
Arfan duduk di sampingku, dia menatap wajahku cukup lama sambil tersenyum simpul. Aku membalas senyumannya dan merasa cukup senang bisa berkumpul dengan keluarga kecil Arfan. Namun, aku kembali berfikir sejenak. Aku kembali teringat soal kotak lusuh dan bingkai foto itu.
Mendadak, aku juga jadi teringat perkataan Jeni yang mengatakan kalau Arfan itu suka jalan dengan perempuan berlipstik merah. Aku harus membicarakan soal ini denga Arfan.
“Ayo, di makan makanannya, Ris. Makan seadanya aja, yah. Soalnya ibu nggak bisa masak,” kata ibunya Arfan seraya tertawa kecil.
“Iya, Tante. Terima kasih banyak.”
Ibunya Arfan benar-benar baik padaku. Beliau membawakan beberapa makanan ke dalam piringku. Aku seperti melihat sosok bunda pada diri ibunya Arfan. Beliau cantik, baik dan penuh perhatian. Seketika aku tersentuh dengan segala perhatian kecil ibunya Arfan padaku. Dan, tiba-tiba saja air mataku membasahi kedua pipiku.
“Jangan nangis,” ujar Arfan pelan sambil menggenggam tanganku dan menatap wajahku.
“Iya, gue nggak akan nangis,” kataku menjawab sambil menghapus air mataku.
Setelah selesai makan malam bersama dan membantu ibunya Arfan di dapur, aku tak sengaja mendengar Arfan seperti sedang bertengkar dengan seseorang di telepon. Suaranya terdengar berat dan beberapa kali Arfan terdengar menaikkan volume suaranya.
Telepon dari siapa ya kira-kira, sampai membuat Arfan kesal seperti itu?
“Kenapa, Fan?” tanyaku begitu Arfan keluar dari kamarnya.
“Nggak apa-apa. Udah malam, gue anterin lo pulang, yah?”
“Ya udah, ayo.”
Karena sudah malam, aku memutuskan untuk berpamitan pulang kepada ibunya Arfan dan juga Arini.
“Hati-hati di jalan, yah? Kalau Arfan macem-macem sama Risa, Risa nggak usah segan mengadu sama ibu dan juga Arini.
Nanti, kita pasti marahin Arfan di rumah,” tutur ibunya Arfan sambil merangkulku.
“Iya, Tante,” jawabku malu-malu.
“Panggil ibu saja, biar terlihat akrab.”
“Iya, Ibu.”
Kami kembali berpelukan. Arini yang sejak tadi hanya diam saja, langsung menghampiri kami dan langsung memeluk kami berdua begitu erat.
“Ikutan, dong!” seru Arfan yang langsung merentangkan kedua tangannya bermaksud untuk memeluk kami. Tapi, Arini langsung mencegah kakaknya seraya menarik tangan kanan Arfan dengan kasar.
“Nggak boleh, bukan muhrim,” katanya yang membuatku dan juga ibunya Arfan tertawa.
“Huh, curang! Ya udah, pulang yuk, Ris. Gue udah janji sama bokap lo nggak akan pulang malem-malem.”
“Iya. Bu, Arini, Risa pamit pulang dulu, yah?” kataku seraya mencium telapak tangan ibunya Arfan dan memeluk Arini begitu erat.
“Nanti main ke rumah lagi yah, Teh Risa.”
“Iya.”
Setelah berpamitan, aku dan Arfan langsung bergegas pergi karena jam sudah menunjukan pukul 8 malam. Karena hujan, dengan terpaksa kami berteduh di sebuah halte dengan keadaan pakaian kami yang sudah basah kuyup.
“Elo udah bilang bokap lo kan kalau lo pulang telat karena hujan?”
“Udah. Tadi gue udah whatsapp ayah, ko.”
“Apa perlu gue telepon ayah lo, biar ayah lo tenang?”
“Nggak perlu. Ayah udah bilang nggak apa-apa tadi. Jadi, elo nggak usah telepon ayah.”
Arfan mengangguk. Hujan turun begitu deras, orang-orang di jalan banyak yang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Udara pun semakin dingin dan genangan air mulai terlihat di mana-mana.
Tiba-tiba saja, Arfan menggenggam tangan kananku hingga membuatku menatap wajahnya karena terkejut dengan sikapnya itu.
“Biar nggak dingin. Nggak apa-apa kan kalau gue pegang tangan lo?” tanyanya sambil menatap wajahku.
“Iya, nggak apa-apa,” jawabku malu-malu.
Entah kenapa, sikap manis Arfan hari ini membuatku sangat bahagia. Aku sangat bahagia karena Arfan menggenggam tangan kananku begitu erat sampai tidak mau terlepas. Genggaman tangannya begitu hangat, aku sampai dibuat gugup dengan sikap manisnya kali ini.
“Hari ini elo pasti capek banget, yah?” tanya Arfan.
“Nggak, ko. Hari ini menyenangkan. Makasih yah, Fan.”
“Sama-sama. Gue ikut seneng kalau lo seneng.”
“Makasih juga yah udah ngenalin gue sama ibu juga Arini. Gue jadi ngerasa punya keluarga baru.”
Arfan kembali tersenyum dan membelai-belai rambutku dengan lembut.
“Udah reda, nih. Pulang sekarang?” tanya Arfan yang masih menggenggam tanganku.
“Iya.”
“Dingin nggak?” teriak Arfan saat sedang mengendarai motornya.
“Lumayan,” sahutku yang ikut berteriak juga.
“Kalau dingin peluk gue aja. Tubuh gue siap untuk menghangatkan lo!” katanya kembali berteriak.
“Boleh?”
“Bolehlah. Elo kan pacar gue.”
Karena sudah diizinkan, aku langsung memeluk tubuh Arfan begitu erat. Aku juga merebahkan kepalaku di bahunya Arfan yang lebar. Ahh, rasanya begitu nyaman sekali. Jadi ingin berlama-lama memeluk Arfan.
“Fan, boleh nanya nggak?”
“Nanya apa?”
“Tadi, elo teleponan sama siapa? Ko, kelihatannya lo kaya yang lagi berantem gitu di telepon?”
“Oh. Bukan siapa-siapa, ko. Itu temen aja, Ris. Biasalah anak laki kalau ngobrol emang kaya orang yang lagi berantem,” jawabnya terlihat gugup.
“Beneran?”
“Iya, bener.”
“Terus, gue boleh nanya lagi nggak sama lo?”
“Nanya apa lagi, Ris? Kayanya, elo banyak bertanya hari ini.”
“Soal gossip yang mengatakan kalau lo suka jalan sama tante-tante berlipstik merah itu bener nggak?”
“Hah?” teriaknya tampak terkejut.
“Tante berlipstik merah itu siapa, Fan? Kenapa banyak gossip yang aneh-aneh soal lo, sih?”
Arfan terdiam. Dia tak menjawab dan membuatku semakin penasaran soal gossip yang beredar tentang tante-tante berlipstik merah itu. Apa jangan-jangan, gossip itu benar adanya? Kalau benar, aku harus tahu identitas tante-tante itu yang sebenarnya. Dan, aku harus siap mendengar jawaban Arfan soal gossip itu.
“Jujur aja, Fan. Gue nggak akan marah, ko.”
Arfan memberhentikan motornya di tepi jalan. Dia membuka helmnya dan melirik ke arahku.
“Kita ngobrol sebentar lagi bisa nggak?”
“Hah? Iya boleh.”
“Kita cari tempat duduk dulu, biar enak ngobrolnya.”
Setelah menemukan sebuah taman, aku dan Arfan langsung menuju ke sana untuk membicarakan apa yang dipertanyakan olehku tadi di motor. Kami berdua langsung duduk di sebuah ayunan terpisah dengan posisi saling menundukkan kepala.
“Elo mau tahu yang sebenarnya tentang tante-tante berlipstik merah itu, Ris?” tanyanya membuka suara.
“Iya. Gue perlu tahu soal itu, biar nggak ada kesalah fahaman diantara kita.”
Arfan menghela nafas pendek. Ia menganggukkan kepalanya kemudian menatap wajahku dengan kedua bolanya yang terlihat sendu.
“Gossip itu benar adanya, Ris,” katanya tiba-tiba.
“Hah? Maksud lo?”
“Iya. Soal tante-tante itu benar adanya. Gue memang pernah jalan bareng tante-tante berlipstik merah.”
“Elo serius?” tanyaku untuk memastikan.
“Iya, gue serius.”
Degghh, rasanya jantungku berdetak begitu cepat. Aku tidak menyangka, kalau gossip soal tante-tante itu benar adanya. Lantas, siapakah tante-tante itu? Ko, rasanya aku tak rela mendengar ceritanya. Rasanya, hatiku sakit begitu mendengarnya, Tapi, aku penasaran. Dan, aku ingin tahu yang sebenarnya dari mulut pacarku sendiri tentang gossip itu.
“Jadi?” kataku membuka suara.
“Tante-tante itu orang yang gue kenal, Ris. Dia usianya terpaut 13 tahun dari usia gue sekarang. Kalau jalan sama gue mungkin kelihatannya seperti tante-tante. Tapi, sebenarnya dia belum tante-tante banget, ko.”
Apa? 13 tahun? Apa jangan-jangan, tante-tante itu pacarnya Arfan yang dulu lagi? Lantas, apa mereka masih berhubungan sampai sekarang? Dan, kenapa juga bisa saling mengenal satu sama lainnya?
“Kalian masih berhubungan sampai sekarang?” tanya gue memberanikan diri.
“Dia yang sering menghubungi gue, Ris. Sering telepon gue, chatt gue dan ngajak gue ketemu setiap hari. Bahkan, dia kadang-kadang suka ngasih uang buat gue.”
“Apa? Kasih uang??” teriakku begitu terkejut saat mendengarnya.