ABOUT YOU

ABOUT YOU
KEPERCAYAAN



Begitu pengakuan cintaku, aku langsung pergi berlari menjauhi mereka semua karena menurutku ini sangat memalukan sekali. Ini benar-benar pertama kalinya aku mengakui perasaanku kepada seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah pacarku sendiri. Rasanya aneh, tapi aku cukup senang karena sudah mengakui perasaanku selama ini kepadanya.


Sejak perkelahian di taman Fleksi tadi pagi, aku jadi takut kalau sewaktu-waktu Arfan bertemu lagi dengan Sakti yang katanya musuh bebuyutannya selama di sekolahnya terdahulu. Mendengar cerita soal Sakti saja aku jadi takut sendiri.


Bahkan, Jeni dan Dhea yang aku ceritakan soal Sakti dan kejadian tadi pagi pun sangat khawatir kalau Arfan akan bermasalah lagi dengannya. Aku tidak tahu ke depannya akan bagaimana, aku berharap semoga Arfan tidak bermasalah lagi dengan yang namanya Sakti itu. Kalau bisa sih, tidak usah bertemu lagi dengannya selamanya.


Waktu bergulir begitu cepat. Saat jam istirahat berbunyi, aku tadinya mau pergi ke kantin bersama Jeni dan juga Dhea. Tapi, sepertinya aku harus mengurungkan niatku ke kantin bersama kedua temanku itu. Karena sepertinya, sudah ada kang Abi yang menghampiriku di depan kelas. Karena tidak ingin menganggu pertemuan kami, Jeni dan Dhea pun memutuskan untuk pergi lebih terdahulu ke kantin dan meninggalkan kami berdua untuk sejenak.


“Ada apa, Kang?” tanyaku bingung.


“Ris, putusin Arfan!” katanya tiba-tiba hingga membuatku terkejut begitu mendengar penuturannya barusan yang menurutku sangatlah tidak pantas diucapkan.


“Kang Abi ngomong apa, sih? Atas dasar apa kang Abi ngomong kaya gitu sama aku? Kang Abi nggak punya hak untuk memintaku putus dengan pacarku sendiri!” teriakku kesal.


“Arfan bukan laki-laki yang baik untuk kamu, Ris. Jadi, lebih baik kamu putusin dia,” katanya yang sok tahu itu.


“Kang Abi tahu apa soal Arfan? Yang tahu Arfan itu cuma aku sendiri dan orang terdekatnya.”


“Lihat foto ini. Setelah lihat foto ini, baru kamu boleh berkomentar.”


Kang Abi menyerahkan ponselnya padaku. Awalnya aku ragu untuk mengambilnya. Tapi, karena penasaran, aku pun mengambil ponsel miliknya dan melihat sendiri foto apa yang di maksud olehnya, sampai memintaku untuk memutuskan hubunganku dengan Arfan secara sepihak.


Begitu melihat foto tersebut, kedua bola mataku membelalak seperti hendak keluar dari kelopaknya. Rasanya, hatiku sakit melihatnya, kedua bola mataku memanas, seketika sekujur tubuhku berkeringat dingin.


Aku begitu terkejut karena foto itu adalah foto Arfan yang tengah berciuman dengan Asti yang tak lain adalah mantan kekasih Arfan sebelum berpacaran denganku.


Foto ciuman itu seperti berada di sebuah club malam. Kenapa . . . kenapa foto pribadi ini bisa menyebar luas seperti ini?


“Satu hal lagi. Kamu harus lihat video ini.”


Kang Abi memperlihatkan sebuah video padaku. Video itu ternyata video Arfan yang tengah berkelahi dengan Sakti di sekolahnya terdahulu yang menyebabkan Arfan di keluarkan dari sekolahnya. Video itu juga memperlihatkan di mana Arfan mencelakai Sakti sampai ia terjatuh dari tangga sekolah.


Fikiranku saat ini sangat kacau. Aku tidak tahu harus mempercayai siapa soal foto dan video ini. Tapi, ini adalah bukti nyata. Bukti di mana yang membuatku sangat kecewa sekali terhadap kekasihku sendiri.


“Sekarang, foto dan video ini sudah menyebar luas di sekolah kita. Kamu harus menjauhi Arfan, Ris. Dia tidak pantas buat kamu.”


“Jadi, kang Abi fikir, kang Abi yang cocok sama aku dari pada Arfan?” Akhirnya, hanya kalimat itulah yang keluar dari mulutku.


“Bukan begitu maksudku, Ris. Aku cuma ingin memberitahukan hal yang tidak pantas kamu pertahankan.”


“Jadi, menurut kang Abi, Arfan tidak pantas untuk aku pertahankan?” tanyaku kembali dengan kedua bola mata yang sudah memerah.


“Ris, bukan itu maksudku. Aku cuma . . . . “


“Sudahlah, Kang. Terimakasih sudah menyadarkanku dan memperlihatkan aku semua ini.”


Setelah menyelesaikan kalimatku, aku langsung bergegas pergi untuk mencari Arfan. Aku berusaha mencari Arfan ke kelasnya, tapi sepertinya dia tidak ada di sana. Di kantin pun, aku sama sekali tidak melihatnya. Bahkan, teman-temannya sendiri tidak tahu Arfan di mana.


“Arfan tadi langsung pergi begitu aja saat dia melihat video dan fotonya yang menyebar luas di sosmed,” kata Erwin saat aku menanyakan keberadaan Arfan di mana.


“Coba telepon aja, Ris,” saran Mbul yang diberi anggukan yang lainnya.


“Mungkin dia nyariin elo tadi. Soalnya, pas dia lihat foto dan video ini, dia langsung manggil nama lo gitu,” kata Tatang memberi tahu.


“Ya udah, makasih banyak yah informasinya. Kalau kalian ketemu sama Arfan, hubungin gue secepatnya.”


Ke mana Arfan sebenarnya? Aku khawatir sekali padanya. Banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya tentang semua ini. Arfan, kamu di mana?


“Karisa!” teriak seseorang saat aku hendak masuk ke dalam kelasku.


Aku membalikan badan. Begitu melihat wajah Arfan yang tengah memanggil namaku, aku langsung berlari menghampirinya.


“Elo ke mana, sih? Dari tadi gue nyariin lo, handphone lo juga gak aktif. Elo ke mana aja?” teriakku dengan wajah penuh emosi.


“Gue nyariin lo juga, Ris. Gue mau menjelaskan semua hal yang mungkin sudah lo lihat tadi sebelumnya.”


“Soal foto dan video itu?” tanyaku berusaha untuk lebih lembut.


Arfan mengangguk pelan. Dia menggenggam kedua tanganku sembari menatap kedua bola mataku dengan ekspresi wajahnya yang terlihat serius.


“Soal video itu memang benar adanya,” katanya membuka suara, begitu kami berdua tengah duduk bersama di dekat area perpustakaan sekolah.


“Elo sendiri sudah tahu dengan jelas kan ceritanya, bagaimana kejadian perkelahian itu yang sebenarnya. Tapi, gue punya bukti kalau Sakti itu sama sekali tidak geger otak seperti apa yang dia bilang hingga membuat gue di keluarkan dari sekolah.


“Hanya saja, gue tidak mau memperpanjang masalah ini. Gue membiarkan semuanya terjadi begitu saja dan mencoba untuk melupakannya. Kalau soal foto itu, gue mau jujur sama lo, Ris. Foto itu memang faktanya. Elo tahu sendiri kan pergaulan gue semenjak bokap meninggal 2 tahun yang lalu itu seperti apa?


“Gue seperti anak yang kelihangan arah dan jati dirinya. Gue memang brengsek, bengal dan tak layak lo perjuangkan. Karena semenjak kenal dan berpacaran dengan Asti, hidup gue kacau balau dan mengenal dunia malam seperti yang lo lihat di foto itu. Soal ciuman, itu memang benar. Gue ciuman dengan Asti mungkin karena dulu dia pacar gue. Tapi, sekarang kita udah putus. Nggak ada hubungan apa-apa lagi.


“Gue nggak tahu gimana caranya foto itu bisa tersebar luar seperti ini. Kalau lo mau marah sama gue soal video dan foto itu nggak masalah. Tapi, yang elo harus tahu itu gue udah taubat. Gue nggak pernah ke club malam lagi. Ris, elo tahu kan kalau gue sayang banget sama lo?”


Aku terdiam. Begitu mendengar semua penjelasan Arfan, hati dan fikiranku benar-benar kacau. Ingin berteriak kasar, memaki-makinya, tapi itu semua untuk apa? Itu tidak ada gunanya. Itu adalah masa lalunya yang suram.


Aku ingin bertemu dengannya dan aku ingin mendengar semua penjelasan darinya. Setelah aku dengar semua penjelasannya, kini aku bingung harus menyikapi hal ini seperti apa dan bagaimana. Aku begitu mempercayainya, aku tahu kalau Arfan tidak ingin membohongiku atau pun menghianatiku.


Dalam suatu hubungan, kepercayaan adalah hal yang mutlak dan harus ada. Kalau kita tidak mempercayainya, maka berakhirlah sudah hubungan itu. Tapi, apakah aku harus tetap mempercayainya setelah melihat hal-hal yang tak ingin aku lihat?


“Berikan gue waktu untuk berfikir, Fan. Gue ingin sendirian dulu. Terima kasih lo sudah menjelaskan semuanya dengan sejujur-jujurnya.”


“Elo percaya sama gue kan, Ris?” tanya Arfan yang membuatku terdiam dan menatap wajahnya beberapa detik.


“Gue percaya sama lo. Makanya, gue mau mendengar semua penjelasan lo yang sejujur-jujurnya. Tapi, sekarang gue butuh waktu untuk sendiri dulu, Fan. Gue butuh waktu memikirkan banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini dengan begitu cepat. Elo bisa ngerti, kan?”


“Iya, gue ngerti,” katanya pelan sambil menundukkan kepalanya.


“Gue pergi.”


Setelah menyelesaikan kalimatku, aku langsung pergi meninggalkan Arfan sendirian. Rasanya memang tidak adil. Tapi, aku tidak ingin hubunganku dengan Arfan semakin memanas dan juga kacau balau hanya karena sebuah foto dan video yang beredar cepat di sosial media.


Ini mungkin memang pengalaman pertamaku menghadapi hubungan percintaan yang begitu rumit. Aku sendiri pun tidak tahu, apakah Arfan itu pantas aku perjuangkan? Apakah Arfan itu pantas aku cintai dengan setulus hatiku? Apakah Arfan itu pantas menjadi kekasihku?