
Semenjak beredarnya foto ciuman gue dengan Asti dan juga video perkelahian gue dengan Sakti di sosial media, anak-anak satu sekolah semakin banyak yang berkomentar negative tentang pergaulan gue yang mungkin dikatakan liar.
Banyak sekali yang mencibir tentang perilaku gue yang sangatlah buruk dan makin banyak juga yang beranggapan kalau gue itu pembawa sial.
Membuat anak orang masuk rumah sakitlah, gaya pacaran yang tidak sehatlah, juga pergaulan yang urakan. Itulah gue di sekolah, gue benar-benar di judge sebagai cowo paling brengsek karena kejadian itu.
Sebenarnya gue tidak ambil pusing soal masalah itu, hanya saja gue takut Karisa jadi terbawa-bawa dalam masalah ini. Gue takut, nantinya bakalan banyak gossip yang aneh-aneh tentangnya. Dan, gue tidak mau itu terjadi kepadanya.
“Fan, janganlah lo sakitin Karisa terus. Kasihan dia, sekarang banyak yang gosipin aneh-aneh soal Risa. Banyak yang bilang kalau Risa itu udah di apa-apain sama lo,” kata Jeni yang langsung menghampiri gue begitu jam istirahat berbunyi dan langsung mengajak gue ngobrol bareng di dekat Lab komputer.
“Siapa yang mau nyakitin Risa sih, Jen. Lo salahin Asti, dia dalang dari permasalahan ini. Dia juga yang dengan sengaja menyebarkan foto itu.”
“Asti nggak bakalan berbuat sejauh ini kalau dia gak ada maksud tertentu sama lo. Cinta itu emang bener-bener bikin orang jadi jahat, yah? Dari awal, gue emang udah gak setuju lo jadian sama Risa. Tapi, karena gue melihat lo tulus menyayangi Risa, gue jadi luluh dan menyetujui hubungan kalian.”
“Gue juga gak mau kaya gini terus, Jen. Gue paling nggak suka kalau udah di acuhkan seperti ini sama Risa. Tahu nggak lo, di cuekin Risa selama 3 hari ini benar-benar membuat gue frustasi. Gue benar-benar merasa kehilangan dia. Elo bisa ngerasain kan rasanya kehilangan itu seperti apa? Benar-benar bikin frustasi dan emosi!”
“Elo sayang nggak sih sama Risa?” tanya Jeni.
“Sayang banget, Jen. Kalau nggak sayang, buat apa gue sampai galau berhari-hari kaya orang gila.”
“Jadi, gimana? Selanjutnya lo mau kaya gimana sama Risa?” tanya Jeni kembali.
“Pokoknya, ini mah plis banget, gue mohon banget sama lo, Jen. Bantuin gue ngomong sama Risa, yah? Kasih gue kesempatan sekali lagi untuk menjelaskan semuanya. Risa pasti bakalan denger apa kata sahabatnya”
“Iya, janji.”
Begitu selesai berbicara dengan Jeni, setidaknya hati gue terasa lebih tenang. Jeni pasti bakalan bantuin gue untuk bisa berbicara lagi dengan Risa. Aslinya, dicuekin sama pacar berhari-hari itu udah kaya gak dikasih uang jajan sama nyokap sebulan. Rungsing, galau, stress akut dan bikin emosi jiwa raga.
Gue kangen berat sama Risa. Beberapa hari ini, gue seperti kehilangan arah dan tujuan. Gue jadi males ngapa-ngapain di sekolah. Yang biasanya suka bikin rusuh di kantin, sekarang gue malah lebih sering diem dan nggak banyak tingkah kaya biasanya.
Setiap kali berpapasan dengan Risa di sekolah, dia selalu nyuekin gue dan ngejauhin gue. Bahkan, wajahnya benar-benar dingin, lebih jutek dari sebelumnya dan matanya sinis banget kalau ngelihat gue.
Makanya, gue sarankan jangan terlalu sayang sama cewe. Sekalinya lo sayang sama dia, bakalan susah untuk ngelepasin. Bakalan susah tidur, keingetan terus, galau berlarut-larut, ngelihat cewe lain kaya ngelihat cewe yang disayang. Bener-bener merepotkan!
Untungnya gue cowo, jadi gue masih tegar, masih kuat dan nggak cengeng kaya cewe. Makanya, setiap kali gue sholat, gue selalu berdoa dan menyebutkan nama Risa berkali-kali agar dia cepat balik lagi sama gue. Setidaknya, meski gue tidak bisa kembali lagi bersamanya, gue harap kami masih bisa berteman baik.
Di saat kacau begini, handphone gue bergetar terus pertanda ada chatt masuk. Melihat isi grup, gue rasanya mendadak ingin tertawa lebar. Siapa lagi kalau bukan si tukang rusuh Mbul dan pasukannya yang membuat kerusuhan di grup hingga selalu membuat gue ingin selalu nimbrung di grup.
Tapi, gue berhutang budi sama mereka semua. Di kala gue menghadapi situasi seperti ini, cuma mereka yang mampu membuat gue bahagia dan melupakan permasalahan yang membuat rambut gue rontok.
Kehilangan Risa tak membuat gue kehilangan sahabat-sahabat gue. Apa jadinya hidup gue jika harys kehilangan mahluk langka seperti Mbul, Bison, Erwin dan juga Tatang. Mereka sahabat gue yang konyol dan luar biasa baiknya.
Thanks untuk kalian semua. Mbul, Erwin, Bison dan Tatang.