
Ris, boleh tanya sesuatu?” tanya Arfan saat kami berdua tengah makan siang bersama di ruang makan.
Aku mengangguk dan menatap wajah Arfan yang terlihat sangat serius.
“Nyokap lo mana? Dia kerja? Ko, sepertinya setiap gue ke rumah lo beliau gak ada?”
Aku terdiam beberapa saat. Selama ini, aku tidak pernah membicarakan soal bunda ke siapa-siapa, selain kepada Jeni dan juga Dhea. Tapi, sepertinya aku harus menceritakannya juga kepada Arfan.
“Ris?” panggil Arfan kembali.
“Meninggal saat usia gue 5 tahun,” jawabku kemudian yang membuat ekspresi wajah Arfan berubah seketika, seperti ada perasaan menyesal dan tak enak hati.
“Sorry,” katanya terlihat menyesal.
“Santai, Fan. Bunda itu meninggal karena sakit. Leukeumia, penyakit itu sudah menggerogoti bunda sejak gue masih kecil. Gue memang tidak begitu banyak kenangan bersama bunda, tapi gue punya ayah yang selalu ada untuk gue walau terkadang ayah selalu sibuk dengan segudang pekerjaannya. Gue ini anak tunggal, makanya gue suka kesepian di rumah karena nggak ada temen.
“Makanya itu juga gue selalu manja sama ayah. Gue tahu, ayah itu sibuk bekerja untuk masa depan gue juga. Tapi, kadang gue suka kesel kalau ayah terlalu sibuk dan jarang meluangkan waktunya untuk gue. Gue juga butuh ayah, yang selalu ada untuk gue kapan pun dan di mana pun.”
Entah kenapa, rasanya aku jadi ingin sekali menangis. Setiap kali membicarakan orang tua, aku selalu menjadi gadis yang cengeng. Aku jadi rindu bunda, rindu kasih akan kasih sayangnya. Aku tidak begitu punya banyak kenangan dengannya, yang aku tahu bunda selalu menemaniku tidur dikala aku takut hujan dan juga petir.
Bunda juga selalu menceritakan dongeng si gadis berkerudung merah sebelum aku tidur. Selebihnya, aku tidak tahu lagi.
Kadang, aku sering kali lupa dengan wajah bundaku itu seperti apa. Aku iri dengan mereka yang mempunyai ibu dan memiliki waktu luang yang banyak dengan ibu mereka.
“Elo gak usah sedih, kan masih ada gue dan ada temen-temen lo juga. Elo gak sendirian, Ris. Gue juga sama, gue udah gak punya bokap. Sedangkan lo gak punya nyokap. Tapi, lo sama gue masih bisa bersama-sama kalau sedang merasa kesepian,” katanya yang membuatku tertegun.
“Tapi, setidaknya lo punya banyak kenangan sama bokap lo, Fan.”
Arfan terdiam dan tak melanjutkan perkataannya. Suasana jadi cukup sunyi dan juga canggung. Apa aku sudah salah berbicara?
“Besok ngedate, yuk?” ajaknya tiba-tiba,
“gue jemput jam 10 pagi, mau?”
“Ngedate? Ke mana?” tanyaku bingung.
“Tunggu besok aja. Pas gue jemput lo harus udah siap, yah? Gue males nunggu cewe dandan lama-lama.”
“Iya.”
Ngedate? Aku belum pernah yang namanya ngedate sama cowo. Pacaran saja belum pernah sama sekali. Arfan itu pacar pertamaku, pacar pertama yang aku kenalkan secara resmi kepada ayahku. Walau aku belum menyukainya, tapi aku mulai merasa nyaman bersamanya.
Aku juga sudah memberanikan diri untuk memperkenalkan Arfan kepada teman-temanku. Aku juga mulai belajar beradaptasi dengan ruang lingkupnya dan juga teman-temannya Arfan.
Walau pacaran kami itu terbilang tergesa-gesa, tapi sedikit demi sedikit aku mulai mengenalnya. Dan, aku juga sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Arfan yang sudah menghiasi hari-hariku.
“Jadi, gue harus pake apa?” tanyaku saat sedang skype dengan Jeni dan juga Dhea.
“Ih, lebay banget sampai harus beli baju baru segala. Pakai baju yang ada aja, Ris. Tapi, yang sedikit lebih bagus dan ngebuat lo terlihat cantik di depan Arfan.” Kali ini Dhea memberi saran.
“Tapi, Risa ini kan baru pertama kali pacaran. Jadi, semua harus serba baru dan lebih special, Dhe.”
“Tapi Jeni, nggak harus beli baju baru segala. Buang-buang duit tahu nggak, sih. Lagian, si Arfan juga bukan cowo yang gimana banget. Jadi, pakai baju yang ada aja yang lebih bagus dan terlihat cantik,” timpal Dhea.
Selagi aku pusing memilah-milah pakaian, orang yang di ajak diskusi malah pada sibuk debat. Jeni dan Dhea ini memang peduli banget sama aku, apalagi soal cowo. Mereka berdua tahu kalau aku itu tidak punya pengalaman soal pacaran atau pun kencan. Jadi, mereka pasti bakalan ngasih banyak saran mulai dari make up, sikap perilaku aku terhadap Arfan, soal pakaian dan masih banyak lagi.
“Kalau tiba-tiba Arfan nyium lo gimana, Ris?” tanya Jeni tiba-tiba yang membuat suasana video-call kali ini terlihat sangat heboh.
“Argghh, itu impian setiap cewe. Gila aja kalau Risa berhasil melakukan first kissnya sama cowo seperti Arfan yang terkenal sebagai preman sekolah. Itu bakalan jadi kejadian yang paling menghebohkan sejagat raya!!” seru Dhea kegirangan.
“Kalian emang gila. Mana mungkin gue ciuman sama Arfan!” teriakku dengan kedua pipi yang mulai merona.
“Masa iya nggak ciuman, sih? Arfan kan pacar lo!” seru Jeni menggebu-gebu.
“Emangnya kalau setiap pacaran harus ciuman?” tanyaku polos.
“Harus. Wajib dan kudu banget. Itu artinya, lo itu bener-bener special buat Arfan. Biar romantis kaya di drama-drama Korea,” kata Jeni yang membuat Dhea kali ini berteriak dan membayangkan sendiri kalau aku dengan Arfan melakukan ciuman.
Aku juga jadi ikut membayangkan bilamana aku melakukan first kiss dengan Arfan. Arghhh, gila! Ini benar-bener gila! Aku jadi ikut teriak-teriak sendiri, berguling ke sana ke mari di atas di tempat tidurku seperti orang gila.
“Bibirnya Arfan seksi loh, Ris. Beruntung juga lo pacaran sama Arfan. Bibirnya itu mungil, mirip bibirnya Sehun Exo!” teriak Dhea yang merupakan fans beratnya Sehun Exo.
“Dasar Exo- L. Kenapa jadi bawa-bawa Sehun? Kalau ciuman sama Sehun, gue juga mau!” seru Jeni yang ikutan heboh juga.
“Arghhhh, nggak kebayang kalau gue ciuman sama Arfan. Gue jadi gugup sendiri membayangkannya.”
“Risa!! Elo beruntung!” teriak Jeni dan Dhea bersamaan.
“Tunggu, bukannya beberapa hari yang lalu lo bilang nggak suka sama Arfan yah, Jen? Elo nyuruh gue buat jauh-jauh dari Arfan, kan?”
“Emang gue pernah ngomong gitu, yah?”
“Sok pura-pura lupa lo! Elo sendiri kan yang nentang Risa supaya jauh-jauh dari Arfan. Masih mau bilang lupa juga?” sindir Dhea.
“Iya deh sorry. Sebelumnya kan gue nggak tahu Arfan anaknya kaya gimana. Ternyata, Arfan anak yang baik.”
“Jadi, ceritanya elo udah ngerestuin hubungan gue sama Arfan nih, Jen?” tanyaku bersemangat.
“Iya, gue restuin!!” teriak Jeni yang membuatku juga Dhea ikut berteriak heboh.
“Tapi, tetep kita pantau, yah?” kata Jeni kembali.