
Setelah sampai di tempat makan, Arfan langsung memesan jagung bakar, kopi hitam, mie rebus pakai telur dua dan air mineral. Begitu makanannya sudah dihidangkan, aku langsung menyantap mie rebus itu secepat kilat. Walau hanya makan mie rebus, tapi rasanya begitu lezat kalau lagi lapar seperti ini. Apalagi ditemani seseorang yang special seperti Arfan.
Kami berdua juga langsung memakan satu buah jagung bakar yang baru saja disajikan. Arfan menggigit jagung bakar itu bagian sisi kanan, sedangkan aku bagian sisi kirinya. Begitu sudah mencapai bagian tengah, aku dan Arfan saling beradu pandang beberapa detik.
Rasanya, jantung ini berdegup begitu kencang. Karena malu dan gugup, aku langsung menjatuhkan jagungnya hingga membuat gelas berisi kopi yang baru dipesan Arfan, tumpah dan mengenai celananya.
“Eh, sorry, Fan!” kataku cepat hingga langsung membersihkan celana Arfan yang terkena kopi dengan menggunakan tissue.
“Iya, nggak apa-apa.”
Untuk beberapa menit, suasana cukup canggung. Aku jadi salah tingkah dan membuatku rasanya begitu malu dengan kejadian tadi. Aku fikir, aku hampir saja melakukan itu dengan Arfan.
Sial, ini semua gara-gara Jeni dan juga Dhea soal obrolan semalam. Aku jadi gagal fokus dan terus membayangkan hal yang mungkin bisa membuatku pingsan bila terjadi.
“Ris, elo tahu nggak kenapa gue suka sama lo?” tanyanya hingga membuatku langsung menggeleng dan begitu penasaran untuk mendengar jawabannya.
“Elo itu cantik luar dalam. Sejak pertama kali gue melihat lo, gue memang sudah jatuh cinta sama kepribadian lo dan semua tentang diri lo. Selebihnya, jatuh cinta tidak harus tahu alasannya apa, kan? Karena yang namanya cinta tidak memandang kata alasan.”
Aku tertegun. Aku menatap wajah Arfan yang sedang memandangiku. Namun, dengan cepat Arfan langsung mengalihkan pandangan matanya dan kami berdua pun langsung terlihat salah tingkah.
“Ris,” panggilnya pelan.
“Iya, kenapa?”
Belum sempat Arfan menjawab, handphonenya sepertinya berbunyi. Begitu melihat layar handhonenya, entah kenapa ekspresi wajah Arfan terlihat berubah. Seperti ekspresi wajah yang sedang kesal dan penuh dendam.
“Kenapa, Fan? Nggak diangkat teleponnya?”
“Hah? Nggak apa-apa, ko. Panggilan iseng ini,” katanya yang langsung memasukkan kembali handphonenya ke dalam kantong jaket kulitnya.
Panggilan siapa ya itu? Aku jadi penasaran. Apa Arfan mulai menyembunyikan sesuatu dariku?
“Pulang, yuk?” ajak Arfan yang langsung diberikan anggukan olehku.
Setelah selesai makan dan membayar pesanan, kami berdua langsung bergegas pulang. Sebelum pulang, Arfan mengajakku untuk berkunjung ke rumahnya. Dengan senang hati, aku langsung mengiyakannya. Karena aku rasanya ingin sekali bertemu Arini, adiknya Arfan.
Begitu sampai di rumah Arfan, aku langsung digandeng olehnya hingga membuatku cukup senang dengan perlakuan hangatnya itu padaku.
“Bu, Arfan bawa cewe cantik, nih!” teriaknya yang membuat seorang perempuan setengah baya keluar dari dalam kamarnya.
“Siapa, Nak? Loh, ini siapa?” tanya seorang perempuan setengah baya yang terlihat cantik itu begitu melihatku datang bersama dengan Arfan.
“Pacar Arfan,” katanya hingga membuatku langsung menyenggol lengannya pelan.
“Hallo tante, saya Risa.” Aku langsung mencium telapak tangan ibunya Arfan. Ternyata, ibunya Arfan terlihat lebih cantik kalau lihat aslinya.
“Oh, ini pacarmu itu, Fan? Hallo Risa. Sini, Nak.”
Aku melirik ke arah Arfan dan dia menganggukkan kepalanya pelan. Ibunya Arfan sangatlah baik. Selain cantik, beliau juga memperlakukanku dengan sangat baik layaknya anaknya sendiri. Kalau seperti ini, rasanya aku jadi merindukan bunda.
“Ris, kenalin ini adek gue. Dia Arini,” kata Arfan sambil menggandeng tangan seorang perempuan cantik.
“Arini,” katanya pelan dengan sedikit gagu.
“Risa. Kamu cantik, Rin.”
Aku menghampiri Arini dan memeluknya erat. Walau Arini ini mempunyai keterbelakangan mental dan cara dia berbicara tidak begitu jelas. Tapi, dia sangatlah cantik. Aku tidak berbohong, Arini memang benar-benar cantik.
Kata Arfan, Arini juga cerdas. Dia sangat hebat dalam soal hitungan. Walau dia mempunyai kekurangan, tapi dibalik kekurangannya itu dia memiliki kelebihan yang belum tentu semua orang bisa.
Selama di rumah Arfan, aku melihat beberapa album foto lama keluarga Arfan. Di dalam album foto tersebut juga ada foto kak Ayu, kakak pertama Arfan yang usianya terpaut sangat jauh dari Arfan. Mereka terlihat sangat dekat, bahkan foto Arfan dan Arini juga terlihat seperti sepasang kekasih. Dia sangat menyayangi kakak dan adiknya, aku suka melihat bagaimana cara Arfan memperlakukan adik dan juga ibunya.
Itu sangat manis dan tidak semua orang bisa seperti Arfan. Walau dia berwajah sangar, tapi hatinya sangat lembut. Dia juga memperlakukanku begitu baik dan tak pernah berkata kasar padaku.
Saat sedang melihat-lihat album foto, Arini datang menghampiriku. Dia menarik tanganku dan mengajakku untuk masuk ke dalam kamar Arfan.
“Nggak apa-apa masuk ke kamar Arfan? Kalau dia marah gimana?”
“A Arfan kakak yang baik, dia pasti nggak akan marah.”
“Kamar Arfan rapih juga yah, Rin?”
Arini mengangguk dan tersenyum tipis. Arini memperlihatkan sebuah album foto berukuran mini padaku. Ia memintaku untuk membukanya, sebenarnya aku tidak mau dan berusaha untuk menolaknya. Tapi, Arini sedikit memaksa dan akhirnya aku membukanya juga. Begitu membukanya, ternyata banyak sekali fotoku di album foto tersebut.
“Kenapa? Ko, bisa?” tanyaku pada Arini.
“A Arfan sudah menyukai teh Risa sejak lama. A Arfan nggak pernah loh mengoleksi foto perempuan sebanyak ini selain teteh. Itu tandanya, a Arfan sangat menyukai teteh.”
Begitu menyukaiku? Aku fikir, yang dikatakan Arini ada benarnya. Arfan yang tiba-tiba mengajakku berpacaran saja, pada dasarnya itu semua serba dadakan. Dia juga pernah bilang, kalau dia menyukaiku sudah sejak lama. Lantas, bagaimana dengan perasaanku padanya?
“Jangan sakiti a Arfan yah, Teh. Dia itu sangat menyukaimu.”
Aku terdiam. Aku mana mungkin menyakitinya, Arfan begitu baik padaku. Dia selalu bertutur kata sopan padaku. Tak pernah membuatku marah, malahan aku yang sering membuatnya kesal dan selalu jutek kepadanya.
“Arfan pernah bilang dia suka aku sama kamu nggak, Rin?”
Arini mengangguk dan tersenyum kecil.
“Dia selalu mengucapkan nama teteh setiap dalam doanya kalau sehabis sholat. Arini selalu mendengarnya,” katanya yang membuatku tertegun. Sebegitu besarnya kah Arfan menyukaiku?
“Kamu serius, Rin?” tanyaku untuk memastikan.
“A Arfan itu kakak yang baik dan bertanggung jawab. Dia tidak pernah berbohong. Dia selalu jujur walau berkata jujur itu kadang selalu menyakitkan.”
“Jadi, Arfan itu rajin sholat, yah?”
Arini mengangguk dan kembali bercerita soal Arfan dengan antusias. Walau terkadang aku sulit mengerti dengan apa yang ia ceritakan karena keterbatasannya, tapi aku cukup senang mendengarnya bercerita.
“A Arfan itu pernah punya cita-cita jadi seorang ustadz, loh.”
“Wah? Masa, sih?” tanyaku tidak percaya.
“Iya, sekali-kali teteh dengerin deh kalau a Arfan lagi ngaji. Suaranya adem banget, lantunan pembacaan ayat suci Alqur’annya juga sangat menenangkan hati.”
“Jadi ingin denger sendiri, deh.”
“Biasanya, kalau hati a Arfan lagi resah, a Arfan sering ngaji untuk menenangkan hatinya. Apalagi semenjak ayah meninggal. A Arfan sering banget ngaji, kalau sekarang mungkin udah jarang. Soalnya a Arfan mikirin teh Risa terus,” katanya bercerita.
“Mikirin aku? Setiap hari?”
“Setiap waktu,” jawab Arini yang membuatku kembali menatap sebuah bingkai foto di mana di dalam foto tersebut ada foto kebersamaan Arfan dengan Arini.
“A Arfan pernah bilang sama aku. Teh Risa itu mirip ibu. Dulu, ayah kami juga jatuh cinta sama ibu karena sikap perilaku ibu yang manis seperti teh Risa.”
“Benarkah?”
Arini mengangguk dan memperlihatkan sebuah foto lama di mana foto tersebut adalah foto ayah dan ibunya Arfan selagi mereka masih muda dan masih berpacaran.
“Mirip teteh, kan?”
Aku tertawa lebar. Mungkin sedikit mirip. Ayahnya Arfan juga terlihat tampan sekali, seperti wajah Arfan di masa lalu.
“Aku harap, teh Risa bisa langgeng sama a Arfan,” katanya yang membuatku berkaca-kaca begitu mendengar penuturannya yang artikulasinya itu tidak terdengar begitu jelas.
“Makasih, Rin. Do’a kan saja yang terbaik.”
“Risa, ayo makan malam dulu!” teriak ibunya Arfan dari arah dapur.
“Iya, Tante.”
Aku dan Arini langsung menuju ruang makan untuk makan bersama. Namun, sebelum keluar dari kamarnya Arfan, aku tidak sengaja melihat sebuah bingkai foto yang berada di bawah bantal tempat tidur Arfan.
Aku juga tidak sengaja melihat sebuah kotak lusuh yang berada di bawah meja belajar Arfan. Kotak apa itu? Dan, bingkai foto siapa itu? Kenapa bisa berada di bawah bantal? Aku jadi penasaran dengan semua itu.
“Teh, ayo!” tutur Arini sambil menarik tanganku.