
Rasanya luar biasa. Ternyata, ini rasanya mencintai seseorang dengan setulus hati. Gue sangat bahagia bisa memiliki Karisa yang begitu teramat gue sayangi. Semenjak kejadian kemarin-kemarin yang cukup menghebohkan seantero sekolah, gue dan Karisa memutuskan untuk pergi ke kantin karena perut kami berdua sudah keroncongan alias kelaparan.
“Asti nemuin lo?” teriak gue begitu mendengar cerita Risa soal Asti yang tiba-tiba datang ke sekolah dan menghampirinya.
“Iya. Dia nyuruh gue supaya gue lepasin lo dan putusin lo. Tapi, gue bilang gue nggak mau. Gue masih mau pacaran sama lo.”
“Nice. Jawaban lo bagus banget. Gue setuju!”
“Oh iya, gimana masalah lo sama Sakti?” tanya Risa sambil menatap wajah gue.
“Ya begitu aja, sih. Gue udah punya barang bukti soal kebohongan dia tentang dia yang bilang kalau dia geger otak setelah berantem sama gue.”
“Terus, langkah lo selanjutnya apa?” tanya Karisa dengan mulut penuh makanan hingga membuat gue langsung mengelap noda makanan yang berada di bawah bibirnya.
“Menurut lo gimana? Gue boleh nggak bongkar rahasia dia selama ini yang sudah menyebabkan gue di keluarkan dari sekolah?”
Karisa menyimpan sendok makannya dan menatap wajah gue dengan begitu dekat. Risa tersenyum tipis dan memegang tangan kanan gue dengan begitu erat, sampai-sampai membuat gue begitu gugup dengan sikap perilakunya hari ini.
“Kalau menurut gue, elo nggak usah balas dendam, Fan. Sekarang gue tanya, lo bahagia nggak?’
“Sangat bahagia. Gue bahagia bisa sekolah di sini. Karena berkat di keluarkan dari sekolah gue yang dulu, gue malah ketemu sama lo di sini, terus pacaran, deh.”
“Kalau gitu, lo nggak usah balas semua perbuatan Sakti. Kalau dia salah, dia pasti bakalan kena karmanya. Tanpa lo balas juga, pasti akan ada orang lain yang membalas semua perbuatannya. Sekarang, elo nikmatin aja masa-masa Sma lo dengan tenang. Dari pada balas dendam, lebih baik lo melakukan hal-hal yang bermanfaat.”
Gue tersenyum kecil. Jawaban Karisa benar-benar membuat gue tersadar. Dendam tidak perlu di balas dengan dendam lagi. Toh, sekarang gue sudah bahagia. Gue punya pacar, punya temen-temen yang peduli sama gue dan punya keluarga yang begitu mendukung gue.
“Masalah foto sama video itu, elo nggak apa-apa, Ris?” tanya gue hati-hati.
“Gue sama sekali tidak terganggu dengan semua itu, Fan. Nanti juga, semuanya akan berhenti dengan sendirinya. Orang-orang juga bakalan capek ngurusin hal yang nggak penting seperti itu.”
“Duh, bangga banget gue punya pacar yang dewasa dan bijak seperti lo. Jadi makin sayang.”
Gue memegang kepala Risa dengan lembut. Risa tersenyum, kami berdua pun saling melempar senyum dengan bahagia.
“Jadi, sekarang kita masih tetep pacaran, kan?” tanya Risa.
“Iya masihlah. Kita masih pacaran, emang kapan kita putus?” tanya gue bingung.
“Oh iya lupa,” katanya nyengir.
“Boleh minta sesuatu nggak?”
“Apa?” tanya Risa bingung.
“Pengen denger lo bilang sayang,” kata gue pelan.
Risa membisu. Ia terlihat gugup dan juga salah tingkah. Kalau lagi gugup seperti itu, wajahnya jadi semakin menggemaskan.
“Sini, pinjem tangan lo,” katanya yang langsung menarik tangan kanan gue.
Seketika gue bingung. Risa mengambil sebuah pulpen dari dalam tasnya, kemudian dia mulai menulis sesuatu di telapak tangan gue. Begitu gue melihat tulisannya, ternyata Risa menuliskan kalimat ‘Risa sayang Arfan’. Begitu membacanya, gue langsung tersenyum lebar penuh kebahagiaan.
“Udah baikkan? Jadi, traktir kita semua bisa kali, Fan!” teriak si Mbul dengan kawan-kawan yang lainnya entah muncul dari mana.
“Bangkrut gue, Bro !” teriak gue sambil memegang kepala.
Mbul, Erwin, Tatang, Bison, Jeni dan Dhea langsung terlihat begitu bersemangat ketika mendengar kata traktiran alias makanan gratis. Entah datang dari mana, mereka muncul serentak dengan team yang komplit untuk mericuhkan meja gue dan juga Risa.
Tapi, itulah mereka. Kawan-kawan gue dan juga Risa yang kini menjadi teman kami berdua. Bukan lagi menjadi temannya gue atau pun dia, tapi menjadi sahabat kami. Gue senang memiliki mereka. Walau mereka tahu ada masalah yang menimpa gue dan juga Risa, tapi mereka tetap diam sampai kami yang berbicara sendiri kepada mereka.
Mereka selalu ada untuk menyempurnakan hari kebahagiaan kami. Selalu penuh canda dan tawa, kehebohan dan yang pasti saling mengejek satu sama lainnya.
Gue sadar, dengan adanya masalah pertengkaran gue dengan Sakti, kemunculan Asti kembali, kisah cinta Risa dengan kang Abizar yang tertunda, membuat gue dan juga Risa semakin dewasa dalam menyikapi permasalahan ini.
Beruntungnya gue memiliki Risa yang menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin, tanpa emosi atau pun kata-kata yang paling gue benci untuk didengarkan.
Putus. Untungnya, Risa tidak mengucapkan kata menyebalkan itu. Masih untung, Risa menginginkan waktunya sendiri untuk berfikir jernih. Itu lebih baik dari pada kata putus atau pertengkaran seperti beradu mulut dengan pasangan mereka.
Risa melirik ke arah gue. Dia tersenyum lebar, tersenyum penuh kehangatan dan juga kebahagiaan. Dia juga sempat mengucapkan terima kasih, meski tidak bersuara sama sekali.
“Makan yang banyak, biar makin gendut kaya si Mbul!” seru gue begitu melihat teman-teman yang lain tampak begitu heboh saat memakan makanan yang terlihat sederhana itu.
Makanan sederhana itu hanya semangkok bakso, di tambah es teh manis dan sebungkus kerupuk kulit. Hanya makanan sederhana itu saja, sudah membuat teman-teman gue kegirangan sekali seperti memakan makanan mahal ala restoran berbintang.
“Fan, gue tambah semangkok lagi, yah?” seru Erwin yang terlihat kepalaran sekali, seperti belum makan 1 minggu lamanya.
“Iye-iye. Sebahagianya kalian semualah. Pokoknya, besok gue siap-siap bangkrut.”
“Jadi, nggak ikhlas nih traktirnya?” tanya Dhea menatap wajah gue sinis.
“Ikhlas ko ikhlas. Apa sih yang nggak buat kalian semua,” kata gue menjawab dengan wajah penuh penderitaan.
“Tenang, kalau lo nggak bisa makan besok. Kan, masih ada gue yang bakalan beliin lo makanan,” kata Risa yang membuat teman-teman yang lain menyoraki kami.
“Masa cewe yang traktir cowo, sih?” seru gue.
“Kan, nggak tiap hari juga kali, Fan. Gak usah gengsi gitu, sama pacar sendiri juga!” sahut Risa yang membuat gue rasanya bahagia sekali begitu mendengar dia sudah mengakui gue sebagai pacarnya di depan teman-teman yang lain.
“Ka mana atuh pacar!” teriak si Mbul yang membuat teman-teman yang lain tertawa keras begitu mendengar perkataannya yang kadang-kadang suka membuat orang lain tertawa ngakak.
Setelah makan siang bersama teman-teman yang lain, gue dan Risa berpamitan pulang. Karena kami juga butuh waktu untuk berduaan. Maklum, lagi di landa kasmaran. Jadi, bawaaanya pengen berduaan terus sama orang tersayang. Jadi berasa dunia itu milik kita berdua deh.
“Jadi, lo seneng nggak?” tanya gue saat kami berada di parkiran.
“Seneng banget. Karena akhirnya gue masih bisa jalan berdampingan seperti ini sama lo.”
“Kalau sambil pegangan tangan masih seneng nggak?” tanya gue yang langsung menggandeng tangannya.
“Itu sih bukan seneng lagi. Tapi keinginan gue,” katanya sambil tertawa kecil hingga membuat gue langsung memukul pelan kepalanya Risa dengan kepala gue.
“Jadi, ke mana kita sekarang?”
“Ke rumah lo. Ketemu sama Arini, teh Sarah dan nyokap lo. Gue udah denger soal teh Sarah dari Tatang. “
“Jadi, mereka udah ceritain semanya sama lo?”
“Udah. Beberapa hari yang lalu mereka ngajak gue ngobrol soal lo. Jeni juga sampai ke rumah cuma untuk membujuk gue supaya bisa baikkan lagi sama lo. Mereka peduli sama kita. ”
“Iya. Mereka sahabat yang baik.”
“Kalau gitu, kita ke rumah gue aja. Sekalian gue kenalin lo sama teh Sarah.”
Ayo, kita ke rumah calon mertua!” teriaknya tanpa sadar. “Eh, maksud gue . . . .”
“Iya, nggak apa-apa calon mertua juga,” sahut gue yang langsung menyubit kedua pipinya karea gemas.
Risa yang dewasa, Risa yang Bijak, Risa yang cerdas dan Risa yang jutek adalah kekasih gue sekarang. Dia mampu membuat gue tergila-gila kepadanya hanya dengan sikap dia yang terkadang dingin, cuek dan jutek, tapi penuh perhatian, kehangatan dan kasih sayang.
Itulah kamu, kamu adalah Karisaku.
“Kamu adalah Karisaku,” bisik gue di telinganya, hingga membuat Risa menatap wajah gue sambil tersenyum tipis.