
Sepulang sekolah, aku memutuskan untuk pulang naik angkot saja bersama dengan Jeni dan juga Dhea. Aku juga sudah memberi tahu Arfan via whatssapp. Karena aku ingin menghabiskan hariku hari ini dengan kedua temanku. Tapi, tiba-tiba saja aku melihat Arfan sedang bersama seorang perempuan cantik di depan gerbang sekolah.
“Siapa tuh, Ris?” tanya Jeni kepadaku.
“Nggak tahu,” jawabku bingung dengan mata yang masih tertuju ke arah Arfan yang sedang bersama seorang perempuan.
“Apa jangan-jangan itu Asti yang tadi telepon Arfan lagi, Ris,” kata Dhea yang membuatku gugup dan penasaran dengan perempuan cantik itu.
“Cantik yah dia,” kata Dhea kembali.
“Kalian duluan aja, gue ke Arfan dulu.”
Jeni dan Dhea mengangguk. Aku pun segera menghampiri Arfan dan bertanya sendiri kepadanya, siapa perempuan itu sebenarnya? Namun, belum sempat menghampiri Arfan, tiba-tiba saja perempuan itu memeluk Arfan begitu erat.
Rasanya dadaku sesak, kedua bola mataku panas, tenggorokanku sakit, untuk melangkahkan kakiku saja rasanya begitu berat. Tiba-tiba saja air mataku mengalir dan membasahi kedua pipiku.
Ada apa denganku?
“Risa?” panggil seseorang yang membuatku langsung menghapus air mataku dengan cepat.
“Kang Abi?” kataku yang terkejut begitu melihatnya.
“Kamu kenapa?” tanyanya terlihat khawatir.
“Nggak apa-apa, Kang,” jawabku berbohong.
“Beneran kamu nggak apa-apa? Mata kamu merah gitu.”
“Aku nggak apa-apa, ko. Oh iya, aku pulang duluan, Kang,” kataku yang langsung bergegas pergi.
“Tunggu dulu, Ris,” katanya yang langsung menarik tanganku hingga membuat langkahku terhenti, “pulang bareng aku, yuk? Mau nggak?”
“Hah? Pulang bareng?” Kang Abizar mengangguk dan kembali membuatku bingung tak tahu harus menjawab apa.
Aku terdiam beberapa saat. Aku bingung dan kalut harus bagaimana. Tapi, tanpa fikir panjang aku menerima tawarannya untuk pulang bersama.
“Iya, Kang. Boleh.”
Selama di perjalanan, aku terus memikirkan kebersamaan Arfan dan juga Asti. Duh, kenapa mereka sampai pelukan gitu, yah? Apa yang sedang mereka bicarakan? Apa jangan-jangan?
“Ris, mikirin apa?” tanya kang Abi saat kami berdua tengah berada di dalam mobilnya.
Oh iya, kang Abi ini anak orang kaya. Bapaknya ini pengusaha sukses, makanya dia suka mengendarai mobilnya sendiri ke sekolah.
“Nggak mikirin apa-apa ko, Kang.”
“Mikirin Arfan?” tanyanya kembali.
“Hah? Nggak, ko,” kataku yang kembali berbohong.
Aku hanya tersenyum tipis dan tidak menjawab. Aku sendiri saja bingung, kenapa aku bisa pacaran dengan seorang Arfan? Apa aku ini sudah gila? Iya, gila karena seorang pria bernama Arfan.
“Oh iya, kang Abi nggak pulang sama teh Tita? Kalau teh Tita sampai marah karena kang Abi nganterin aku gimana?” tanyaku sambil menatap wajahnya.
Kang Abi kali ini terdiam. Dia sempat menatap wajahku sebentar, tapi kemudian dia kembali menatap lurus ke depan.
“Udah putus, Ris.”
“Heh?” kataku tampak terkejut, “kenapa? Sayang banget, loh. Kalian cocok banget.”
“Kita nggak cocok, Ris. Lagian dari dulu aku sukanya sama orang lain bukan Tita.”
Aku terdiam dan melongo tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.
“Lah, terus kenapa kalian pacaran kalau gak suka?”
“Biar orang yang aku suka cemburu. Tapi, nyatanya aku salah. Dia malah makin menjauh dari aku.”
Aku masih tidak mengerti dengan apa yang dia bicarakan sebenarnya. Kenapa, kang Abi tiba-tiba malah curhat soal masalah orang yang dia suka padaku? Apa mungkin?
“Ris, aku boleh ngomong sesuatu sama kamu?”
Aku mengangguk dan kembali menatap wajahnya dengan ekspresi wajah yang terlihat serius. Sepertinya ini akan menjadi moment yang langka. Karena, jarang-jarang aku bisa berduaan dengan kang Abi di dalam mobil seperti ini. Tapi, apakah aku bahagia bisa berduaan dengannya?
“Kalau aku tiba-tiba bilang suka sama kamu gimana?”
“Apa?” kataku terlihat syock.
“Iya, kalau aku tiba-tiba pengen kamu jadi pacarku gimana?” katanya kembali yang kali ini benar-benar membuatku syock.
“Kenapa bisa? Kang, aku kan udah punya pacar. Akang tahu sendiri kan pacarku seperti apa. Bahkan, rasanya satu sekolah juga tahu kalau pacarku itu Arfan.”
“Emangnya, kalau aku menginginkan kamu jadi pacarku nggak boleh, Ris?” tanyanya.
Aku terdiam. Bukankah, dia dulu pacarnya teh Tita? Perempuan cantik, idaman pria di sekolah ini dan mantan wakil ketua Osisnya dulu. Lantas, apa yang harus aku jawab sekarang?
“Kang, akang tahu sendiri kan kalau aku udah punya pacar?”
“Iya, aku tahu itu.”
“Lantas, kenapa kang Abi bilang seperti itu?”
“Karena aku suka sama kamu, Ris. Aku ingin kita pacaran.”
“Apa?” teriakku tampak sangat terkejut.