
Arfan terlihat gugup dan juga panik. Jelas saja dia gugup, orang aku yang tadi angkat telepon dari Asti dari handphonenya. Saat Arfan sedang memesan makanan, handphonenya Arfan bergetar karena ada panggilan masuk. Tadinya, aku tidak mau angkat. Tapi, getarannya sangat mengganggu hingga membuatku dengan terpaksa mengangkatnya.
Begitu aku terima, ternyata ada suara perempuan yang menyahut. Aku tanya siapa, dia bilang Asti. Lalu aku tanya Asti siapa, dia menjawab calon pacarnya Arfan. Entah kenapa, mendengar hal itu rasanya aku kesal, emosi, marah dan dadaku terasa sesak.
Aku tidak tahu percis itu artinya apa, tapi aku tidak suka dengan jawaban perempuan itu. Kalau Asti bilang dia calon pacarnya Arfan, lantas aku siapa?
“Dengerin gue dulu, Ris. Gue bisa jelasin. Elo jangan salah faham sama telepon tadi.”
“Nggak salah faham gimana, jelas-jelas dia bilang dia itu calon pacar lo. Terus, kalau dia calon pacar lo, gue siapa?” teriakku dengan nada emosi.
“Ris, makanya dengerin gue dulu.”
“Dengerin, Ris. Nanti, si bekicot ini stress!” ejek si Mbul hingga membuat teman-teman yang lain kembali tertawa.
“Berisik lo, makibau!” seru Arfan meledek temannya, “Ris, dengerin penjelasan gue dulu.”
“Ya udah ini gue dengerin,” kataku nyolot.
Arfan melirik ke arah teman-temannya. Sepertinya mereka mengerti, mereka pun berpindah tempat dan membuat kami hanya tinggal berdua saja untuk menyelesaikan permasalahan ini.
“Asti itu mantan pacar gue waktu di sekolah lama gue. Gue emang pernah pacaran sama dia 1 tahun, tapi kita putus gara-gara dia selingkuh.”
“Terus?” tanyaku penasaran.
“Semalam dia datang ke rumah gue, dia cerita udah putus sama pacarnya dan ngajak gue balikan.”
Mendengar hal itu, entah kenapa aku langsung kesal sendiri. Bahkan, reflek aku sampai menggebrak meja hingga membuat beberapa orang melihat ke arah meja kami.
“Kenapa cewe malam-malam ke rumah cowo? Dia special banget yah sampai nyamperin lo?”
Aku benar-benar tersulut api, emosi jiwa raga dan rasanya ingin sekali aku cabik-cabik muka si Asti itu yang katanya mantan pacarnya Arfan.
“Gue nggak tahu, Ris. Tapi sumpah demi Allah, gue gak balikan lagi sama Asti. Kan, gue udah punya lo. Mana mungkin gue tega ninggalin lo, gue sayang sama lo. Beneran, deh!”
“Bohong!”
“Ya Allah, kalau gue gak sayang sama lo ngapain gue kenalin lo sama ibu dan juga Arini. Ngapain juga gue capek-capek jelasin ini semua sama lo?”
“Ya, mungkin aja elo sedang berdalih. Bisa aja, kan?”
“Ris, elo percaya ngggak sama gue?”
Pertanyaannya kali ini benar-benar membuatku terdiam membisu. Bukan karena apa-apa, dulu kita pernah membahas 4 syarat utama di mana seorang pasangan bisa langgeng kalau memenuhi 4 syarat itu. Dan, salah satu syarat itu adalah kepercayaan.
Apakah aku bisa mempercayainya?
“Ris, kenapa diem?”
“Gue . . . gue percaya ko sama lo.”
“Terus?”
“Ya, nggak terus-terus juga. Emangnya tukang parkir terus-terusan,” kataku menjawab yang sepertinya sudah terkontaminasi candaannya Arfan.
“Eh, tapi tunggu dulu, deh.”
“Ke . . . kenapa?” tanyaku gugup.
“Elo cemburu sama Asti?” tanya Arfan tiba-tiba yang membuatku gugup dan juga panik.
“Apa? Cemburu? Ya, nggaklah. Ngapain juga gue cemburu sama Asti.”
“Jangan bohong. Bohong itu dosa, Ris. Kalau lo marah-marah gitu itu tandanya lo cemburu,” tuduhnya.
“Nggak, ko. Gue nggak cemburu, kurang kerjaan banget gue cemburu sama Asti,” elakku yang baru ku sadari. Ternyata aku ini sedang cemburu.
Apa mungkin aku cemburu?
“Kalau lagi cemburu lo lucu banget, deh. Jadi makin sayang,” katanya sambil memegang kepalaku hingga membuat kedua pipiku memerah karena malu.
“Tau ah, ke kelas dulu.”
Aku langsung bergegas pergi dan meninggalkan Arfan di kantin. Aku memegangi dadaku dengan gugup. Apa mungkin aku beneran cemburu? Kalau aku cemburu, itu tandanya aku?
“Risa!!” panggil seseorang yang membuatku langsung membalikkan badan.
“Kang Abizar?” seruku begitu melihat Abizar, kakak kelasku yang merupakan mantan ketua Osis tahun lalu.
“Ada apa, Kang?”
“Aku udah nggak ikut Osis, Kang. Nggak boleh sama ayah, katanya takut ganggu sekolahku.”
“Ko, gitu? Mau akang bantuin ngomong sama ayahmu?”
Aku menggeleng cepat dan tersenyum simpul.
“Nggak usah, Kang. Lagi pula, aku udah nggak tertarik lagi sama Osis. Osis ternyata bikin aku capek, aku gak sanggup kalau harus pulang malam terus kalau ada kegiatan di Osis.”
“Tapi, kan nggak setiap hari pulang malam. Osis juga pulang malam kalau ada kegiatan sama rapat aja. Sayang banget kalau kamu nggak nerusin, Ris.”
Aku hanya tersenyum dan tidak menjawab kembali. Abizar ini adalah senior yang paling baik yang aku kenal. Dulu, kami berdua cukup dekat dan juga akrab. Aku juga dulu sempat naksir sama Abizar.
Dia pintar, baik, ganteng, pokoknya idola dan type aku banget, deh. Aku mau masuk Osis juga karena ada Abizar bukan karena Osisnya sendiri.
Banyak sekali yang menyukai kang Abizar, sampai-sampai orang-orang yang menyukai kang Abizar itu rebutan pake cara anarkis gitu. Ya, maklumlah, dia kan idola sekolah.
Tapi, semenjak kang Abizar pacaran dengan teh Tita yang mantan wakil ketua Osisnya dulu, aku jadi sedikit menjauh darinya.
Sebenarnya, bukan karena ayah juga aku keluar dari Osis. Aku hanya malas bertemu dengan teh Tita sama kang Abi kalau lagi mesra-mesraan di ruang Osis.
Jadi, lebih baik aku menyerah saja dan melupakannya. Tapi, semenjak aku pacaran dengan Arfan, aku jadi sedikit melupakan kang Abi. Padahal, dulu sering banget aku muji-muji dia dan curhat soal dia sama Jeni dan juga Dhea.
“Kalau kamu masih mau masuk Osis bilang sama aku yah, Ris,” katanya kembali.
“Iya, Kang. Kalau gitu aku masuk kelas dulu,” pamitku.
“Eh, Risa!” katanya kembali memanggil.
“Iya, Kang?”
“Kamu beneran pacaran sama Arfan murid pindahan itu?” tanyanya dengan memasang ekspresi wajah serius.
Aku terdiam beberapa saat. Kemudian, aku tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
“Duluan, Kang.”
Rasanya, aku masih belum bisa mengakui Arfan sebagai kekasihku kepada orang lain selain kepada Jeni dan juga Dhea. Bukan karena malu, tapi aku sendiri masih ragu, apa aku itu benar-benar menyukainya atau tidak? Tapi, mendengar kalau Asti mengajak Arfan untuk balikan lagi, rasanya aku jadi tak rela.
“Gimana?” tanya Jeni saat melihatku baru saja masuk kelas.
“Gimana apanya?”
“Iya, masalah lo sama Arfan soal Astilah.”
“Biasa aja. Nggak ada masalah apa-apa,” jawabku enteng seraya mengeluarkan buku catatan untuk mata pelajarannya selanjutnya.
“Ko, biasa aja, sih?” tanya Jeni lagi.
“Ya terus gue harus gimana, Jen?”
“Salto,” jawab Dhea asal.
“Ngarang lo!”
“Ris, elo nggak marah gitu atau tanya Asti itu siapa sama Arfan?” tanya Jeni kembali yang membuat Dhea manggut-manggut pertanda setuju dengan pernyataan Jeni barusan.
“Udah, ko. Gue udah tanya sama Arfan.”
“Apa katanya?” tanya Dhea dan Jeni bersamaan.
“Asti itu mantan pacarnya Arfan. Asti emang ngajak Arfan balikan. Tapi, Arfannya nggak mau. Kan, dia udah punya gue.”
“Elo percaya?” tanya Jeni yang membuatku mengangguk begitu mendengar pertanyaannya.
“Terus, elo biasa aja?” tanya Dhea.
Aku mengangguk kembali hingga membuat Jeni juga Dhea sepertinya terkejut dengan jawaban gue barusan.
“Kenapa, sih?”
“Hebat. Elo jadi pacar baik banget, Ris,” kata Dhea dan Jeni bersamaan.
“Ya, terus gue mesti gimana?”
“Tingkatkan, Nak!” seru Jeni sambil menepuk-nepuk bahuku.
Aku melirik ke arah Dhea. Dhea hanya diam saja dan tersenyum tipis padaku. Apa aku tadi salah ngomong, yah? Kenapa Dhea dan Jeni seperti orang yang sedang kesal saat aku menceritakan kejadian di kantin tadi? Tahu ah, pusing.