
Keadaan ruang tamu keluarga Mark tampak tenang dengan Ny. Mark yang tengah asik membaca majalah yang baru saja tiba dan Nenek Lusi yang sedang menikmati secangkir teh chamomile.
"I'm home" teriak Edward saat masih diambang pintu besar dan tinggi berwarna coklat. Kedatangannya disambut pilar-pilar penyangga yang terlihat gagah dan menjulang tinggi ke langit-langit rumah.
"Kau datang" sapa Ny. Mark.
"Ya, latihan hari ini dipercepat" ucap Edward lalu mencium pipi ibunya bergantian. Lalu mata tajamnya mengarah ke sang nenek yang masih menghirup aroma teh chamomile nya.
"Apakah teh itu lebih menarik dari pada aku?" tanya Edward membuat Ny. Mark tersenyum geli.
"Aroma teh ini lebih enak dari pada bau tubuhmu" ucap Nenek Lusi membuat Edward mendengus. Tak ada yang bisa mengalihkan fokus neneknya saat sudah bersama teh chamomile kesukaannya.
"Baiklah-baiklah, aku akan ke atas" pamit Edward lalu melenggang ke kamarnya.
Sampai di kamar, benar saja, Edward langsung masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan diri. Walaupun latihan hari ini tak se lama biasanya. Tapi ia merasa tubuhnya sangat lengket.
"Dimana Mark?" tanya Nenek Lusi pada Ny. Mark.
"Mungkin dia ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Biasanya dia akan memberi kabar, tapi sampai kini belum ada pesan darinya" raut wajah Ny. Mark tiba-tiba berubah gelisah.
Nenek Lusi yang paham akan perubahan raut wajah menantunya pun mencoba menenangkan "Mungkin dia sangat sibuk sampai tidak sempat memberi kabar"
Ny. Mark mengangguk membenarkan mencoba menghilangkan segala pikiran negatif nya.
"Kau baru saja sampai dan akan pergi lagi?" tanya Nenek Lusi pada cucu satu-satunya yang sudah rapi dengan kemeja berwarna hitam.
"Aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus ku selesaikan"
"Apa ada masalah?" tanya Ny. Mark.
"Kuharap tidak" ucap Edward singkat lalu segera berlari menuju mobilnya.
Edward mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Keadaan Albion Street yang cukup ramai karena bersamaan dengan jam pulang kantor membuat Edward memukul setirnya frustasi.
Ia meraih handphone di dashboard mobilnya lalu segera mengetikkan sebuah nama. Namun yang diterimanya hanya suara operator.
"Shit!"
Sudah hampir 1 jam mobil Edward belum juga sampai di kantor cabang milik ayahnya.
Handphone Edward berbunyi pertanda panggilan masuk.
"Dad. Apa yang terjadi?"
"Cepat pergi ke bandara. Ayah sudah menelepon lainnya. Kita akan ke New York"
Panggilan dimatikan sepihak membuat Edward mendengus.
Ketukan pada kaca mobilnya menyadarkan Edward dari pikiran-pikiran buruknya.
Nampak Leo dengan helm full face nya.
"Cepat naik atau kita akan terlambat" sergah Leo saat Edward membuka kaca mobilnya. Tanpa berpikir dua kali, Edward segera turun dan meninggalkan mobilnya di tengah kemacetan.
BMW HP4 Race hitam milik Leo yang diberikan Edward tahun kemarin sebagai hadiah ulang tahunnya, melesat membelah jalanan.
Setelah sampai di bandara, Edward segera berlari diikuti Leo dibelakangnya. Sesekali Edward menabrak bahu orang yang dilewatinya dan menyebabkan pemuda jangkung itu mendapat beberapa makian.
Terlihat Arthur dan Jo yang sudah fokus dengan MacBook, Harry yang tengah membenarkan letak Spy SunGlasses miliknya.
"Pesawat sudah siap" lapor seorang berbaju hitam yang diangguki Edward.
"Jo" panggil Edward membuat Jo menoleh lalu memberikan MacBook yang sedari tadi di pegangannya.
"What the hell" umpat Leo yang juga melihat isi MacBook.
"Berapa lama?"
"1 jam 21 menit" jawab Arthur.
"Baiklah. Kalian sudah tau apa yang harus dilakukan?" tanya Edward yang masih fokus pada MacBook.
"Uncle Vanderson sudah mengaturnya" jawab Harry membuat Edward mengangkat kepalanya.
"Dia ikut?"
"Ya. Dia terlihat sangat khawatir"
"Segera suruh orang menjaga rumah Uncle Vanderson!"
Dilain tempat, mulut Megan terbuka sempurna saat tiba-tiba mendapati orang berpakaian serba hitam bersenjata lengkap datang dengan jumlah yang cukup banyak.
"What happen sweety?" tanya Ny. Vanderson yang baru saja keluar dari rumah setelah mendengar suara bergemuruh.
"Tuan muda Edward yang memerintahkan kami menjaga rumah Tuan Vanderson" salah satu dari mereka menjawab pertanyaan Ny. Vanderson dengan tegas.
Ny. Vanderson yang sudah merasakan hawa tidak baik pun segera menarik Megan untuk masuk ke rumah.
"Mom, katakan padaku apa yang terjadi? Edward tidak mungkin tiba-tiba mengirim penjaga sebanyak ini" suara Megan terdengar bergetar menahan tangis.
"Tenanglah, mom akan menelepon Ny. Mark untuk menanyakan apa yang terjadi"
🌚
Arthur mengucek kedua matanya untuk menghilangkan rasa kantuk yang sangat mengganggunya.
"Oh ayolah, ada apa dengan mata ini"
"Ada apa Ar?" tanya Jovial yang sudah duduk di sampingnya.
"Mataku sangat berat" keluh Arthur.
"Need a coffee brother?" Leo datang dengan membawa dua cangkir kopi yang masih hangat.
"Kau sungguh pengertian"
"Tentu saja. Jonathan Leo Verrorezi" ucap Leo seraya menepuk dadanya pelan.
"Berhenti menyebut nama panjangmu di depanku" protes Jovial yang membuat kedua temannya terkekeh.
"C'mon Jo. Nama kita hanya sama pada 2 huruf di awal" ucap Leo membela diri.
"Tetap saja"
"Oh ya, bagaimana perkembangan kasusnya?" lanjut Jovial menghentikan tawa Leo.
"Sudah tak separah kemarin" ucap Arthur yang kembali menatap monitor di depannya.
"Dimana Edward dan Harry?"
"Edward masih di kantor bersama Uncle Mark. Dan Harry sepertinya juga disana" jelas Jovial lalu meneguk kopinya.
Tak lama setelah itu, handphone Jovial berdering dengan menampilkan nama Ella.
"J..Jo" suara Ella terdengar bergetar disana.
"Ada apa Ell?" mendengar nama itu, Arthur dan Leo sama-sama melihat ke arah Jovial dan berusaha mendengarkan.
"Aku me..melihat s..se..orang d..di hal.. halaman"
"Shit" umpat Leo.
"Oke tenang. Aku akan menyuruh orang untuk berjaga. Jangan panik oke"
"A..apa y..yang terjad..di Jo?"
"Hanya ada sedikit masalah. Jangan terlalu kau pikirkan"
"Kkalau begitu k..kut..tutup"
Setelah panggilan dimatikan, tangan Jovial terlihat mengepal.
"Mereka sudah berani bermain dengan kita" sahut Arthur.
"Mereka belum tau saja apa akibatnya bermain di lubang hitam. Welcome to the game" ucap Leo dengan seringaian khas miliknya.
🌚
"Ed! Lihat apa yang kudapatkan" teriak Harry membuat Edward mengalihkan fokusnya.
Harry menyetel kacamata Spy SunGlasses menampilkan gambar seorang lelaki berkacamata lengkap dengan data dirinya.
"Seperti tidak asing" gumam Edward.
"Nah, aku juga merasakan hal itu" ucap Harry menyetujui ucapan Edward.
"Simpan datanya" ucap Edward lalu kembali pada pekerjaan yang sempat ditinggalkan.
"Beristirahatlah Ed, kau belum sempat tidur sejak 2 hari lalu" saran Harry saat melihat Edward kembali berkutat dengan monitor.
Ia sungguh merasa iba dengan sahabatnya yang tak lain adalah anak dari seorang billionaire, dan satu-satunya pewaris International Business Machines Corporation (IBM). Salah satu dari 50 perusahaan yang berpengaruh di dunia. Perusahaan yang memproduksi dan menjual perangkat keras dan perangkat lunak komputer.
"Kau pergilah. Aku harus menyelesaikan ini"
Harry yang mendengar itupun hanya mendengus, ia lupa bahwa yang diajak bicara adalah seorang yang sangat keras kepala.