ABOUT YOU

ABOUT YOU
Yeol Yeoseos



Meomchun shigan sok


Jamdeun neoreul chajaga


Amuri magado


Gyeolguk neoye gyeochin geol


Megan bersenandung ringan saat berjalan menuju perpustakaan untuk menemui Ella yang sudah menunggunya. Langkahnya berbelok ke sebuah ruangan.


Library


Gadis dengan rambut kuncir kuda itu memasuki perpustakaan yang nampak sepi, tak banyak siswa yang mengunjunginya hari ini, hanya ada beberapa yang memilih duduk di sudut ruangan.


Megan sempat tersenyum untuk menyapa pustakawan yang berjaga di balik meja nya kemudian berjalan ke bagian rak novel.


"Hey Ell" sapa Megan saat menemukan Ella dengan beberapa tumpukan buku di depannya.


"Hey Chall. Duduklah"


"Apa kau akan membaca ini semua selama liburan?" tanya Megan heran.


"Tentu tidak. Perpustakaan tidak mengizinkan peminjaman buku selama liburan" jelas Ella membuat Megan mengangguk paham.


"Dimana mantelmu? Hari ini cukup dingin Ell"


"Ah, aku meninggalkannya di loker. Aku merasa badanku mati rasa akhir-akhir ini" ucap Ella membuat Megan tertawa pelan.


"Baiklah. Jadi bagaimana dengan Harry?" tanya Megan diselingi dengan nada jahilnya.


Gotcha!


Pipi Ella memerah mendengar itu, membuat Megan menahan tawanya habis-habisan.


"Apa yang kau katakan" ucap Ella seraya membalikkan halaman novelnya dengan tergesa-gesa.


"Aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya bertanya tentang Harry. Tapi kau sepertinya tidak tau"


"Ah ya. Aku tidak tau apa-apa" tangan Ella terlihat gemetar.


Sungguh, jika bukan di perpustakaan pasti Megan sudah meledakkan tawanya karena melihat ekspresi sahabatnya ini.


"Okay. So, why are your hands shaking?" Megan kembali menggoda Ella.


"Apa kau bercanda? Tanganku baik-baik saja"


"Sungguh, aku sudah tidak bisa menahannya. Kau sungguh menggemaskan Ell" Megan berusaha menahan agar suara tawanya tak terlepas.


Sedangkan Ella terlihat mengerucutkan bibirnya kesal.


"Jika ini tidak di perpustakaan dapat kupastikan kau sudah terkapar di lantai Chall. Oh sungguh, apa kau tak bisa bisa berhenti menggodaku?"


"Baiklah-baiklah. So, tell me now"


Ella memutar bola matanya malas "Kau menjengkelkan!"


Dilain tempat, Harry masih sibuk membolak-balikan kertas dengan berbagai tulisan dan gambar yang berhasil membuatnya frustasi.


"Shit! Otakku hampir meledak membaca semua ini"


"Kalau begitu, ingin bertukar denganku?" tawar Arthur lalu meneguk sodanya.


"Big no. Aku bahkan tak bisa membayangkan jika aku menjadi dirimu"


"That's right! Semua orang punya porsi sendiri-sendiri Harry. Jadi apa yang perlu kau keluhkan?" ucap Jovial tanpa mengalihkan pandangannya pada laptop silver di depannya.


"Hey yo what's up guys" seru Leo saat memasuki ruangan dengan membawa dua kantung plastik berisi makanan.


"Yang ku tunggu akhirnya datang" ucap Harry lalu menghambur ke arah Leo.


"Dimana Edward? Apa dia tidak bersamamu?"


"Uncle Mark menelponnya saat dijalan"


"Ada apa?" Arthur menyahut lalu mengambil soda dingin yang baru dibawa Leo.


"Idk" jawab Leo acuh.


"Jo. Kemarilah. Kau tak lapar?"


"Aku akan makan nanti" jawaban Jovial membuat Arthur memutar bola matanya jengah.


"Jangan menyiksa dirimu Jo. Kita akan selesaikan ini bersama"


Perkataan Arthur barusan hanya dianggap angin lalu oleh Jovial. Pemuda itu malah pergi meninggalkan ketiga temannya yang bertanya-tanya.


"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"


"Kurasa tidak. Dia sedang dalam keadaan yang buruk"


"Aku mulai takut dia kembali menjadi monster" Leo berucap pelan.


"Tidak. Aku berani bertaruh dia akan mencari informasi tentang penculikan Georgia dulu"


"Arrghh I'm going crazy" Arthur menarik rambutnya kasar.


🌚


"Bye Chall. Take care" ucap Ella berteriak dari dalam mobil yang mulai meninggalkan halaman rumahnya.


"Hey" Megan tersentak saat sebuah tangan menepuk pundaknya.


"Kau mengagetkanku Ed" Megan menepuk dadanya pelan.


"Sorry"


"Ah ya, mommy mengundangmu untuk makan malam"


"Malam ini?"


"Ya. Aku akan menjemputmu pukul 6 nanti"


"Two hours from now?" pekik Megan.


"Kau seharusnya memberitahuku tadi pagi" lanjutnya.


"Bahkan mommy baru memberitahu ku 15 menit yang lalu" ucap Edward santai.


"Aku perlu bersiap Ed"


"Kau tak perlu sweetheart. Kau sudah cantik walaupun tanpa bersiap"


"No no no. Big no. Sekarang kau pergi, dan aku akan bersiap" ucap Megan lalu meninggalkan Edward yang gemas melihat tingkahnya.


"She's mine" ucap Edward pelan.


Disisi lain Mr. Mark sedang duduk berhadapan dengan Mr. Vanderson ditemani dengan dua cangkir americano.


"Kasus ini merambat menjadi kasus baru Van"


"Bahkan putriku terkena imbasnya"


"Ya aku tau"


"Aku sudah mempercayakannya pada Edward"


"Kita harus bertindak Van" rahang Mr. Mark mengeras.


"Calm down Mark. Belum waktunya. Kita harus bertahan dengan rencana yang sudah kita atur dari dulu" ucap Mr. Vanderson setenang mungkin.


"Tapi disini banyak yang tidak bersalah ikut masuk dalam permasalahan ini Van"


"Tahan sebentar lagi. Aku yakin Megan dan yang lainnya akan sanggup bertahan"


Percakapan keduanya berlanjut sampai langit Toronto menggelap.


Jalanan nampak ramai malam ini. Lampu jalan terlihat menerangi setiap inci jalan raya.


Tangan kiri Edward menggenggam lembut jemari gadisnya seperti tak ingin melepaskannya walau sedetik.


"Kau seperti sangat takut kehilanganku Ed"


"Aku memang takut kehilanganmu" ucap Edward santai.


"Baiklah. Sebentar lagi akhir tahun kan?" tanya Megan yang mendapat anggukan dari pemuda disampingnya.


"Aku ingin pergi bersamamu"


"Kemana?"


"Nathan Phillips Square sepertinya menyenangkan"


"Baiklah. Tapi bukankah kali ini suhu semakin turun?"


"Ya aku juga merasakan, bahkan Chelin tak pernah melepas sarung tangannya"


"Benarkah? Dia sangat menggemaskan kau tau"


Mendengar itu membuat Megan memutar bola matanya malas. Bagaimana mungkin kekasihnya ini lebih tertarik bermain dengan adiknya daripada berbicara dengannya. Jika saja pemuda disampingnya ini tidak tampan, sudah dapat dipastikan wajahnya akan penuh dengan luka lebam.


Tanpa mereka sadari mobil hitam milik Edward sudah memasuki halaman luas kediaman keluarga Mark.


Tanpa menunggu Edward membukakan pintu untuknya, Megan langsung keluar dari mobil dan segera berjalan memasuki mansion mewah di depannya. Edward yang menyaksikan itupun terheran, apa yang terjadi dengan gadisnya?


"Hey sweety" sapa Rosie ramah saat melihat gadis dengan blouse bermotif floral itu memasuki ruang makan.


"Mommy. I miss you" ucap Megan sama ramahnya lalu memeluk wanita di depannya.


"Kau tak merindukanku?"


"Grandma" pekik Megan dengan senyum lebar lalu berlari menghambur ke pelukan wanita renta itu.


"Ohh aku sangat merindukanmu. Sudah berapa lama kita tidak berjumpa?" tanya Nenek Lusi saat pelukan mereka melonggar.


"Entahlah. Aku tidak melihatmu di acara kemarin"


"Aku sedang tidak enak badan kemarin, jadi Rosie memaksaku untuk tetap dirumah"


"Bagaimana aku tak melarangnya, bahkan kau hampir saja terjatuh saat berjalan menuruni tangga Bu"


"Ya ya. Aku akan selalu kalah jika berdebat denganmu. Ah, dimana Edward?"


"I'm here" ucap Edward yang baru datang.


"Kalian bertengkar?" tanya Nenek Lusi yang melihat gelagat tak enak dari kedua remaja ini.


"Tidak. Aku hanya tidak sabar untuk segera bertemu mommy dan grandma. Jadi aku masuk lebih dulu" elak Megan berusaha membuat Nenek Lusi percaya.


"Baiklah. Mari kita makan sebelum dingin" ucap Rosie menengahi.


"Kita tidak menunggu daddy?" tanya Megan.


"Dia sedang ada urusan pekerjaan"


"Baiklah"


Akhirnya acara makan malam hari ini terlaksana dengan suasana hangat yang terkadang diselingi dengan beberapa guyonan yang membuat meja makan tak pernah sepi.