ABOUT YOU

ABOUT YOU
Yeoseos



"Apa kau yakin Ed?" tanya Arthur memastikan.


"Tidak terlalu. Aku harus mencari bukti-bukti lainnya" ucap Edward lalu menutup laptop miliknya. "Bulan depan Megan akan mengikuti lomba sains"


"Aku yang akan pergi" Leo tiba-tiba bersuara dengan semangat.


"Baiklah" setuju Edward enteng.


"Kau harus benar-benar menjaganya Leo" peringat Jovial.


"Tenang saja. Aku sudah ahli dalam hal pengawasan" Leo membanggakan diri.


"Malam ini akan ada pesta di CC Lounge. Menurut informasi yang kudapat, Thunder akan pergi bersama Emily" Arthur melapor.


"Benarkah? Kalau begitu akan semakin mudah" ucap Edward.


"Kau akan memasukkan Uncle Mark kali ini?" tanya Harry yang sedari tadi menyimak.


"Ya"


"Aku sudah lama tak bermain" Jovian berucap dengan seringainya.


Ella berlari membuat suara sepatunya menggema di koridor gedung sains. Sudah hampir satu jam gadis itu memutari seluruh gedung, namun ia belum juga menemukan dimana keberadaan Megan.


"Kau dimana Chall" lirih Ella terus berlari menelisik setiap ruangan.


Pandangannya terhenti pada Leo yang sedang bersama seorang gadis yang bergelayut manja di lengan kanannya.


"Leo!" panggil Ella.


Dahi pemuda itu nampak berkerut "Ada apa?"


"Bisa bicara sebentar" ucap Ella sambil menatap ke arah si gadis.


"Kau pergilah baby, aku akan mencarimu nanti" ucap Leo pada gadis di sebelahnya. "Jadi?"


"Megan menghilang"


"Apa? Bagaimana bisa? Kau sudah mencarinya? Ah kau ikut aku" ucap Leo menarik tangan Ella menuju suatu ruangan.


"Dimana Edward?" tanya Leo saat tak mendapati Edward bersama ketiga temannya.


"Dia sedang ada kelas"


"Aku disini" Edward muncul tiba-tiba dari luar ruangan.


"Ed. Megan menghilang" ucap Ella maih dengan suara bergetarnya.


"Maksudmu? Bukankah dia melakukan bimbingan?" raut wajah Edward berubah seketika.


"Ya. Dia berpisah denganku setelah menemui ku sebentar. Dan aku tersadar saat handphone nya masih terbawa olehku. Saat aku akan menyusul ke lab, tapi tiba-tiba handphone nya berdering. saat ku angkat malah seorang lelaki yang bicara" jelas Ella dengan tangisnya.


"Apa yang dikatakan?" tangan Edward mulai mengepal.


"Dia berkata jika Megan tengah bersenang-senang dengannya"


"Arthur segera lacak keberadaannya" ucap Edward lalu menyambar kunci mobilnya.


BMW i8 itu melesat dengan kecepatan diatas rata-rata membelah jalanan *MT Pleasant RD* yang lenggang siang ini.


"Dad, aku butuh bantuanmu" ucap Edward pada ayahnya saat berbicara via telepon.


Disisi lain seorang gadis menangis tersedu-sedu dengan tangan yang di ikat kencang hingga membuat kulit putihnya memerah.


"Siapa kau?!" teriak Megan dengan suara paraunya.


"Calm down baby. Kita akan bersenang-senang" ucap lelaki berpakaian serba hitam.


*Megan berjalan sambil sedikit bersenandung saat akan menuju lab sains untuk melakukan bimbingan bersama Mrs. Mille. Sampai tiba-tiba sebuah sapu tangan membungkam mulutnya hingga membuat kesadarannya menghilang.


Mata Megan mengerjap saat kesadarannya kembali. Megan merasa nafasnya sesak dan baru menyadari bahwa hidung serta mulunya tertutup sebuah sapu tangan merah. Matanya menyipit saat bayangan seseorang muncul di depannya. Ia tak bisa melihat dengan jelas wajah orang itu karena gelapnya ruangan*.


"Are you crazy?"


"Aku gila karnamu baby" ucap lelaki itu membelai lembut pipi Megan.


"Singkirkan tangan sialanmu!" Megan berusaha memberontak.


"Whoah. Kau cukup berani baby. Aku sudah cukup lama menunggu, dan kini saatnya untukku memilikimu seutuhnya" senyum licik nampak pada wajah tampannya "Apa kau tak tertarik pada wajah tampanku baby?"


"Wajah tampanmu tak akan berguna jika kelakuanmu bejat!" sentak Megan masih dengan air matanya.


"Benarkah? Kau harus tau jika aku sangat mencintaimu. Tapi malah ******** itu yang memilikimu" nada bicara lelaki ini mulai meninggi. "Mengapa kau memilihnya? Hah!"


"Singkirkan tangan kotormu dari kekasihku Thunder!" suara menggelegar dibalik tubuh Thunder membuat Megan tersentak kaget.


"Ooh. Si ******** datang ternyata? Ingin bertamu?"


Edward melayangkan pukulannya bertubi-tubi pada perut Thunder hingga membuatnya terkapar di lantai.


Thunder menyeka darah di sudut bibirnya lalu menyeringai.


"Aku yang lebih dulu melihatnya! Tapi kau merebutnya dariku!"


"*Kenalkan ini putri sulungku" ucap Mr. Andreas pada seorang kolega bisnisnya .


"Kau sungguh cantik. Siapa namamu?"


"Cukup panggil aku Megan" ucap Megan dengan gummy smile nya.


Mata Thunder tak berkedip saat Megan memperkenalkan dirinya. Sungguh, Thunder ingin memilikinya.


Berbulan-bulan Thunder mencari informasi tentang Megan, tak banyak yang ia dapat dari gadis periang itu.


Sampai akhirnya, kenyataan bahwa Megan dikabarkan dekat dengan musuh bebuyutannya membuat ia bersumpah akan mengambil kembali Megan*.


"Apa kau tak puas selalu memenangkan pertandingan Ed? Apa kau tak puas sampai kau juga mengambil Megan dariku?!" suara Thunder menggema ke seluruh sudut gedung.


"Aku tak pernah merebut apapun darimu!" ucap Edward tak kalah sengit.


Dor!!


Suara tembakan itu membuat Megan kembali tersentak. Edward segera berlari menuju Megan dan langsung melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya.


"Aku takut Ed" parau Megan sambil mengeratkan pelukannya pada Edward. Pundaknya bergetar.


"Ssstt. Tak apa ada aku. Sekarang kita pulang" ucap Edward lalu membopong Megan dan membawanya keluar.


Mata elang Edward menatap tajam kearah Thunder yang sudah terkapar.


"Urus dia Harry"


"Serahkan padaku"


Mata Edward memanas saat melihat tangan dan kaki Megan memerah. Tangan kanannya mengelus lembut rambut panjang Megan.


"Maafkan aku, maafkan aku" tangis Edward pecah memandang kekasihnya yang sudah lemah.


Mata biru Megan perlahan terbuka dan mendapati seorang lelaki menangis di lipatan lengannya.


"Edward" panggil Megan lirih.


"Megan? Kau merasa kesakitan? Dimana?" tanya Edward beruntun.


"Aku hanya haus". Dengan cekatan Edward mengambil gelas berisi air dan memberikan kepada Megan.


"Kenapa kau menangis hem?" tanya Megan sambil menyentuh lembut pipi Edward.


Edward meraih tangan Megan yang terlihat mungil di genggamannya lalu menciumnya perlahan.


"Aku tak apa"


"Kemarilah" ucap Megan menepuk tempat tidur disebelahnya.


"Aku ingin kau menemaniku" pinta Megan lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang kekasihnya.


Sungguh, setang jantung Edward berdetak lebih cepat dari biasanya. Ditaruhnya dagu pada puncak kepala gadisnya dengan sesekali menciumnya.


"Maafkan aku"


🌚


Disinilah Edward berada bersama ke empat temannya. Ia baru saja kembali dari rumah Megan.


"Bagaimana keadaan Megan?" Jovial bersuara.


"Baik" ucap Edward lemah.


"Thunder sudah berani masuk ke wilayah kita" anak lain menyahut membuat anggota lainnya mengangguk setuju.


"Apa yang akan kita lakukan?" pemuda dengan rambut cepak bersuara.


"Kita lihat apa yang akan dilakukan Thunder" Edward menjawab.


"Kurasa Emily ikut andil dalam rencana kakaknya" sahut lainnya.


"Kupikir juga begitu" Harry membenarkan.


"Ed. Lihat yang ku temukan" Arthur menunjukkan layar laptopnya. "Mr. Smith menggelapkan dana perusahaannya"


Edward tersenyum tipis "Tunggu tanggal mainnya"