ABOUT YOU

ABOUT YOU
Pertengkaran



Aku melangkahkan kakiku menuju gerbang sekolah setelah bel pulang berbunyi. Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, aku masih belum menghubungi Arfan atau pun menemuinya. Kalau pun bertemu dengannya, aku selalu saja menjauhinya.


Aku memang butuh waktu untuk sendiri, butuh waktu untuk berfikir jernih dengan masalah-masalah yang akhir-akhir ini membuatku semakin tahu tentang pribadi Arfan yang sesungguhnya.


Namun, saat aku hendak menunggu angkot, tiba-tiba saja ada seorang perempuan tinggi dan juga cantik datang menghampiriku. Dia menatapku dari atas sampai bawah, dia juga tersenyum sinis ketika melihat wajahku. Aku fikir, aku kenal perempuan ini siapa. Karena sepertinya, aku pernah melihat wajahnya beberapa hari yang lalu.


“Elo Karisa pacarnya Arfan?” tanyanya sinis.


“Iya, elo pasti Asti, kan?” kataku yang langsung membalas tatapan sinisnya.


“Selera Arfan ternyata rendah juga. Setelah dia putus sama gue, dia malah mencari perempuan yang levelnya di bawah gue. Nggak nyangka gue!”


Apa? Rendah? Rasanya, aku ingin sekali merobek mulut tajamnya dan menusuk kedua bola matanya yang menyebalkan itu.


“Bukannya kebalik, yah?” jawabku hingga membuat perempuan itu langsung melotot tajam.


“Maksud lo apa ngomong kaya gitu, hah?” teriaknya sambil mendorong tubuhku, hingga membuat beberapa orang yang lalu-lalang menatap ke arah kami berdua.


“Kenapa? Gue nggak salah ngomong, kan? Arfan milih gue karena gue lebih baik dari pada lo. Kalau lo nggak ngeduain Arfan, Arfan mana mungkin pacaran sama gue sekarang.”


“Heh, harusnya lo ngaca, dong. Elo itu ngomong sama siapa? Kalau gue mau juga, Arfan bisa gue ambil dari lo dan dia bakalan bertekuk lutut sama gue untuk mohon-mohon agar bisa balikan lagi sama gue,” katanya yang tampak percaya diri.


“Elo emang cantik, Asti. Tapi, sayangnya hati lo tidak secantik wajah lo. Gue mungkin tidak cantik seperti lo dan gue mungkin tidak sekaya lo. Tapi, gue punya hati yang tulus dan memiliki good attitude ,” kataku menjawab hingga membuat Asti hampir saja menamparku. Tapi, aku langsung menahan tangannya agar tidak mendarat dengan mulus di pipi kananku.


“Sekarang gue ngerti. Arfan memang tidak cocok sama lo. Dia bahkan bisa memilih perempuan yang jauh lebih baik dari pada lo atau pun gue. Gue juga tahu, elo kan yang sengaja menyebar luaskan foto pribadi lo sewaktu masih pacaran sama Arfan?”


Asti terdiam. Ia melepaskan cengkraman tanganku dari pergelangan tangannya.


“Elo sendiri tahu itu perbuatan gue. Harusnya lo sadar dong, Arfan itu lebih bahagia sama siapa dan lebih cocoknya sama siapa. Udah, putusin aja Arfan, lo pasti kecewa berat sama dia kan sekarang?”


“Elo salah besar, Asti. Justru, gue mau ngucapin terima kasih sama lo karena lo sudah menyebar luaskan foto pribadi lo itu. Berkat lo, sekarang gue tahu cinta gue untuk Arfan itu sebesar apa. Gue nggak peduli dengan semua masa lalu Arfan dengan lo atau di sekolahnya dulu.


“Semua orang pasti punya masa lalunya yang suram bahkan sangatlah pahit. Kecewa itu pasti, tapi setiap orang pasti bisa berubah ke arah yang lebih baik. Cemburu juga wajar, itu tanda kalau kita sayang sama orang yang kita sayangi. Gue sayang sama Arfan dan gue juga cinta sama Arfan. Karena rasa sayang gue untuk Arfan inilah gue ingin memperjuangkan hubungan gue dengannya. Gue hanya ingin mencintai Arfan setulus hati gue, karena gue juga berhak untuk bahagia bersamanya.”


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, aku langsung bergegas pergi. Tapi, Asti tidak tinggal diam begitu saja. Dia menarik tanganku dengan kasar hingga membuatku hampir saja terjatuh karena perbuatannya itu.


“Apa tadi lo bilang? Bahagia? Memangnya dengan lo bahagia bersama Arfan, Arfan akan bahagia bersama lo?”


“Kebahagiaan itu bisa terjadi hanya dengan kita yang membuat diri kita sendiri bahagia. Gue memang tidak menjamin Arfan akan selalu bahagia bersama gue. Tapi, gue akan berusaha semampu gue untuk membuatnya selalu bahagia!” teriakku yang tampak sadar membuat semua orang kini benar-benar memandangi kami berdua dengan wajah penasarannya.


“Sepercaya dirinyakah lo sampai lo beranggapan kalau lo bisa membuatnya bahagia?” tanyanya dengan kedua bola matanya yang sudah mulai memerah.


“Rasa bahagia itu hanya kita sendiri yang bisa merasakannya. Memangnya, kalau seandainya gue putus dengan Arfan, Arfan akan kembali sama lo? Seandainya dia kembali sama lo, apa Arfan akan bahagia? Apa lo mampu membuatnya bahagia juga ketika orang yang lo suka itu sudah terlanjur menyukai orang lain?”


Asti terdiam dan tidak menjawab. Ia sepertinya sedang berusaha menahan emosinya agar tidak membludak.


“Jangan memaksakan perasaan lo untuk Arfan, Asti. Lo sendiri tahu kan kalau Arfan sudah tidak menyukai lo lagi. Kalau lo terus memaksakan kehendak lo, elo sendiri yang nantinya akan terluka. Gue berkata seperti ini bukan semata-mata karena gue menang terhadap perasaannya Arfan. Tapi, kami berdua memang saling menyukai dan itu benar adanya. Kalau kami tidak saling menyukai, untuk apa kami bertahan sampai tahap ini?


“Itu karena rasa suka yang membelenggu hati kami. Jadi, berhentilah bersikap seenaknya. Karena pada akhirnya, hanya lo sendiri yang terluka dan menelan kekecewaan tanpa hasil yang memuaskan.”


Aku memutuskan untuk mengakhiri pembicaraanku dengan Asti. Aku juga sudah tak peduli dengan respon Asti setelah aku mengucapkan kalimat tersebut. Yang aku pedulikan sekarang hanyalah Arfan. Aku ingin berjumpa dengannya, aku ingin bertemu dengannya dan aku benar-benar merindukannya.


Setelah memutuskan untuk meninggalkan Asti, aku menatap layar handphoneku. Aku cukup lama memandangi foto kebersamaanku dengan Arfan. Ah, aku merindukannya.


Arfan,aku rindu.