ABOUT YOU

ABOUT YOU
BERKELAHI



Begitu Risa mengizinkan gue untuk membantu si Mbul, gue langsung bergegas pergi dan mengendarai motor gue dengan kecepatan yang sangat tinggi. Risa terlihat ketakutan, dia bahkan sampai memeluk tubuh gue begitu erat. Begitu sampai di daerah taman Fleksi, gue langsung memparkirkan motor gue.


Tanpa banyak fikir panjang, gue langsung menarik tangan Risa dan berlari cukup kencang sampai akhirnya gue melihat ada sekumpulan anak Sma tengah berkelahi. Dan, dilihat dari wajah-wajahnya, ada sosok Mbul yang sudah terlihat memar-memar di sekitar wajahnya.


“Woi!” teriak gue yang langsung melepaskan tangan Risa dan berlari sambil menendang tubuh seorang pria tinggi yang hampir saja memukul wajah Mbul.


Rasanya, seluruh tubuh gue bergetar. Emosi gue mulai memuncak ketika mereka memukul wajah sahabat gue sendiri. Apalagi, yang gue lihat mereka adalah musuh bebuyutan gue, Sakti. Pria yang sudah menganggu Arini dan membuat gue dikeluarkan dari sekolah.


Rasanya, ingin sekali gue menghancurkan pria brengsek itu sampai dia tidak terlihat lagi di bumi. Beberapa temannya mulai mengelilingi gue dan menendang gue. Mereka semua sampai berbondong-bondong untuk merobohkan gue.


Masyarakat sekitar sepertinya sudah mulai berdatangan dan berusaha untuk memisahkan kami. Tapi, yang ada gue sudah seperti orang kesetanan dan menghajar wajah Sakti beberapa kali sampai akhirnya ada seseorang yang berteriak memanggil nama gue.


“Arfan!!”


Gue menoleh. Ternyata, yang sudah memanggil nama gue adalah Risa. Karena gue fokus kepada Risa, Sakti mengambil kesempatan emas ini untuk menghajar gue dan membuat Risa seketika berteriak.


Sakti dan teman-temannya menginjak-nginjak tubuh gue dan hampir saja membuat gue tidak sadarkan diri. Tapi, tiba-tiba gue mendengar ada yang memanggil nama gue kembali dan berlari menghampiri gue, menyeruak dalam kerumunan anak buahnya Sakti.


“Jangan pukul Arfan lagi!” teriaknya yang langsung memeluk tubuh gue ketika gue terkujur lemah di dasar tanah.


Risa? Perempuan yang menghampiri gue adalah Risa?


Hampir saja Sakti menarik paksa tangan Risa, tapi gue langsung mencegahnya dengan langsung berdiri dan menarik tangan Risa untuk bersembunyi di balik tubuh gue. Entah mendapatkan energi dari mana, tapi gue langsung bangkit dan menghapus noda darah yang berada di bawah bibir gue.


“Tutup mata lo, Ris!” teriak gue.


Begitu Risa menutup matanya, gue langsung menghajar Sakti dan teman-temannya. Masyarakat kembali mulai berdatangan dan berusaha memisahkan kami. Setelah kami berhasil di pisahkan, Sakti dan teman-temannya pergi sambil memberikan jari tengahnya kepada kami.


“Ris, lo nggak apa-apa?” tanya gue cemas.


“Elo gila!” teriaknya sambil menangis hingga membuat gue dengan reflek langsung memeluknya.


Gue rasa, Risa sepertinya sangat ketakutan melihat perkelahian yang mungkin saja baru pertama kali ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Risa menangis tersedu-sedu dalam pelukan gue bagaikan seorang anak kecil yang kehilangan ibunya. Gue mencoba untuk menenangkannya dan membelai-belai rambutnya dengan lembut.


“Udah, gue nggak apa-apa, ko. Jangan nangis lagi, Ris,” kata gue berusaha menenangkan.


Akibat perkelahian tadi, gue, Risa dan beberapa teman gue yang lain jadi bolos sekolah. Melihat anak berseragam putih abu-abu ini berkelahi begitu sengit, ada beberapa masyarakat sekitar yang datang untuk memberikan kami obat, ada juga yang menasehati kami, bahkan sampai memarahi kami agar tidak terlibat dalam perkelahian seperti itu lagi.


“Lo nggak apa-apa, Mbul?” tanya gue ketika Risa sedang mengobati wajah gue yang memar dengan obat merah.


“Santai, gue nggak apa-apa. Thank’s banget udah nolongin gue, Bro.”


“Kalem wae, Bro. Oh iya, kenapa lo bisa diserang sama si Sakti dan anak buahnya, sih?”


“Emang dasar cowo-cowo brengsek mereka itu. Seenaknya main keroyok temen-temen gue. Awas aja kalau sampai ketemu sama gue lagi, habis mereka semua!”


Risa tersenyum kecut dan mengobati luka yang berada di bawah bibir gue dengan kasar.


“Aww, sakit! Pelan-pelan dong, Ris!"


“Gue bilang tadi apa? Pukul wajahnya dua kali dan harus sampai roboh. Kenapa jadi beberapa kali mukulnya?”


“Di luar dugaan, Ris. Lagian, mana ada pukul dua kali langsung roboh?” timpal gue.


Risa kembali menyentil kening gue dengan tangannya hingga membuat gue meringis kesakitan dan membuat beberapa teman gue yang lain tertawa melihatnya.


“Perjanjiannya tadi apa? Cuma pukul dua kali, kan? Elo udah ngelanggar perjanjian, pelanggaran besar itu!"


“Iya, maaf.”


“Sorry, Ris. Gara-gara gue pacar lo jadi berantem lagi,” kata Mbul yang terlihat menyesal.


“Nggak apa-apa ko, Mbul. Kalau gue jadi Arfan juga, gue pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan. Kalian nggak apa-apa, kan?” tanya Risa sambil memandangi Mbul, Erwin, Tatang, Bison dan Diki silih berganti.


“Kita baik-baik aja ko, Ris. Sumpah, nggak nyangka si Sakti bakalan nekad kaya gitu. Emang brengsek itu orang!” seru Erwin yang terlihat kesal sekali.


“Ya udah, lupain si Sakti-Sakti itu. Muka kalian udah pada luka-luka gitu. Sini, biar gue obatin.”


Melihat Risa yang begitu telaten mengobati luka sahabat-sahabat gue, gue merasa bahagia sekali. Bersyukur gue tidak salah memilih Risa yang memang berhati malaikat. Dia begitu perhatian kepada sahabat-sahabat gue. Risa memang pantas gue perjuangkan.


“Udah agak mendingan?” tanya Risa.


“Udah. Makasih banyak, Risa!” seru Erwin, Tatang, Mbul, Bison dan Diki bersamaan.


“Jangan pada berantem lagi, yah?”


“Iya,” jawab mereka membeo.


“Jangan buat gue khawatir lagi. Gue takut lo kenapa-kenapa, jadi jaga diri lo baik-baik.”


“Iya, gue janji bakalan jaga diri gue baik-baik. Maaf, yah?”


“Iya, yang penting, elo sama temen-temen lo nggak kenapa-kenapa aja itu udah cukup buat gue.”.


Itulah Risa. Pacar gue yang unik, menggemaskan dan paling gue sayang.