
"Apa ini?" tangan Ella terulur mengambil sebuah plakat akrilik berwarna kebiruan.
The First Champion Tianfu Cup
"Dia pernah mengikuti perlombaan?"
Mata coklatnya kembali menelisik berbagai benda yang tertata rapi di sebuah etalase.
"Sudah membaik?" suara bass membuat Ella sedikit berjingkat kaget.
"Ah kau"
"Apa yang kau lihat?"
"Hanya melihat beberapa penghargaan yang kau dapat. Apa kau sering mengikuti perlombaan?" tanya Ella dengan masih mengamati satu per satu penghargaan yang cukup membuat dirinya kagum.
"Tidak sering"
"Oh ya. Kebanyakan buku mu bertema tentang hacking, apa kau ingin menjadi seorang hacker?" Ella menoleh ke arah Harry.
Harry yang sedikit terkejut mencoba untuk segera menormalkan ekspresi nya kembali.
"Eh em, hanya sekedar ingin tau. Menurutku itu menarik" alibi Harry.
Ella mengangguk paham "Ah ya aku hampir lupa menanyakan ini. Loker Megan?" tanyanya dengan hati-hati.
"Kau tak perlu pikirkan itu"
"Bagaimana aku tak memikirkannya, itu terror Har"
"Kau terlalu berlebihan. Itu hanya orang iseng"
Alis Ella bertaut tak percaya "Orang iseng?"
"Ya. Arthur sudah melihat cctv nya" ucap Harry setenang mungkin "Oh God, maafkan kebohonganku kali ini" pinta Harry dalam hati.
"Tapi, bukankah itu keterlaluan?"
"Biar Mr. Jack yang mengurusnya"
🌚
Megan masih disibukkan dengan berbagai barang-barang yang akan dibawanya kembali ke Canada. Kemarin malam ia pergi berbelanja beberapa oleh-oleh, oh ralat. Bukan beberapa, bahkan sekarang sudah ada 5 koper berisi oleh-oleh.
"Oh C'mon sweetheart, bukankah itu terlalu banyak?" tak henti-hentinya Edward dibuat heran dengan tingkah gadisnya.
"Aku hanya ingin berbagi Ed. Apa itu salah?" jawab Megan tanpa menghentikan kegiatannya.
"Okay, kau tak akan menang melawan gadismu Ed" batin Edward.
"Baiklah, selesaikan dengan cepat. Kau harus makan malam"
Sembari menunggu Megan menyelesaikan koper-koper nya, Edward membuka MacBooknya berniat melihat beberapa informasi yang sudah dikirim Arthur ke email pribadinya.
"Shit" hampir saja Edward kelepasan mengumpat.
"Apa kau berbicara padaku Ed?"
"Tidak sweetheart. Apa kau sudah selesai?"
"Yashh sudah" Megan menepuk-nepuk tangannya setelah menutup koper terakhirnya.
"Baiklah, ayo" Edward mengulurkan tangannya dan langsung disambut tangan lembut kekasihnya.
Kedua sejoli itu berjalan beriringan membuat iri sekelilingnya. Sungguh pasangan idaman.
Disisi lain, Leo sedang berusaha menghindari kejaran para pria berbadan besar dengan pakaian serba hitam yang sudah mengejarnya hampir satu jam itu. Sumpah serapah sudah keluar bebas dari mulut pemuda itu.
"*Shit! Go away from me" suara keras Leo berhasil membuat beberapa penjaga sebuah rumah megah melihat ke arahnya.
Leo yang merasa sudah tertangkap basah itu pun lalu berlari secepat mungkin. Dia kembali mengumpat karena di keadaan seperti ini ia sedang tak membawa mobil.
"Seharusnya aku mengiyakan tawaran Jo tadi. Ah shit*!"
"Arah jam 9 Leo!" suara dari earpiece membuat Leo tersenyum lebar. Sebuah Koenigsegg One 1 putih nampak membuka pintunya.
"Kenapa kau lama sekali" sergah Leo sambil menengok kebelakang.
"Kau yang ceroboh!" balas Jovial.
"Ada anjing Jo. Kau tau aku tak suka hewan menjijikkan itu"
"Baiklah, apa mereka melihat wajahmu?"
"Seharusnya tidak, karena aku memakai masker"
"Hem. Kita akan ke markas"
Bangunan bercat putih itu nampak sepi, tanpa ragu Leo membuka pintu besar dan nampak lah seorang pemuda yang masih terfokus pada monitor di depannya.
Layar hitam dengan berbagai tulisan acak membuat Leo memijit pelipisnya pelan.
"Bagaimana?"
"Ada beberapa yang baru kudapatkan, tidak terlalu besar namun bisa membantu" jelas Arthur memutar kursinya
"Uncle Mark kau datang" Jovial bersuara saat melihat seorang lelaki dengan setelah jas yang masih lengkap. Nampaknya dia baru saja tiba dan langsung kemari tanpa beristirahat terlebih dahulu.
"Ya. Urusanku di LA baru saja selesai. Jadi bagaiman?" Mr. Mark berjalan mendekati meja Arthur.
"Bisa kau lihat. Aku tak terlalu yakin ini bisa membantu" ucap Arthur lalu memberi sedikit ruang untuk Mr. Mark agar lebih leluasa melihat beberapa informasi yang dikumpulkannya beberapa hari ini.
"Good ideas uncle" Leo menyahut.
"Ah iya, bukankah besok Edward kembali?" tanya Jovial.
"Benar. Aku sudah menyiapkan beberapa penjagaan di bandara besok"
"Masalah ini semakin melebar" keluh Jovial yang sudah menyandarkan punggungnya.
"Ya. Dan uncle harap kalian tetap menjaga diri. Jaga kesehatan juga, jangan memaksakan diri. Terutama kau Arthur" peringat Mr. Mark membuat 4 remaja di depannya mengangguk.
🌚
Cuaca Canada sedikit membuat Megan menggesek telapak tangannya beberapa kali. Mereka baru saja sampai di Canada beberapa menit lalu.
"Apa kau kedinginan?" tanya Edward.
"Ya sedikit" Megan sedikit terkejut saat sebuah tangan tiba-tiba bertengger di pundak kanannya, perlakuan sederhana Edward yang membuat jantungnya selalu berdegub.
Mata elang Edward beberapa kali menangkap pria berbadan besar yang menganggukkan kepala saat bertatapan dengannya. Itu berarti mereka ada di pihaknya.
"Pasti Daddy" pikir Edward.
"Em Ed bisakah besok aku pergi ke sekolah?"
Edward menggeleng "Kau harus beristirahat"
Megan menghembuskan nafasnya pasrah.
"Apa kau tau kapan Daddy ku selesai bekerja?" tanya Megan saat memasuki mobil.
"Entahlah. Nanti kutanyakan pada Daddy"
Suasana jalan raya nampak sepi, terlihat dengan jarangnya kendaraan yang berlalu lalang. Ah, mungkin karena ini tengah malam.
Gerbang coklat setinggi 3 kaki itu terbuka dan membiarkan mobil yang dikendarai Edward masuk ke halaman luas kediaman Mark. Beberapa housmaid nampak segera bersiap untuk membawakan barang-barang di mobil belakang.
Edward tersenyum saat melihat Megan yang sudah tertidur. Tangannya tergerak menyentuh pipi gadisnya.
"I promise I'll always protect you"
Megan yang merasakan gerakan pada wajahnya perlahan membuka mata, berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Sudah sampai?"
"Hemm"
"Kenapa tak membangunkanku?"
"Nyatanya kau sudah bangun sweetheart. Ayo turun"
Edward mengantar Megan sampai di depan pintu kamarnya dengan terus menggenggam posesif jari-jari mungil kekasihnya.
"Beristirahatlah"
"Kau juga. Night"
"Night sweetheart"
Setelah memastikan Megan masuk, Edward segera menghubungi Jovial untuk mengetahui apa kabar terbaru yang belum diketahuinya.
"Bagaimana Jo?"
"Kami tidak banyak menemukan informasi, tapi cukup membantu. Apa kau sudah kembali?"
"Baru saja"
"Beristirahatlah, uncle Mark juga baru saja datang"
"Daddy?"
"Ya. Dia baru langsung kemari setelah dari LA"
"Ah baiklah. Mungkin sebentar lagi sampai. Aku akan bertanya padanya"
"Apa kalian mengalami kendala di sana?"
"Kami baik-baik saja. Kalian?"
"Hampir saja" Jovial terdengar mengehembuskan nafasnya.
"Siapa kali ini?"
"Leo"
Edward tertawa mendengar nama sahabatnya itu "Dia tak pernah bisa diam Jo"
"Ya aku tau. Tapi dia cukup meningkat kali ini"
"Benarkah? Apa yang dilakukannya?"
"Banyak. Tapi untuk hal anjing dia masih noob"
"Haha sepertinya dia harus ke psikiater" canda Edward mengundang tawa di sebrang telepon.
"Maybe"
"Baiklah, kututup"