ABOUT YOU

ABOUT YOU
Matahariku



2 bulan sudah aku dan Arfan menjalani hari-hari yang indah selama kami berpacaran. Jeni dan Dhea juga sudah benar-benar merestui hubungan kami. Mereka berdua juga sudah merasa nyaman jika sedang bersama Arfan dan teman-temannya yang masih tetap suka membuat kerusuhan.


Aku juga kadang-kadang suka berkunjung ke rumah Arfan hanya untuk bertemu dengan ibunya juga adiknya, Arini. Aku juga pernah video call-an sama kak Ayu, kakaknya Arfan yang sudah menikah.


Arfan juga sering menghabiskan waktunya di rumahku bersama ayahku. Melihat keakraban Arfan dan ayah yang sering kali tertawa bersama entah membicarakan apa, aku juga merasa sudah cukup bahagia.


Tapi, aku masih belum bisa mengajak Arfan bertemu bunda. Aku masih belum merasa yakin dan ini masih belum waktunya aku perkenalkan Arfan kepada bunda. Jika waktunya sudah tiba, aku pasti akan mengenalkan Arfan kepada bunda.


“Risa pamit pulang yah, Bun,” kataku setelah menghabiskan sore hari bercerita banyak kepada bunda.


“Risa sayang bunda, salam dari ayah yang lagi di Bogor. Katanya, ayah rindu. Maaf juga ayah belum bisa ketemu sama bunda. Ayah juga sayang bunda,” kataku sambil memegang sebuah pusaran yang ada ukiran tulisan nama bundaku dengan begitu indah.


“Dah, Bunda. Risa udah ditungguin bik Sari, nih. Sampai jumpa nanti!”


Setelah puas bertemu bunda, aku dan bik Sari pun pulang dengan menggunakan taksi online. Begitu sampai di rumah, ku lihat sudah ada Arfan yang tengah duduk di teras rumah sambil bermain dengan kucing Anggora berwarna putih, pemberian darinya 2 minggu yang lalu.


Perlu diketahui, pacarku yang mirip preman ini pecinta binatang, khususnya kucing. Dia sangat menyukai kucing, sampai-sampai aku sering diacuhkannya kalau dia sudah bertemu si Kitty, kucing pemberian darinya itu.


“Dari jam berapa di sini?” tanyaku yang langsung duduk di samping Arfan ketika Arfan tengah bermain dengan si Kitty.


“Baru 30 menitanlah.”


“Wah, lama juga, yah?”


“Nggak lama, ko. Gue tadi abis dari rumahnya Erwin, terus mampir ke sini pengen ketemu sama si Kitty. Soalnya kangen.”


“Jadi, kangennya sama si Kitty aja nih bukan sama gue?” tanyaku cemberut.


“Dua-duanya,” katanya nyengir, “jalan, yuk?”


“Ke mana?”


“Ke mana aja asal sama lo dan ada elo.”


Aku tersenyum simpul. Begitu berpamitan kepada si bibik, aku dan Arfan langsung bergegas pergi menuju daerah Caringin Tilu, Bandung. Katanya, Arfan pengen banget mengajak aku ke Puncak Bintang, dia ingin melihat matahari terbenam di sini bersama-sama.


Setelah menghabiskan waktu satu jam, akhirnya kami sampai juga di Puncak Bintang. Kami pun jalan bersama sambil bergandengan tangan dengan riang.


“Nggak kerasa yah, kita udah 2 bulan sama-sama,” katanya membuka suara.


“Iya, udah banyak banget kenangan kita selama 2 bulan bareng-bareng.”


“Maaf yah Risa, gue nggak pernah ngajak lo ke tempat bagus selama kita pacaran.”


“Nggak apa-apa, ko. Kan, seperti yang elo bilang, asal bersama lo, itu akan jadi tempat yang bagus mau di mana pun kita berada.”


Arfan tersenyum simpul. Dia kembali menggandeng tanganku dan duduk bersama di dekat sebuah bintang berukuran besar yang berkelap-kelip dengan warnanya yang indah.


Selama 2 bulan ini, memang banyak sekali kenangan indah yang aku jalani bersama dengan Arfan. Mulai dari kita yang sering belajar bareng kalau ada ulangan di kelas, merayakan ulang tahunnya Mbul di kebun teh daerah Ciwidey, dihukum pak Uus karena kita pada telat datang ke sekolah, sampai uji nyali ke goa Belanda di mana saat itu, si Mbul sampai pipis di celana karena saking takutnya.


Itu kejadianya kocak banget. Muka boleh kaya preman, tapi kelakuannya benar-benar kaya anak kecil. Teman-temannya Arfan itu sebenarnya lucu. Mereka ternyata tidak segarang yang sering orang katakan.


Mereka sangat menyenangkan dan selalu membuatku tertawa kalau aku dan Arfan sedang bertengkar karena masalah Arfan yang kembali berkelahi.


Iya, Arfan kembali berkelahi dengan anak sekolah lain. Alasannya karena dia membela si Tatang yang katanya suka di palak anak-anak sekolah luar. Aku selalu bilang sama Arfan. Kamu boleh berkelahi dengan mereka, asalkan kamu harus memukul mereka dengan dua pukulan tapi harus langsung roboh.


Dan, prinsip itu masih aku pegang sampai saat ini. Si Arfannya sih nurut-nurut aja, karena dia nggak mau aku marah terlalu lama kepadanya.


“Lihat, sebentar lagi sunset, Ris!” teriaknya sambil menunjuk ke arah langit.


“Iya. Wah, bagus yah, Fan!” seruku yang tampak begitu takjub begitu melihat matahari terbenam bersama dengan Arfan dari atas perbukitan.


“Elo tahu nggak, Ris?” katanya sambil menatap wajahku hingga membuatku juga ikut menatap wajahnya. “Elo itu sama kaya matahari. Matahari itu sumber kehidupan untuk semua mahluk hidup, sementara lo itu adalah sumber kehidupan untuk seorang Arfan Aldebaran Hamizan. Kamu itu adalah matahariku,” katanya yang tiba-tiba saja mendadak menjadi romantis dan memanggilku dengan panggilan langka ‘KAMU’.


“Kamu juga matahariku, Fan. Sumber kehidupanku, kebahagiaanku, kenyamananku dan tempat di mana aku bisa berkeluh kesah yang selalu menyinariku dengan kehangatan yang selama ini kamu berikan.”


Arfan tersenyum tipis. Dia menggandeng tanganku dengan mesra dan menatap wajahku dengan lembut dan juga penuh cinta.


“Makasih yah, elo mau dengerin semua cerita gue soal masalah gue dengan kak Sarah, mau menerima sikap gue yang masih suka banget berkelahi dan mau berusaha membuat gue menjadi pribadi yang lebih baik.”


“Iya, sama-sama. Semoga, masalah keluarga lo dengan kak Sarah cepat-cepat selesai, yah. Semoga juga kak Sarah bisa kembali ke jalan yang benar dan elo bisa berkumpul lagi dengan keluarga yang lengkap. Terus, gue juga jadi bisa ketemu sama kak Sarah, deh.”


“Aamiin . . . Makasih banyak matahariku,” katanya sambil memegang kepalaku dan membuatku menyandarkan kepalaku di atas bahu kanannya sambil memandangi pemandangan matahari terbenam yang terlihat begitu indah.


“Untung Mbul sama anak-anak nggak ada di sini,” kata Arfan tiba-tiba.


“Bisa merusak keindahan,” jawabnya yang membuatku tertawa begitu mendengarnya


.


“Ih, jahat banget, sih!”


“Kalau ada mereka bisa rusuh, Ris. Jadi, kalau kita jalan-jalan jangan ajak-ajak mereka. Berisik!”


“Kalau ajak Dhea sama Jeni?” tanyaku sambil menatapnya.


“Jangan,” katanya dengan ekspresi wajahnya yang terlihat serius.


“Kenapa?”


“Mengganggu keromantisan kita. Mereka kan sama gaduhnya dengan Mbul dan juga anak-anak yang lain. Teriak-teriak gak jelas kaya penonton bayaran di acara tv. Alay!” tawanya yang membuatku juga ikut tertawa bersamanya.


“Nggak bisa mesra-mesraan juga, yah?”


“Iya, gue jadi nggak bisa ngelakuin ini sama lo,” katanya yang tiba-tiba saja mencium keningku dan membuatku cukup terkejut dengan aksinya itu. “Pulang, yuk? Udah malem.”


“Iya,” kataku gugup dan terlihat salah tingkah. Kami berdua pun sama-sama terdiam setelah kejadian tadi.


“Bawa jaket nggak?” tanya Arfan setelah sampai di parkiran.


“Nggak,” jawabku nyengir.


“Kebiasaan nggak pernah bawa jaket. Biar bisa meluk gue yah kalau dingin, makanya nggak pernah bawa jaket?”


Aku tersenyum lebar dan menggaruk-garuk rambutku yang tidak gatal karena malu.


“Modus,” katanya kembali.


“Kan, elo yang ngajarin,” kataku kembali menjawab.


“Nih, pake jaket gue!” katanya seraya membuka jaket kulitnya yang ia pakai.


“Terus, elo pake apa?”


“Pake pelukan lo, biar makin hangat,” katanya menjawab dan kembali membuatku tertawa.


“Udah siap?” tanya Arfan ketika sudah berada di motor.


“Udah.”


“Pegangan, yah? Gue mau ngebut, nih.”


“Iya,” kataku menjawab.


Selama di perjalanan pulang, aku memeluk Arfan begitu erat. Menembus angin yang begitu kencang dengan udara malam yang semakin dingin.


“Selamat tidur, salam buat bik Sari dan ayah, yah?” katanya setelah kami sampai di depan rumahku.


“Iya, cepet pulang dan jangan ke mana-mana lagi.”


“Iya. Dadah, matahariku!”


“Dadah juga, matahariku!”


“Risa?” panggil Arfan kembali dengan suara yang terdengar lembut dan juga mesra.


“Selalu sayang Risa,” katanya malu-malu.


Arfan tersenyum lebar kemudian pergi sambil melambaikan tangannya. Namun, beberapa detik kemudian aku kembali mendengar ada suara motor di depan rumahku. Begitu menoleh ke belakang, ternyata itu Arfan.


“Aku mencintaimu,” katanya kembali berteriak kemudian pergi.


Itulah Arfan. Yang kadang-kadang bisa menjelma menjadi sosok pria yang romantis dan juga menyebalkan.