ABOUT YOU

ABOUT YOU
Di balik Ayunan



"Iya. Dia sering sekali memberikan gue uang saku. Tapi, saat itu juga gue menolaknya dengan tegas. Karena gue tidak butuh uangnya. Nyokap masih mampu ko ngasih gue uang jajan,” cerita gue kepada Risa saat dia bertanya soal gossip gue yang katanya suka jalan sama tante-tante berlipstik merah.


“Tunggu dulu, elo kenal tante-tante itu dari mana?” tanya Risa bingung.


Gue kembali terdiam dan menghela nafas cukup panjang. Ini sebenarnya tidak pantas untuk gue ceritakan. Tapi, Risa harus tahu yang sebenarnya tentang tante-tante itu. Gue tidak mau ada rahasia diantara kami berdua. Jadi, gue putuskan untuk menceritakan rahasia ini kepada Risa. Walau pun sebenarnya ini berat banget untuk gue ceritakan.


“Tante-tante itu kakak kandung gue, Ris,” kata gue menjawab kemudian.


“Apa??” teriaknya kembali yang terlihat begitu syock begitu mendengar jawaban gue.


“Dia kakak pertama gue. Namanya Sarah. Orang tua gue itu punya empat anak, satu laki-laki dan 3 perempuan.”


“Tapi, kenapa bisa seperti itu, Fan?”


Gue menatap ke arah langit yang diselimuti oleh ribuan bintang. Rasanya, sulit memang untuk menceritakan ini semua. Ini kisah kelam gue, aib keluarga gue. Tapi, gue harus bisa menceritakan ini semua kepada Risa. Karena Risa itu adalah pacar gue, cewe yang gue sayang saat ini.


“Hubungan kak Sarah dengan keluarga gue memang buruk selama 5 tahun belakangan ini. Dia tidak pernah pulang ke rumah, bahkan sering kali bertengkar dengan almarhum bokap dan juga nyokap. Gue masih ingat dengan teriakannya ketika dia memutuskan untuk keluar dari rumah. Dia lebih memilih pria brengsek itu dari pada keluarganya sendiri.


“Almarhum bokap marah besar saat kejadian itu terjadi, bahkan nyokap sampai menangis dan terlihat putus asa. Bokap dengan tegas akan mencoret nama kak Sarah dari daftar keluarga jika dia tetap keluar dari rumah dan mengikuti kekasihnya yang brengsek itu.


"Pria brengsek itu sudah menghancurkan kakak gue, Ris. Semenjak kenal pria brengsek itu, kakak gue jadi suka pulang tengah malam, mabuk-mabukkan, bahkan hampir terjerat narkoba. Dan, yang lebih parahnya lagi, penampilannya sekarang sudah seperti wanita penggoda.


“Gue nggak tahu kakak gue kenal dari mana dengan pria brengsek itu. Tapi, semenjak kenal pria itu kakak gue jadi binal. Kakak gue sudah merusak nama keluarga. Dia bahkan tidak menghadiri pemakaman almarhum bokap. Dia bahkan nggak ada di saat terakhirnya bokap.


"Tapi, tiba-tiba saja satu tahun yang lalu dia menemui gue di sekolah gue yang dulu, mencoba untuk bertemu dengan gue dan juga Arini. Mengganggu hidup gue kembali dan membuat gue pusing sendiri kalau sudah berhadapan dengannya.


“Rasanya, ingin sekali gue memaafkan kakak gue dan kembali seperti dulu lagi. Tapi, kalau mengingat nyokap sering kali menangis karena perbuatannya, gue tidak ingin memaafkannya.”


Sekarang, gue jadi malu sendiri untuk menatap wajahnya Risa. Risa itu berasal dari keluarga baik-baik, keluarganya juga cukup berada. Gue jadi merasa kecil di hadapan Risa kalau sudah menceritakan kisah kelam ini.


“Arfan.”


Risa memanggil nama gue dan menggenggam kedua tangan gue dengan erat. Saat gue melihatnya, dia tersenyum lebar. Rambutnya yang basah karena air hujan, tidak memudarkan kecantikannya. Dia berlutut dan menatap wajah gue begitu dalam saat gue tengah duduk di sebuah ayunan.


“Setiap orang pasti mempunyai permasalahan hidupnya sendiri. Gue tahu, permasalahan yang lo hadapi itu cukup berat. Tapi, dengan kejadian ini gue mau berterima kasih banyak sama lo. Karena lo, mau menceritakan kisah ini sama gue. Itu artinya elo percaya sama gue. Makasih yah, karena lo sudah mempercayakan cerita ini sama gue.


“Gue mungkin tidak bisa berbuat banyak tentang masalah lo. Tapi, kalau lo butuh seseorang untuk menemani lo, mendengarkan cerita lo, gue siap menjadi seseorang itu. Kan, elo bilang sendiri kalau gue itu pacar lo. Jadi, jangan pendam rahasia lo seorang diri lagi, yah? Berbagilah kesulitan itu bersama gue, karena setidaknya gue juga bisa merasakan apa yang lo rasakan selama ini.”


Gue tersenyum tipis. Gue membalas genggaman tangan Risa dan menatapnya dengan pandangan penuh cinta dan juga kehangatan.


“Terima kasih banyak, Karisa Aghata Putri.”


“Sama-sama, Arfan Aldebaran Hamizan.”


Kami berdua sama-sama melempar senyum. Gue memegang kepalanya dengan lembut dan mendekap tubuhnya agar tidak kedinginan.


“Biar gak dingin.”


“Modus yah biar bisa meluk?” katanya menyindir.


“Sedikit,” jawab gue yang membuat Karisa tertawa mendengarnya.