanti, elo sama elo harus membawa Risa ke tengah lapangan, nggak pake lama!” seru gue sambil menunjuk wajah Deni dan juga Diki dengan menggunakan pulpen.


“Iya, siap!!” sahut Deni dan Diki bersamaan.


“Terus, urang nanaonan?” tanya si Mbul. (Terus, aku ngapain?).


“Joged jeung si Tatang di ruang guru,” jawab gue asal. (Menari dengan si Tatang di ruang guru).


“Goblok!!” seru si Mbul yang kali ini membuat anak-anak yang lain tertawa mendengar celotehan gue.


“Eh, serius ini, teh?” tanya si Bison yang tiba-tiba muncul.


“Serius apanya, Son?” tanya Deni balik.


“Si Arfan mau bikin kejutan buat si Risalah.”


“Ya serius atuh, kuya! Masa bohongan!” seru si Mbul jengkel.


“Baledog tah si Bison. Tuman, teu ngadengekeun rapat tadi peuting, sih!” kata si Erwin yang ikutan kesal. (Lempar tuh si Bison. Kebiasaan, nggak ngedengerin rapat tadi malam, sih).


“Iyalah, sibuk chattingan sama si Petty si Bison, mah!” seru si Tatang yang langsung membuat anak-anak tertawa begitu mendengar celotehannya.


“Goblok!! Kenapa jadi si Petty lagi yang kena!”


Rasanya sangat gugup, semoga kejutan kali ini berhasil dan membuat Risa senang melihatnya. Begitu melihat Deni dan Diki membawa Risa dengan diikuti Jeni dan juga Dhea di belakang mereka, gue langsung mengambil gitar dan mulai memetiknya.


I found a love for me


Darling just dive right in and follow my lead


I found a girl, beautiful and sweet


Oh, i never knew you were the someone waiting for me


Cause we were just kids when we fell in love


Not knowing what is was


I will not give you up this time


But, darling just kiss me slow, your heart is all i own


And i your eyes you’re holding mine


Baby, i’m dancing in the dark with you between my arms


Barefoot on the grass, listening to our favorite song


When you said you looked a mess, i whispered underneath my breath


But you heard it, darling you look perfect tonight


Well i found a woman stonger then anyone i know


She shares my dreams, i hope that someday i’ll share her home


I found a love, to carry more than jut my secrets


To carry love, to carry children of our own


We are still kids but were so in love


Fighthing against all odds


I know we’ll be alright this time


Darling just hold my hand


Be my girl, i’ll be your man


I see my future i your eyes


(Ed sheeran- Perfect)


Setelah menyanyikan lagu tersebut, gue langsung menghampiri Risa dan memberikannya sebuket bunga tulip kesukaannya.


“Buat lo.”


“Makasih banyak Arfan,” katanya dengan kedua bola matanya yang berkaca-kaca. “Ko, tahu gue suka tulip ?”


“Jeni yang bilang sama gue,” jawab gue sambil melirik ke arah Jeni dan Jeni sendiri memberikan dua jempolnya. “Suka nggak sama lagunya?”


“Suka banget. Itu lagu favorit gue, tahu dari mana gue suka lagu itu? Dari Jeni juga?”


“Kali ini dari Dhea, bukan Jeni,” kata gue menjawab sambil menggaruk-garuk kepala gue yang tidak gatal.


“Mereka bantuin lo?” tanyanya lagi.


Gue mengangguk. Risa tersenyum lebar dan menghirup bunga tulip yang gue belikan untuknya. Perlu di catat, gue beli bunga itu pake uang hasil patungan gue sama si Mbul, Erwin, Tatang dan juga si Bison.


Mereka memang teman yang baik, membantu gue di kala uang saku gue habis. Belinya juga rusuh alias buru-buru banget karena toko bunganya sudah hampir tutup.


Salah gue juga sih karena dadakan banget ngasih kabar anak-anak soal kejutan yang mendadak ini. Malam-malam, gue ngumpulin mereka semua sambil hujan-hujanan cuma untuk membeli sebuket bunga tulip ini. Terus, gue sibuk minta cariin nomor handphone Dhea juga Jeni kepada mereka.


Pokoknya, sahabat-sahabat gue ini memang yang terbaik banget, deh. Gue banyak berhutang budi sama mereka.


“Risa, lihat ke belakang lo!” pinta gue hingga membuat Risa langsung membalikkan badan.


Begitu aba-aba dari gue sudah di mulai, Mbul, Erwin, Bison, Deni, Diki, dan juga Tatang langsung membuka seragam mereka dengan diikuti gue yang langsung menghampiri mereka.


Begitu seragam kami di buka, sudah ada tulisan I♥U RISA dari dalam kaos putih kami yang sengaja kami tulis pakai spidol permanen. Begitu melihatnya, sontak anak-anak satu sekolah langsung menyoraki kami semua. Ada pula beberapa yang bertepuk tangan dengan sangat meriah sampai membuat Risa tersenyum malu-malu melihatnya.


Karena sudah membuat kegaduhan di jam istirahat, pak Uus datang memarahi kami dan memberikan kami hukuman. Tak apalah diberikan hukuman kali ini sama Uus, yang penting Risa bahagia itu sudah cukup buat gue.


Karena kegaduhan yang kami buat, gue dan anak-anak yang lain diberikan hukuman untuk berlari mengitari lapangan sekolah sebanyak 10 putaran. Sambil berlari untuk menjalani hukuman, gue berteriak memanggil-mangil nama Risa dengan diikuti teman-teman gue yang lainnya.


Terima kasih Karisa, terima kasih karena elo sudah membuat hari-hari gue berwarna.


“Risa, I love you full!” teriak gue kembali di tengah-tengah hukuman.