
Gue sibuk melamun di fly over pasopati. Setelah menceritakan apa yang menjadi keluh kesah gue selama ini kepada Tatang, gue jadi banyak merenung. Merenungi tentang Risa yang gue sayangi.
Risa memang tidak cantik dan seksi seperti Asti. Tapi, Risa itu manis dan menarik di mata gue. Dia berhasil membuat hati gue bergetar setiap kali melihatnya. Risa pintar, agamanya juga kuat, dia baik dan menyenangkan. Walau terkadang dia galak, jutek dan cuek dengan segala perhatiannya gue kepadanya, tapi dia itu menggemaskan.
Dia tidak pernah mengeluh kalau gue ajak makan di warung pinggiran jalan dan gue ajak jalan ke tempat-tempat sederhana. Walau gue sering mengajaknya ke tempat yang tidak mewah, dia juga tidak pernah protes.
Risa sering kali membangunkan gue kalau gue lupa sholat shubuh, dia juga sering kali mengingatkan gue untuk mengerjakan tugas. Risa itu seperti alarm, alarm berjalan yang penuh cinta dan juga kehangatan.
Ketika dia memperkenalkan gue kepada ayahnya, gue suka melihat ekspresi wajahnya. Ketika dia memanggil nama gue dan bercerita banyak hal, gue paling senang saat mendengar suaranya.
Suaranya selalu menggema di fikiran gue. Otak gue juga rasanya dipenuhi olehnya, baru kali ini gue menyukai seseorang sampai sebesar ini. Tapi, apa Risa juga menyukai gue? Gue juga masih penasaran dengan pria yang mengantarnya tadi pulang itu siapa?
“Risanya ada, Om?” tanya gue saat gue menjemputnya kembali ke rumahnya.
“Ada. Sebentar, yah? Risa!!” teriak bokapnya Risa memanggil.
Yang dipanggil akhirnya muncul juga. Risa datang menghampiri gue dengan wajah juteknya. Akh, ekspresi wajah itu lagi.
“Kenapa?” ketusnya.
“Ko, kenapa? Gue kan mau jemput lo.”
“Ayah, Risa pergi ke sekolah sekarang,” katanya sambil mencium telapak tangan ayahnya.
“Hati-hati di jalan, Nak.”
“Saya juga pamit, Om.”
Setelah berpamitan kepada bokapnya Risa. Kami berdua pun segera berangkat ke sekolah dengan suasana yang sunyi dan sibuk dengan fikiran kami masing-masing.
“Kalau lo marah sama gue ngomong langsung aja, Ris,” kata gue membuka suara ketika kami berdua berada di motor.
“Cewe yang kemarin di depan sekolah meluk lo siapa?” tanyanya yang membuat gue langsung gugup. Gue merasa seperti kepergok selingkuh sama cewe gue sendiri, padahal kan nggak sama sekali.
“Itu Asti,” jawab gue pelan, “tapi sumpah, deh. Gue nggak ada maksud apa-apa. Dia yang tiba-tiba peluk gue. Setelah itu, gue pergi dan gak ngobrol banyak lagi sama dia.”
Risa terdiam. Gue juga ikut diam. Akh, gue benci dengan suasana seperti ini.
“Kemarin gue ke rumah lo. Terus, gue lihat lo diantar cowo. Dia siapa?” tanya gue kali ini yang membuat Risa diam tak bergeming.
“Ris?” kata gue kembali memanggil.
“Dia kang Abizar, kakak kelas dan mantan ketua Osis tahun lalu,” jawabnya pelan.
“Bisa nggak ngobrolnya nanti di sekolah? Nggak enak banget ngobrol tanpa saling bertatapan seperti ini.”
Gue mengangguk dan akhirnya kami kembali terdiam dalam kesunyian. Namun, tiba-tiba saja handphone gue bergetar. Seperti ada telepon masuk, dengan sangat terpaksa gue memberhentikan motor gue di tepi jalan untuk mengangkat telepon tersebut.
Begitu melihat nama Erwin tertera di layar handphone, gue langsung mengerutkan kening. Ada apa Erwin pagi-pagi gini telepon? Tumben banget.
“Hallo?” jawab gue dengan nada terkesan heran dan juga bingung.
“Kenapa, Fan? Telepon dari siapa?” tanya Risa begitu melihat gue menutup telepon dari Erwin.
“Gue anter dulu lo ke sekolah,” jawab gue pelan.
“Ada apa?” tanyanya kembali.
“Gak ada apa-apa.”
“Ada apa?” tanyanya kembali mengulang dan menekan intonasi nada bicaranya.
“Si Mbul,” kata gue sambil menatap wajah Risa yang terlihat cemas dan juga khawatir.
“Iya, kenapa dengan dia?”
“Dia dikeroyok sama temen satu sekolah gue dulu. Gue mau bantuin dia, nggak apa-apa?”
Risa terlihat bingung. Ekspresi wajahnya mengisyaratkan kepanikan yang luar biasa. Dia juga terlihat cemas, sampai-sampai ia mengepalkan satu tangan kanannya.
“Lo mau bantuin temen lo untuk berkelahi?”
Gue mengangguk dan menatap kedua bola Risa yang sangat terlihat cemas.
“Lo izinin gue, kan?”
“Asalkan gue boleh ikut gue izinin,” katanya ragu-ragu.
“Elo serius? Ini bahaya loh, Ris.”
“Gue nggak mau lo kenapa-kenapa. Jadi, untuk memastikan lo baik-baik aja atau nggaknya gue harus ikut.”
“Elo yakin?” tanya gue untuk memastikan dan membuat Risa langsung mengangguk cepat.