
“Alex? Bukankah dia sedang bekerja sama denganmu? Aku kira masalah kalian sudah selesai” tanya Mr. Vanderson lalu menyesap kopi hitamnya.
“Itu juga karena rencana Edward, dia sungguh merencanakannya dengan sempurna”
“Ya. Aku mengakui keahliannya. Lalu bagaimana dengan data-data pendukungnya? Apa kau sudah menemukannya?”
“Apa kau lupa sedang berbicara dengan siapa Van?” ucap Mr. Mark dengan tawanya.
“Ah ya hampir saja. Apa Edward juga?”
“Ya. Dia memiliki club bersama teman-temannya”
“Benarkah? Jangan katakan kalau” Mr. Vanderson menjeda kalimatnya “City Hunter?” tebaknya.
“Tebakanmu dari dulu tak pernah salah kawan”
Keduanya tertawa sambil menikmati secangkir kopi hangat di bawah gazebo pekarangan rumah keluarga Vanserson.
“Mengapa harus Edward dad? Biasanya aku juga sendiri di rumah”
Mr. Vanderson mengulas senyumnya “Kali ini dad pergi lebih lama sweety”
“Percayalah sweety. Daddymu bersahabat sejak lama dengan keluarga Mark” Margareth menambahi sambil mengelus lembut rambut panjang putrinya.
“Baiklah” pasrah Megan.
Megan memasukkan barang-barangnya ke dalam koper putih miliknya tanpa semangat. Ia bimbang, harus senang karena akan memiliki banyak waktu dengan kekasihnya atau sedih karena akan jauh dari orang tuanya.
“Aku akan merindukan kalian” ucap Megan tersedu saat berpelukan dengan ibunya.
“Hey. Kau seharusnya senang akan bersama Edward sepanjang hari” goda Margareth membuat tangis Megan terhenti.
“Mom, kau membuatku malu”
“Baiklah cepat masuk, ayah mertuamu sudah menanti”
“Kemarilah Megan”
Megan memasuki mobil milik Mr. Mark sambil terus memandang orang tuanya. Ah, rasanya mengapa sungguh berat meninggalkan mereka.
“Kau baik Megan?”
“Ah ya aku baik Mr. Mark” ucap Megan kikuk.
“Kau ini sangat lucu, pantas saja Edward jatuh cinta pada mu. Kau cukup memanggilku dad”
“Ah ya dad”
Percakapan mereka berlangsung layaknya ayah pada putrinya. Hingga Mr. Mark mengurangi laju mobilnya saat memasuki halam luas kediaman keluarga Mark. Megan tak menyangka akan mengunjungi rumah ini untuk kedua kalinya, bahkan tinggal di dalamnya.
Seorang housemaid dengan sigap membawa koper milik Megan dan membawanya kedalam. Wanita paruh baya nampak tengah duduk santai sambil membaca di ruang tamu yang Megan tebak adalah istri Mr. Mark.
“Megan” pandangan Megan beralih pada wanita tua yang baru keluar.
“Nenek” Megan berjalan ke arah Nenek Lusi lalu memeluknya.
“Hey lihat siapa yang datang. Kau tak ingin memelukku Megan?” Ny. Mark menyahut membuat Megan tersenyum lalu memeluknya.
“Kau jauh lebih cantik dari yang ku kira”
“Kau lebih cantik emm” kalimat Megan terhenti.
“Mom”
“Ah ya. Kau lebih cantik mom”
“Apa kau mencari Edward? Dia ada di kamarnya” ucap Marie saat melihat Megan celingukan. “Anna. Antarkan Megan ke kamar Edward”
“Lewat sini nona” Anna sang housemaid menunjukkan jalan.
Megan mendorong pelan pintu coklat di depannya. Wangi citrus menyambutnya , ruangan luas ini mempunyai desain yang sangat manly. Keadaan kamar ini sunyi membuat Megan berusaha membuat agar sepatunya tak menimbulkan suara.
“Kau disini?” suara bass milik Edward membuat Megan berjingkat kaget. Saat berbalik ia menemukan Edward yang sedang bertelanjang dada membuat Megan susah payah meneguk ludahnya. “Duduklah, aku akan memakai baju”
Megan mendudukkan dirinya di kasur berukuran king size milik kekasihnya. Tangannya terulur mengambil sebuah figura. Wajah gagah membius matanya sesaat, sungguh kekasihnya seperti tak mempunyai kekurangan fisik sedikitpun.
“Daddy bilang kau akan menginap disini”
“Sudah melihat kamarmu?”
“Belum. Mommy langsung menyuruhku kesini tadi”. Edward tersenyum mendengar perkataan polos gadisnya.
“Ingin ku antar?” tanya Edward membuat Megan mengangguk.
Kamar yang akan ditempati Megan berada tepat disebelah kamar Edward. Kamar bernuansa pastel ini terlihat lebih terag dari pada kamar Edward yang cenderung berwarna gelap.
“Kau menyukainya?”
“Tentu saja” ucap Megan bersemangat lalu berjalan menuju balkon. Dari sini nampak taman mawar yang sangat indah. “Apakah mommy menyukai mawar?”
“Sangat” jawab Edward lalu melingkarkan tangannya pada perut Megan. Megan yang mendapat perlakuan seperti itupun tersipu malu sambil menundukkan wajahnya.
“Jangan tinggalkan aku” ucap Edward lirih yang masih dapat di dengar oleh Megan.
“Tak akan” tangan mungilnya mengelus lengan kekar Edward.
“Beristirahatlah” ucap Edward menuntun Megan ke temat tidur.
Megan merasakan sesuatu yang berat menindih perutnya. Matanya terbuka dan menemukan sebuah tangan kekar tengah memeluknya dari belakang. Ia pun membalikkan badan menghadap ke si empunya. Wajah damai Edward membuat sudut bibirnya terangkat, wajah ini akan menjadi candunya sekarang. Tangan mungilnya bergerak bebas menyentuh setiap jengkal wajah lelakinya. Ah, sepertinya Megan sudah menyayanginya.
"Apa aku membangunkanmu?" tiba-tiba Edward berucap membuat Megan tergugup. Ia hendak memundurkan badannya, namun nihil badannya malah semakin mendekat hingga ia bisa merasakan hembusan nafas berbau mint.
"Kk..kau s..sudah bangun?"
"Baru saja. Aku kesini ingin membangunkanmu untuk makan malam, tapi kau nampaknya sangat kelelahan" ucap Edward masih dengan mata tertutup.
"Makan malam? Selama itu aku tidur?" tanya Megan yang baru tersadar jika hari sudah gelap.
Edward membuka matanya perlahan, manik matanya menatap dalam mata biru milik Megan. Mata yang sangat meneduhkan, membuatnya enggan untuk berkedip. Wajah Edward mendekat membuat Megan menafas nafas, hingga akhirnya bibir Edward mengecup pelan mata Megan bergantian.
"Bersihkan dirimu. Setelah itu turun untuk makan".
Megan segera beranjak dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi. Pasti sekarang wajahnya semerah kepiting rebus.
Meja makan sudah terdapat berbagai santapan makan malam, keluarga Mark pun sudah duduk tenang sembari menunggu anggota lainnya.
"Kau sudah membangunkan Megan Ed?" tanya Marie yang baru datang dari dapur.
"Mungkin sebentar lagi turun" ucap Edward tanpa mengalihkan fokus pada MacBooknya.
Sesaat kemudian, langkah kaki terdengar menuruni tangga membuat Marie mengulas senyumnya.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu" Megan berkata.
"Tak apa, duduklah"
"Kau nyaman dengan kamarmu?" tanya Mr. Mark setelah menutup MacBooknya.
"Sangat. Em dimana grandma?" tanya Megan karena tak melihat Nenek Lusi duduk diantara keluarga Mark.
"Dia sedang ada berkunjung ke rumah temannya, dan mungkin menginap" jawab Marie sambil menyendokkan nasi kedalam piring Mr. Mark.
"Letakkan MacBookmu Ed" peringat Mr. Mark. Benar saja, Edward masih berkutat dengan MacBook putih miliknya.
"Setelah makan datanglah ke ruanganku" pinta Mr. Mark membuat Edward mengangguk.
Megan sedang duduk santai di taman mawar milik Marie dengan secangkir teh chamomile.
Disebelahnya Marie sedang mengestrak beberapa mawar untuk diambil airnya.
"Apa mommy biasa membuatnya sendiri?" tanya Megan yang sedari tadi memperhatikan kegiatan Marie.
"Ya. Lebih aman. Produk kecantikan sekarang banyak yang di tambah dengan bahan-bahan kimia yang berbahaya"
"Ya, kemarin salah seorang siswi NSS wajahnya memburuk akibat memakai kosmetik" ucap Megan mengingat-ingat berita yang pernah gempar di sekolahnya.
"Kulit wajah di usiamu masih sensitif terhadap kosmetik. Jadi harus lebih berhati-hati. Apa kau memakai riasan?" tanya Marie yang kemudian menatap Megan.
"Tidak. aku lebih suka natural" jawab Megan polos membuat Marie tertawa ringan.
Perbincangan keduanya berlanjut sampai Marie sudah menghasilkan satu botol penuh air mawar. Megan sungguh merasakan kasih sayang ibunya dari Marie. Ah dia jadi merindukan ibunya.