
Aku berusaha untuk menghubungi Arfan via telepon, tapi Arfan sama sekali tidak menjawab panggilan teleponku. Sekarang aku bingung harus mencari Arfan ke mana lagi. Berlari ke sana ke mari hanya untuk mencari sosok Arfan yang sangat ingin aku temui hari ini juga.
Tiba-tiba saja, terdengar suara seorang pria yang sedang bernyanyi sambil memetik gitar lewat speaker sekolahku. Suara speaker itu berasal dari ruang penyiaran radio sekolahku yang biasanya selalu berbunyi jika sedang waktunya istirahat dan waktu jam sekolah berakhir.
Suara pria yang sedang bernyanyi itu rasanya sangatlah tidak asing untuk aku dengar. Dia menyanyikan lagu dari Lauv-Superhero, lagu yang pernah aku dengar dua bulan yang lalu.
I met a superhero
I lost her i want her back
She did things to me that no one else could
And i miss that
Ohh……
Don’t wanna talk about it
Ohh……
I was so wrong about it
Ohh…….
Can’t do a thing about it now
Now
Cause they say if you love her let her go
And they say if it’s meant to be you’ll know
Know
I met a superhero
I lost her i want her back
She did things to me that no one else could
And i miss that
I met a superhero
I lost her i want her back
She did things to me that no one else could
And i miss that
Ohh……
Don’t wanna talk about it
Ohh……
I was so wrong about it
Ohh…….
Can’t do a thing about it now
Now
(Lauv-Superhero)
Begitu selesai bernyanyi, pria yang hanya terdengar suaranya saja dalam speaker langsung mengatakan sesuatu yang membuatku langsung tersentuh begitu mendengarnya.
“*Aku ingin menjadi superhero seperti seseorang yang berada di dalam lagu tersebut. Tapi, aku tidak ingin menghilang karena aku ingin bertemu dengan seseorang yang sangat aku rindukan selama ini.
"Beberapa waktu ini aku kehilangan dia, dia banyak melakukan hal-hal yang tak bisa dilakukan oleh orang lain. Dan, aku sangat merindukan hal itu.
“Karisa Aghata Putri, aku sangat menyayangimu*.”
Begitu mendengar kalimat menyentuh tersebut, aku meneteskan air mata bahagiaku. Sekarang, aku tidak menyesal dengan pilihan yang aku buat.
Arfan, terima kasih untuk pengakuanmu.
“Risa!” teriak seseorang yang membuatku langsung membalikkan badan begitu namaku di panggil saat aku tengah mencari sosok Arfan.
“Arfan?” kataku pelan begitu melihat ada sesosok pria yang sangat aku sayangi itu muncul di dekat perpustakaan sekolah.
Aku dan Arfan sama-sama berlajan dengan langkah perlahan untuk saling menghampiri satu sama lainnya. Begitu jarak kami semakin dekat, tiba-tiba saja dengan reflek aku memeluknya begitu erat.
Aku tidak peduli dengan orang lain yang mungkin melihat kejadian ini. Yang aku pedulikan saat ini hanyalah bertemu dengannya dan mengikuti apa kata hatiku.
“Gue nyariin lo dari tadi,” kataku yang masih berada dalam pelukan Arfan.
“Gue juga nyariin lo.”
“Kenapa telepon gue nggak diangkat?” tanyaku ketus.
“Handphone gue lowbet, Ris. Sorry,” katanya terdengar menyesal.
“Gue kangen sama lo, Fan.” Arfan terdiam dan tidak membalas perkataanku.
“Gue juga kangen sama lo, Ris,” katanya yang akhirnya membalas pernyataanku.
“Gue sayang banget sama lo, Fan. Jadi, kita jangan putus, yah?”
Arfan melepaskan pelukanku. Dia menatap wajahku dengan tatapan mata yang begitu lembut. Dia juga memegang kepalaku dan tersenyum lebar penuh kehangatan.
Senyumannya benar-benar manis dan menggetarkan hatiku. Aku suka kalau Arfan sudah tersenyum seperti itu.
“Nggak ada orang, kan?” tanyanya sambil celingak-celinguk.
“Kenapa emangnya?” tanyaku bingung.
Tiba-tiba saja Arfan mencium keningku hingga membuatku menjadi begitu gugup akibat perbuatannya itu. Jantungku berdegup begitu kencang, wajahku menjadi tegang dan terlihat begitu panik.
Mungkin ini berlebihan, tapi ini adalah hal yang indah yang pernah aku lakukan bersama pacarku. Walau hanya cium di kening, tapi ini benar-benar manis seperti kisah drama korea favoritku. Dan, sejak dulu aku selalu ingin kisahku seperti kisah dalam drama korea favoritku itu.
“Gue juga sayang sama lo, Karisa. Sayang banget malah,” katanya sambil tersenyum.
“Makasih untuk lagunya, yah,” kataku sambil menatap wajahnya.
“Elo denger gue nyanyi?”
“Iya. Gue suka denger lo nyanyi sambil main gitar.”
“Ris, gue tahu gue bukan pria yang baik, bukan pria yang pintar, bukan pria yang romantis dan bukan pria seperti yang elo mau. Tapi, gue bisa jadi pria yang menyayangi lo dengan tulus, bisa menjadi pria yang diandalkan oleh lo dan juga menjadi pria yang menggemaskan buat lo,” katanya sambil menatap wajahku dengan tatapan lembutnya.
“Iya, gue tahu, ko. Elo itu sudah menjadi superheronya gue. Makasih untuk semua kenangan manis yang elo berikan selama ini sama gue. Jadi, jangan pernah menghilang lagi dari pandangan gue, yah?”
Arfan tersenyum lebar dan kembali memelukku begitu erat.
“Iya, gue janji sama lo nggak akan pernah menghilang lagi. Elo juga harus janji satu hal sama gue.”
“Apa itu?” tanyaku sambil melepaskan pelukannya.
“Selalu tersenyum lebar saat bertemu dengan gue. Jangan jutek dan ketus lagi sama gue. Janji?”
“Janji,” jawabku sambil menggenggam kedua tangannya dan menatapnya lembut.
“Perempuan hebatku.”
“Lelaki hebatku.”
Terima kasih banyak Asti. Karenamu, aku jadi tahu kalau aku benar-benar sangat menyayangi Arfan dan tidak ingin berpisah darinya.
Karena kamu adalah Arfanku, milikku, kekasihku.