
Koridor gedung sastra terdengar riuh pagi ini. Pekikan para gadis NSS yang menggema di sepanjang lorong membuat Megan dan Ella menautkan alis mereka.
"Ada yang salah dengan penampilanku Ell?" tanya Megan setengah berbisik.
"Kurasa tidak Chall. Apa aku yang aneh?" Ella balik bertanya.
"Kau sama seperti biasanya. Lalu untuk apa mereka melihat kita seperti itu?"
"Mungkin kita terlalu cantik"
Megan memutar bola matanya bosan mendengar perkataan Ella.
"Ah I know the reason Chall" seru Ella membuat Megan menutup kedua telinganya.
"Pelankan suaramu El. Kau membuatku malu" Megan berucap lirih dengan kepala menunduk.
"Hey, angkat kepalamu sweetheart" suara berat yang muncul dari belakang membuat Megan menoleh. Ah, sekarang Megan tau kenapa sejak memasuki lobby banyak siswa memperhatikannya.
Megan mendengus "Kau ternyata"
"Apa aku membuatmu terkejut?" tanya Edward dengan sebelah tangan yang sudah melingkar bebas di bahu gadisnya.
"Kau membuatku menjadi populer dalam sekejap"
"Really?"
"Ya kau tau, kau membuatku menjadi bahan gosip saat kau dan teman-temanmu mengikuti kami"
"Ekhm" deheman Ella membuat Megan tersadar.
"Baiklah. Belajar yang rajin sweetheart" ucap Edward sembari mengacak pelan puncak kepala Megan yang berhasil membuat gadis lainnya menjerit.
"So, how was your holiday Mrs. Edward" pertanyaan Ella berhasil membuat wajah putih Megan memerah.
"Jangan menggodaku Ell" bela Megan berusaha tenang.
"Baiklah baiklah. Jadi apa yang akan ku dapat?" tanya Ella dengan alis yang di naik turunkan.
"Ah ya. Ada di mobil Edward. Aku hampir saja melupakannya. Untung Anna mengingatkanku"
"Anna?" dahi Ella berkerut mendengar nama yang cukup asing di telinganya.
"Salah satu housmaid di rumah Edward" ucap Megan santai.
"What?!! Kau bahkan mengenal housmaid nya? Whoah"
"Suaramu!"
"Ah maaf. Tapi oh sungguh kau ah"
"Aku tau apa yang pikirkan. Aku menginap di rumah Edward untuk beberapa hari"
"Holly shit!"
"Ella! Your mouth" suara Mr. Jack menggema ke seluruh ruang kelas membuat keadaan yang semula gaduh menjadi hening.
Ella merutuki mulutnya yang kelepasan mengumpat.
"Setelah jam berakhir pergi ke ruang bimbingan" setelah mengatakan itu, Mr. Jack keluar meninggalkan kelas yang kembali gaduh.
"Ella. Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?" tanya Jane yang duduk di depannya.
"Dia sedang berlatih drama Jane" alibi Megan dengan senyum yang dipaksakan.
"Benarkah? Kau ikut teater?" mata Jane nampak berbinar menanyakan itu.
"Ah itu emm aku hanya memiliki pikiran untuk masuk club"
"Ku kira kau sudah bergabung"
Setelah Jane kembali menghadap ke depan, Megan langsung melemparkan tatapan tajamnya.
"Apa kau gila?"
"Sorry Chall, tapi bisakah antar aku menemui Mr. Jack nanti?" tanya Ella hati-hati.
"Big no"
"Oh c'mon Chall"
"That's your fault. So, you have to take responsbility. Okay"
🌚
Arthur masih setia dengan monitor di depannya. Tak jauh berbeda dengan Edward yang sedari tadi sibuk dengan MacBook nya. Mata abu-abu nya mencoba mencermati berbagai bukti-bukti yang akan diajukannya.
"I got it" seru Leo membuat semua orang di ruangan minimalis itu melihat ke arahnya. "Lihat apa yang aku dapatkan"
Jovial bergerak ke arahnya meninggalkan beberapa tumpukan kertas putih yang berserakan di meja.
"Good job boy" ucap Jovial menepuk bahu Leo.
"Dia berhasil mendapatkan bukti kasus 5 tahun silam" jelas Jovial membuat senyum ke 3 temannya mengembang.
"Wow good job bro" Harry berdiri dari duduknya "Let me see"
Harry menyipitkan matanya pada sebuah artikel yang menurutnya tak masuk akal.
Thanos group shares increased.
"Wait wait. Sepertinya ada yang salah" ucap Harry membuat dahi ke 4 temannya berkerut tak paham.
Penjelasan Harry membuat Jovial mengangguk "Benar. Mengingat Thanos Group adalah perusahaan besar yang akan selalu muncul dalam berita. Jika mereka bangkrut, pastinya akan ada artikel lain yang muncul"
"Wait" Arthur kembali berkutat dengan monitor.
"Nihil. Sama sekali tidak ada artikel yang menjelaskan bahwa mereka bangkrut"
Edward meletakkan MacBook nya "Berarti ada kasus baru yang harus kita selesaikan" ucapnya lalu merogoh saku celananya.
"Dad, I need your help" panggilan itu terputus saat Edward selesai berucap.
"Okay. Time to work guys" ucap Harry memberi semangat.
Tingg!
Handphone Harry berbunyi pertanda ada pesan masuk.
Ella
Rooftop sekarang. Ajak Edward dan juga lainnya.
"Ella mengajak bertemu di rooftop sekarang"
"Pergilah" ucap Jovial tanpa menoleh.
"Dia ingin kita semua pergi"
Edward beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan keluar mendahului teman-temannya.
Seorang gadis dengan rambut terurai nampak gelisah dengan menggenggam erat ponselnya.
"Ella" suara Harry membuat Ella menoleh.
"Kalian harus lihat ini" ucap Ella tiba-tiba sambil menyodorkan handphone berniat memperlihatkan apa yang ditampilkan.
Mata Edward menyipit dan..
"Shit. Ini milik Megan. Dari mana kau dapatkan ini?"
"Tiba-tiba ada seseorang yang mengirimkan email kepadaku"
"Harry, segera lacak email itu" rahang Edward terlihat mengeras.
"Dimana Megan?" tanya Arthur yang baru tersadar bahwa tak ada Megan disini.
"Tadi Mr. Mark menjemputnya"
"Daddy?" tanya Edward memastikan.
"Ya. Bahkan ayahmu membawa beberapa bodyguard"
Tak lama handphone Edward bergetar, ia segera menggeser tombol hijau ke atas untuk menjawab panggilan.
"Dad"
"Calm down boy. Megan sudah bersamaku. Kalian cari tau siapa pengirim email itu"
"Oh God, aku hampir saja mati Dad"
"Megan aman"
"Baiklah kalau begitu"
Pip
"Ada apa?"
"Daddy sudah mengetahuinya dan sekarang Megan sudah bersamanya"
"Syukurlah"
"Kalau begitu apa yang kita tunggu?" ucap Arthur dengan senyum sinisnya.
"Wait.Tell me now!" raut marah nampak pada wajah Ella.
"Kami akan jelaskan Ell, tapi bukan sekarang" ucap Harry mencoba memberi pengertian.
"Ikutlah" Edward berkata lalu meninggalkan area rooftop.
Ella memandang heran ruangan bercat hitam ini. Bahkan ia baru tau jika di sekolahnya ada ruangan semacam ini. Matanya menatap setiap sudut ruangan tanpa melewatkan sejengkal pun.
Sungguh, Ella tak habis pikir tentang ke 5 pemuda yang sudah sibuk dengan aktivitas mereka di depan monitor.
Gadis itu memijat pelipisnya pelan, kepalanya tiba-tiba serasa berputar memikirkan ini semua.
"Thanos Group?" mata Ella menyipit melihat apa yang sedang Leo ketik di kolom pencarian laman web nya.
"Apa kau tau tentang perusahaan ini?"
"Aku pernah sesekali mendengar namanya. Tetangga apartemen ku bertengkar, dan terkadang mereka menyebut nama perusahaan itu" jelas Ella.
"Apa kau yakin?" tanya Jovial.
"Ya. Mereka berdebat sangat keras hingga aku dapat mendengarnya dari balkon kamarku"
"Laki-laki?" Arthur menyahut.
"Ada suara perempuan yang terkadang terdengar menangis"
"Perempuan?"