
Dengan setelan jas hitam, Edward nampak sangat berwibawa. Darah ayahnya benar-benar mengalir pada tubuhnya. Pantofel hitamnya memasuki ruangan kaca ber-AC namun ber hawa panas.
“Baiklah, perkenalkan Edward James Mark. Putra sematawayangku yang akan melanjutkan kepemimpinanku nantinya” dengan tegas Mr. Mark memperkenalkan Edward kepada kolega kerjanya.
“Aku sering mendengar namamu Ed. Kurasa aku akan mengajukan kerja sama”
“Benarkah? Terimakasih Mr. Joan” ucap Edward dengan senyumya.
“Namamu berkali-kali ku baca di beberapa surat kabar” sahut Mr. Arhoz.
“Bolehkah aku menyombongkan diri?” ucap Edward membuat seua orang tertawa. “Mr. Alex? Bagaimana kabarmu?” sapa Edward pada salah satu pengusaha yang hanya diam sedari ia masuk.
“Aku baik Ed. Kau terlihat sangat hebat” puji Mr. Alex membuat Edward tersenyum sinis. “Let’s play the game Mr. Alex”
Meeting telah berakhir setengah jam yang lalu dan hanya menyisakan Edward yang duduk di salah satu kursi dan Mr. Mark yang tengah berdiri di depan kaca besar sembari memandangi Kota Tontoro dari atas.
“Bagaimana keadaan Megan?” tanya Mr. Mark tanpa mengalihkan pandangannya.
“Aku belum sempat memberinya kabar”
“Ck. Temuilah, dad tau kau merindukannya” goda Mr. Mark berbalik memandang Edward yang mendengus. “Urusan Alex, dad yang akan mengaturnya. Kau hanya perlu menjaga Megan”.
Ucapan Mr. Mark barusan membuat Edward tersenyum, ayahnya memang sangat tau tentang dirinya.
“Aku pergi” pamit Edward beranjak dari tempat duduknya.
“Sampaikan salamku pada Megan”
Disisi lain seorang gadis tengah bersantai dengan secangkir susu hangat dengan sesekali menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Suara mobil yang berhenti di halaman rumahnya membuat gadis itu berdiri untuk melihat siapa yang datang.
“Mobil siapa itu? Aku tak pernah melihatnya”
“Megan. Turunlah, ada yang mecarimu” suara Margareth membuat Megan segera beranjak dari tempatnya.
Seseorang dengan setelan jas hitam terlihat sedang berbincang dengan sang ayah. Megan tak bisa melihat wajahnya karena posisi pemuda itu membelakanginya.
“Megan” panggil Mr. Vanderson.
Seketika pandangan Megan bertemu dengan mata elang yang membuatnya bimbang dua hari terakhir.
“Kalian berbincanglah” ucap Mr. Vanderson berlalu.
“Bagaiman keadaanmu?” tanya Edward sambil menepuk tempat disebelahnya.
“Sudah membaik. Kau dari mana?” penampilan formal Edward membuat dahi gadisnya mengerut.
“Kantor daddy. Ada beberapa urusan yang harus ku selesaikan”
“Ah baiklah Tuan Muda Edward. Apa yang kudapatkan sebagai hadia kenaikan pangkatmu?” goda Megan membuat tangan Edward mengacak rambutnya.
“Kau mengetahuinya?”
“Tentu saja. Wajahmu terpampang di stasiun televisi manapun”
“Benarkah? Apa aku terlihat tampan?”
“Yaishh” Megan menyikut pelan perut Edward. “Jadi apa yang membuatmu kesini?”
“Hanya merindukanmu”
Sungguh, rasanya Megan ingin berteriak. Bagaimana bisa pemuda di depannya ii dapat membuatnya tersipu hanya dengan berkata bahwa ia rindu. Sepertinya Megan sudah jatuh dalam pesona seorang Edward.
“Apa kau memakai riasan? Wajahmu tampak merona”
“Jangan menggodaku Ed”
“Daddy menitipkan salam untukmu”
“What! Mengapa ayahmu bisa mengetahuiku?”
“Memangnya kenapa? Mommy juga mengajakmu bertemu akhir pekan nanti”
“Aishh Edward. Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana jika mereka tak menyukaiku?”
“Calm down sweety. Mereka baik”
“Aku sampai dalam 15 menit” ucap Edward lalu mematikan sambungan telephone nya.
“Aku harus pergi”
“Secepat itu?”. Senyum Edward mengembang mendengar Megan seperti tak rela ia pergi.
“Apa kau masih merindukanku hem? Beristirahatlah, besok akan ku jemput”
“Baiklah. Jaga dirimu” ucap Megan melepas pelukannya.
Perlahan BMW i8 silver itu menghilang dari pandangan Megan. Ah, rasanya Megan ingin bersama Edward lebih lama lagi.
“Ada apa dengan wajah putriku ini” Mr. Vanderson tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
“Ah dad”
“Bukankah kalian akan bertemu lagi esok” ucapan Mr. Vanderson membuat Megan tertunduk malu. “Putriku ternyata sudah besar”
🌚
“I miss you so much Chall” ucap Ella sembari memeluk Megan erat.
“Me too Ell. So, berita apa saja yang aku lewatkan?”
“Aku akan menceritakan banyak hal yang terjadi”
Megan tertawa pelan mendengar Ella. “Baiklah”
Megan berteriak menjauh dari lokernya. Matanya tertutup rapat dengan edua tangan menutup telinganya. Ella yang terkejut pun langsung menghampiri Megan yang terduduk dengan bahu yang bergetar. Untunglah keadaan koridor sedang sepi.
“What’s wrong Chall?”
“A..a..aku t..tta..kut Ell”
Ella pun mengecek apa yang ada di dalam loker milik Megan dan betapa terkejutnya saat menemukan bangkai tikus penuh darah serta beberapa ancaman.
“What the hell!!” umpat Ella lalu menutup kasar loker bernomor 245 itu. Jari mungilnya menekan beberapa huruf di handphone nya. Tak lama, Edward terlihat berlari diikuti kedua temannya.
Edward yang panik pun langsung membawa Megan dalam pelukannya.
“Hey tak apa, ada aku”
Setelah menenangkan Megan dan menyuruh Harry mengantarnya pulang, gadis itu sungguh tak dalam keadaan baik-baik saja. Edward memandangi loker penuh darah di hadapannya. Tangannya megepal bersamaan dengan rahangnya yang mengeras, marahnya sudah sampai di puncak ubun-ubun.
“Shit!! Arthur, cepat cari pelakunya! Aku mau hasilnya 2 jam lagi” ucap Edward dengan sorot mata tajam. Dengan lincah, Arthur menggerakkan jarinya di tas keyboard laptopnya. Jovial masih diam dengan tangan bersedekap di dadanya.
“What the ****!! Dasar brengsek!” umpatan Edward kali ini berhasil mengejutkan ketiga sahabatnya.
“Calm down Ed, tenangkan dirimu” Jovial mencoba menenangkan Edward dengan tepukan pelan di bahu Edward. Menyadari tatapan tajam Edward, membuat Jovial mengikuti arah pandangnya.
“Shit! Kita bergerak sekarang!” ucap Jovial dengan wajah memerahnya.
Jovial menginjak penuh pedal gas nya mencoba mengikuti mobil di depanya. Baru kali ini ia melihat Edward sangat marah, bahkan ia tak mempunyai nyali hanya untuk sekedar bertanya.
“Apa kau tak bisa memelankan mobil ini Jo. Sungguh aku belum ingin mati” ucap Leo ketakutan dengan terus mengeratkan pegangannya.
“Dasar bodoh! Lalu bagaimana caranya kita mengejar Edward” Harry berucap sambil memukul bagian kepala Leo hingga membuatnya mengaduh.
Mobil Edward berhenti hingga membuat suara berdecit di halam sebuah rumah besar. Langkah terburu-buru serta raut kemarahan membuat bebarapa housemaid menatap heran tun muda mereka.
“Dad. Dia berulah lagi” ucap Edward dengan nafas memburu.
“Apa yang terjadi Ed” Marrie menyahut.
Tak lama, sahabatnya berdatangan membuat kedua orang tua Edward keheranan.
“Aku ingin membawa Megan untuk tinggal beberapa hari disini”
“Benar. Dengan begitu, kurasa Megan akan lebih aman” Jovial ikut bersuara.
“Baiklah. Akan kuhubungi Vanderson” putus Mr. Mark