ABOUT YOU

ABOUT YOU
Yeolse



Edward dan Jovial masih terdiam dengan pikiran masing-masing. Setelah kepergian Ella beberapa jam lalu, pikiran mereka masih berkecamuk tentang sosok seorang perempuan yang ikut andil dalam masalah Thanos Group. Karena menurut informasi yang Arthur dapat kemarin, istri Mr. Thanos sudah meninggal saat Thanos Group sedang pada puncaknya. Lalu siapa perempuan yang menangis di tengah pertengkaran yang Ella katakan tadi?


"Argghh. Ini sungguh memuakkan" Jovial terlihat meremas rambutnya pelan.


"Apa Mr. Thanos mempunyai seorang anak?" tanya Edward.


"Tidak. Mereka belum mempunyai anak dan sepertinya juga tidak mengadopsi seorang anak"


Keheningan terjadi di dalam ruangan penuh monitor itu, sampai derit pintu memecah keheningan membuat keduanya menoleh.


"Daddy?" Edward belum bisa memastikan siapa yang datang karena keadaan ruangan yang cukup gelap.


"This is me Ed" seorang lelaki bersetelah jas lengkap muncul dengan senyum tipisnya.


"Ah uncle Vanderson. Long time no see" sapa Edward.


"Ya. Bagaimana keadaan Megan? Kau menjaganya dengan baik?" tanya Mr. Vanderson sembari duduk disebuah sofa panjang di depan Edward.


"Dia baik" jawab Edward lirih.


"Calm down boy. Ayahmu sudah memberitahuku tentang apa yang terjadi"


"Aku mulai bingung dengan semua ini. Semuanya hampir tak ada yang bersangkutan" frustasi Edward.


"Wait wait ini benar Mr. Vanderson?" Jovial bersuara setelah tadi sempat terdiam. Matanya terlihat berbinar melihat sosok di depannya ini.


"Ah aku ingat. Uncle ini Jovial temanku. Dia sangat mengidolakan mu" ucap Edward dengan sedikit kekehan di akhir kata.


"Nice to meet you Jovial" sapa Mr. Vanderson ramah.


"Ah em nice to meet you too Mr. Cukup panggil aku Jo"


"Ah baiklah. Kau bisa memanggilku uncle seperti yang dilakukan Edward"


"Baiklah"


"Jadi apa yang bisa ku bantu tentang Thanos Group?"


"Kami sudah mengumpulkan beberapa informasi tentang Thanos Group. Tapi kami tidak menemukan adanya sangkut paut dengan perusahaan Mr. Alex"


Mr. Vanderson terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya "Aku tau apa hubungannya"


Perkataan Mr. Vanderson barusan membuat Edward dan Jovial menegakkan tubuhnya yang semula bersandar.


"Apa yang kau tau?"


"Ini sudah tengah malam boy. Lusa aku akan kembali kesini. Beristirahatlah" ucap Mr. Vanderson membuat kedua pemuda di depannya menghembuskan nafas berat.


"Baiklah. Akan ku antar" ucap Edward.


"Tak perlu. Kalian butuh istirahat. Lihatlah wajah kalian" tolak Mr. Vanderson halus dengan sedikit tawanya.


Suara mobil Mr. Vanderson perlahan menghilang. Jovial terlihat sudah berbaring di sofa dengan menjadikan tangan sebagai bantalnya.


"Kau tak pergi Jo?"


"Aku terlalu mengantuk untuk mengemudi"


Edward mengangguk paham lalu ikut memejamkan mata.


🌚


Megan terlihat asik dengan beberapa tangkai bunga di depannya. Sebuah gunting besar digunakannya untuk memotong bagian-bagian bunga. Beberapa vas bunga nampak sudah siap di meja sebrang. Warna-warna lembut kelopaknya membuat siapa saja yang melihat akan ikut terbawa tenang.


"Apa kau sudah selesai Megan?"


"Belum seluruhnya. Masih ada beberapa vas yang harus ku selesaikan"


"Grandma suka caramu merangkai bunga" Nenek Lusi duduk bersebrangan dengan Megan yang masih belum mengalihkan fokusnya.


"Grandma terlalu berlebihan. Bahkan bunga yang mommy buat lebih indah"


"Ya ibunya Edward memang sangat menyukai bunga. Bahkan dia akan selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi taman bunga di halaman samping"


"Mawar-mawar disana terlihat sangat cantik. Tak heran jika mommy sangat menyukainya. Bahkan aku bisa mencium harumnya dari balkon kamarku" puji Megan dengan gummy smile nya.


"Oh ya. Apa Edward tak pulang semalam?" lanjut Megan sembari menyelesaikan rangkaian bunganya.


Raut wajah Nenek Lusi seketika berubah "Andai kau tau apa yang sedang keluarga kita lakukan sweety. Mereka sangat menyayangimu"


"Grandma? Apa kau sakit?


"Ah ya Megan?" Nenek Lusi balik bertanya.


"Ah ya. Aku sedikit pusing" ucap Nenek Lusi berbohong.


"Kenapa grandma baru bilang? Ayo aku antar ke kamar" Megan berdiri menghampiri Nenek Lusi lalu menuntunnya ke kamar.


Setelah sampai di kamar, Megan membantu Nenek Lusi berbaring lalu menaikkan selimut agar Nenek Lusi merasa lebih hangat.


"Grandma menyayangimu Megan" ucap Nenek Lusi tanpa melepaskan genggamannya pada tangan Megan.


"Aku juga sangat menyayangimu. Sekarang grandma harus tidur. Aku tidak mau grandma melewatkan acara nanti malam"


Nenek Lusi mengangguk lalu perlahan menutup matanya. Setelah memastikan Nenek Lusi benar-benar tertidur, dengan langkah perlahan Megan keluar dari kamar.


Mata Megan menangkap Mr. Mark yang masih lengkap dengan jas berwarna navy.


"Daddy sudah pulang?"


"Ah Megan. Kemarilah, duduk bersama Daddy"


"Ada apa dad?" tanya Megan yang sudah duduk di sebelah Mr. Mark.


"Tak apa, bagaimana bunganya?"


"Kurang beberapa vas yang belum ku selesaikan"


"Maaf karena Daddy menjemputmu dengan tiba-tiba" ucap Mr. Mark sambil mengusap lembut puncak kepala Megan yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.


"Daddy terlalu berlebihan. Aku malah suka jika bisa membantu. Apalagi aku sangat menyukai bunga"


"Baiklah, selesaikan pekerjaanmu"


"Ah, apa dad tau dimana Edward? Dia tak kembali semalam"


"Dia sedang di kantor. Daddy memintanya untuk membantu sedikit pekerjaan daddy"


"Ah begitu rupanya. Kalau begitu aku akan melanjutkan pekerjaanku, Daddy beristirahatlah"


Megan beranjak meninggalkan Mr. Mark yang masih memandang sendu punggung gadis itu.


"Dia gadis yang baik bukan" Mrs. Mark datang dengan blouse motif bunga berwarna ungu yang terlihat sangat pas di badannya.


"Sangat baik. Edward tidak salah memilih seorang kekasih. Megan bahkan hampir mirip sepertimu. Cantik" goda Mr. Mark.


"Jangan mulai" peringat Mrs. Mark.


"Oh c'mon Rosie. Kau memang cantik"


"Aku akan menyusul Megan" ucap Mrs. Mark lalu meninggalkan suaminya yang sudah terbahak.


Disisi lain, Edward yang baru saja bangun dari tidurnya bangkit dan meregangkan tubuhnya yang sedikit terasa sakit karena tidur di sofa kecil. Jovial nampak masih pulas dengan jaket denim yang digunakan sebagai selimut.


"Kenapa tak membangunkanku?"


"Kalian tidur terlalu pulas. Aku tidak tega" Arthur berbalik menghampiri Edward dengan dua cangkir kopi di tangannya.


"Sampai jam berapa kalian terjaga?"


Edward hanya menghendikkan bahunya.


"Aku akan keluar membelikan sarapan" baru saja Arthur akan berdiri dari duduknya, suara Harry mengehentikan gerakannya.


"Aku sudah membawakan sarapan untuk kalian" ditangannya terdapat dua buah kantung plastik berukuran sedang. "Ella bangun pagi sekali untuk membuatkan ini"


"Dia masih menginap?" tanya Arthur sembari membuka bungkusan itu.


"Whoa pancake. I like it"


"Apa dia masih mendapat pesan ancaman?" tanya Edward ditengah-tengah kunyahannya.


"Sepertinya tidak" Harry mencoba mengingat-ingat.


"Uncle Vanderson mempunyai informasi tentang Thanos Group"


"Siapa dia?" tanya Harry.


"Ayah Megan?" Arthur memastikan


"Ya. Dia bilang besok akan datang"


"Aku siap untuk bekerja" ucap Arthur semangat.