ABOUT YOU

ABOUT YOU
Kamu yang Mengagumkan



Aku cemas, aku khawatir dan aku sangat panik begitu melihat Arfan berkelahi seperti tadi untuk membela teman-temannya. Tapi, aku juga kagum dan bangga padanya, karena dia rela babak-belur seperti ini hanya untuk menolong temannya.


Arfan yang setia kawan dan Arfan yang selalu membela keadilan, membuat mataku terbuka. Dia berkelahi seperti itu karena ada alasannya tersendiri.


Dia tidak suka orang-orang terdekatnya terluka, dia tidak suka orang yang ia sayangi kesusahan. Mungkin, salah satu cara pria memperlihatkan kesetia kawanannya itu dengan berkelahi untuk membela temannya. Mungkin, ada sebagian orang yang tidak suka dengan cara Arfan yang berandalan seperti itu. Tapi aku suka, aku suka dengan cara dia yang tegas dan cenderung kasar seperti itu.


“Jangan terluka lagi, yah?” kataku yang tiba-tiba memeluk Arfan hingga membuat teman-temannya Arfan langsung mengalihkan pandangan mereka begitu aku memeluk temannya itu.


Arfan terdiam. Mungkin, dia terlihat begitu terkejut dengan pelukan yang aku lakukan secara tiba-tiba seperti ini. Tapi, lambat laun Arfan membalas pelukanku juga.


“Iya, gue janji sama lo gak akan terluka lagi.”


“Mampus, pelukan, euy! Nasib orang jomblo mah kieu waelah!” seru Mbul yang membuat kami semua langsung tertawa mendengarnya.


Setelah kejadian perkelahian itu, kami semua memutuskan untuk kembali ke sekolah. Aku tahu, kita pasti bakalan mendapatkan hukuman karena sudah datang terlambat. Tapi, kami semua memberanikan diri kami untuk tetap ke sekolah mau dalam hal apa pun itu.


Akibat keterlambatan kami, pak Uus pun menghukum kami dengan hukuman yang sangat berat. Berlari mengitari lapangan sebanyak 25 putaran dan memunguti sampah yang berada di area sekolah. Walau lelah, tapi aku tidak merasa sedih atau pun kecewa. Karena dengan hukuman ini, aku merasa jadi lebih dekat dengan teman-temannya Arfan begitu pun dengan Arfannya sendiri.


“Nih.” Arfan memberikanku botol minuman setelah kami semua selesai menjalani hukuman kami.


“Gue boleh jujur sama lo?” tanyaku tiba-tiba.


Arfan menoleh padaku kemudian mengangguk.


“Soal kang Abizar, dulu gue sempet suka sama dia,” kataku menjelaskan.


Arfan terdiam. Ekspresi wajahnya sulit diartikan, tapi sepertinya aku harus tetap menceritakan soal Abizar kepada Arfan agar tidak terjadi kesalah fahaman.


“Dulu, gue suka sama kang Abi. Dulu, gue pernah ikutan Osis karena ada kang Abi dan ingin mengenalnya dia lebih dekat. Gue akrab dengannya, tapi semenjak kang Abi pacaran dengan teh Tita, gue menyerah soal perasaan gue. Gue nggak mau mengharapkannya lagi dan gue pun memutuskan untuk keluar dari Osis.


“Keluar dari Osis bukan semata-mata karena kang Abi saja. Ayah nggak suka gue pulang malam terus karena Osis. Jujur, gue gak tahu rasanya pacaran itu seperti apa. Tapi, semenjak kenal lo hidup gue berubah. Gue nggak suka lo deket-deket sama cewe lain selain gue, gue juga gak suka sama Asti mantan lo itu. Orang bilang itu katanya cemburu. Kayanya, gue emang cemburu sama lo, Fan.”


Aku terdiam beberapa saat. Aku mengumpulkan semua keberanianku untuk berkata jujur kepada Arfan. Aku juga harus mengatakan soal kang Abi tempo lalu yang tiba-tiba saja mengutarakan perasaannya padaku.


Mendengar kang Abi suka padaku, harusnya aku senang. Karena itu artinya, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi, entah kenapa rasanya aku tidak seantusias dulu. Malah, terkesan aku menjawab pernyataan kang Abi tentang perasaannya padaku dengan cuek.


“Kang Abi suka sama aku?” tanyaku tidak percaya begitu kang Abi bilang kalau dia menyukaiku.


“Iya, Ris. Sejak dulu aku suka sama kamu, aku pacaran sama Tita juga karena ingin membuat kamu cemburu. Tita memang suka sama aku, aku juga terpaksa menerima cinta Tita karena sepertinya kamu sudah menjaga jarak dariku. Kamu yang tiba-tiba menjauhiku, membuatku akhirnya menyerah tentang perasaanku. Ini mungkin konyol, tapi aku tidak ingin menyakiti Tita lebih jauh lagi. Yang aku suka kamu, bukan Tita.”


Aku tidak menyangka kalau selama ini ternyata kang Abi suka padaku. Aku fikir, cintaku selama ini padanya bertepuk sebelah tangan. Ternyata?


“Aku menjauhi kang Abi karena aku tahu kang Abi suka sama teh Tita,” kataku menjelaskan.


Aku terdiam beberapa saat. “Itu dulu, Kang. Sekarang, yang aku suka bukan akang. Aku suka sama Arfan. Arfan pacarku,” tegasku.


“Jadi, nggak ada kesempatan lagi buat aku, Ris?” tanya kang Abi sambil menggenggam tanganku erat.


“Maaf, tapi aku sudah tidak menyukaimu lagi. Aku menyukai pacarku, pacarku seorang,”kataku menjawab dengan tegas sambil melepaskan genggaman tangannya dariku.


“Tapi, kita masih bisa temenan lagi seperti dulu, kan?”


“Tentu, itu pasti,” kataku menjawab sambil tersenyum dan kang Abi membalas senyumanku juga.


Kami berdua saling melempar senyum dan rasanya sangat bahagia sekali ketika kami sudah tahu tentang perasaan kami masing-masing walau pada posisi aku yang sudah memiliki pacar.


“Jadi, lo sama kang Abi itu gak ada hubungan apa-apa, kan? Selain senior dan junior?” tanya Arfan begitu selesai mendengar ceritaku.


“Tentu, gue kan punya lo. Untuk apa gue menjalin hubungan lain kalau gue punya lo?”


“Cute, gue suka jawaban lo,” katanya sambil menyubit kedua pipiku.


“Terus, soal Asti gimana? Gue nggak suka lo deket-deket sama dia.”


“Elo tenang aja, Ris. Gue setia sama lo, yang gue sayang cuma lo. Percaya sama gue, kan?”


Aku mengangguk dan kembali tersenyum padanya.


“Ris, jadi lo beneran suka dan sayang sama gue?” tanyanya yang membuatku langsung mengalihkan pandanganku karena malu. “Ris, jawab, dong!” desaknya sambil menggenggam kedua tanganku.


Aku menundukkan kepalaku sambil memutar-mutar kaki kananku sembari membuat sebuah tulisan di tanah dengan sepatuku.


“Iya,” jawabku malu-malu.


“Apa? Nggak kedengeran, Ris?”


“Iya, gue suka sama lo,” kataku pelan dengan kepala yang masih menunduk.


“Nggak kedengaran, Ris!” katanya yang membuatku rasanya sangat malu mengutarakan perasaanku yang sejujur-jujurnya padanya.


“Gue suka sama lo, Arfan Aldebaran Hamizan!” teriakku tampak sadar hingga membuat teman-temannya langsung melirik ke arahku dan menyoraki kami berdua.


“Ciee . . . Aldebaran Hamizan!” seru teman-temannya Arfan yang membuatku menjadi salah tingkah.