
Tepat pukul 10 malam saat gue baru saja sampai rumah setelah kencan dengan Risa, tiba-tiba saja seperti ada seseorang yang mengetuk pintu rumah. Nyokap sepertinya sudah tidur, begitu pun dengan Arini. Dengan terpaksa, gue pun membuka pintu rumah sendiri dan melihat siapa yang sudah berkunjung malam-malam begini ke rumah.
Begitu membuka pintu, gue sangat terkejut. Ternyata, yang berkunjung ke rumah gue malam-malam begini adalah Asti. Mantan pacar gue yang sudah menghiasi hidup gue hampir 1 tahun lamanya.
“Asti? Ngapain lo malam-malam gini ke rumah gue?” tanya gue bingung.
“Hai, Arfan. Apa kabar?” katanya sambil tersenyum.
“Baik. Elo ngapain sih ke sini? Elo nggak tahu tata krama caranya bertamu ke rumah orang, yah?”
“Gue lagi butuh temen curhat, Fan. Boleh, kan?” katanya menjawab.
“Ini udah malam, besok juga kan bisa. Kaya yang nggak ada waktu lain aja.”
“Gue pengen curhatnya sekarang, Fan. Please. . . boleh, yah?” katanya sedikit memaksa.
“Oke, tapi di teras aja duduknya.”
Asti mengangguk.
Gue langsung masuk ke dalam rumah untuk membuatkan minum dan 5 menit kemudian gue kembali menghampirinya di depan.
“Kenapa nggak telepon gue dulu kalau mau ke rumah?”
“Gue dadakan, Fan. Tiba-tiba aja gue kangen sama lo. Karena kangen, jadi gue langsung aja ke rumah lo.”
Degghh, jantung gue berdegup begitu kencang. Kenapa Asti tiba-tiba mengucapkan hal tersebut? Sebelum pacaran dengan Risa, gue memang sempat berpacaran dengan Asti selama 1 tahun.
Dia itu pacar terlama gue dan kita sudah tidak pernah bertemu setelah gue pindah sekolah.
Asti satu sekolah dengan Arini. Dia juga cukup dekat dengan Arini dan selalu menjaganya di sekolah selama gue nggak ada. Sudah hampir 6 bulan tak bertemu, akhirnya kami kembali bertemu dengan dia yang tiba-tiba datang ke rumah gue.
Apa maksudnya dia kembali datang ke rumah setelah sekian lama tak berjumpa?
“Gue putus sama Tian,” katanya membuka suara.
“Putus?” seru gue yang cukup terkejut mendengarnya.
“Ternyata, Tian tidak sebaik yang gue fikirkan. Gue nyesel pernah ninggalin lo cuma demi dia. Gue kena karma, Fan. Tian selingkuh di belakang gue dan dia pacaran sama gue cuma untuk manfaatin gue. Dia matre,” katanya menjelaskan.
Tian. Tian adalah cowo brengsek yang sudah merebut Asti dari gue. Tian juga yang menyebabkan Asti selingkuh dari gue dan lebih memilih cowo brengsek itu dari pada gue.
“Ternyata, gue baru sadar kalau gue masih sayang sama lo, Fan.”
“Sayangnya gue udah nggak ada rasa tuh sama lo.”
“Elo yakin, Fan?”
“Yakin seyakin-yakinnya,” jawab gue cepat.
Kami berdua terdiam. Suasana cukup hening dan itu membuat hubungan gue dengan Asti menjadi sangat kaku.
“Fan, elo mau nggak balikan lagi sama gue?” katanya tiba-tiba.
“Segampang itu lo ngajak balikan setelah apa yang lo lakuin sama gue?” ujar gue dengan nada tinggi
“Fan, bukan gitu maksud gue. Gue cuma . . . .”
“Segampang itu lo ngajak gue balikan setelah lo putus dengan Tian? Harga diri lo di mana, Ti?” potong gue cepat dengan volume suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.
“Kenapa lo ngomong kasar gitu sama gue, Fan? Elo masih benci sama gue?” tanyanya dengan volume suara yang tak kalah tingginya dari gue.
“Asti, mending lo balik, deh. Percuma juga lo datang ke sini, usaha lo akan sia-sia. Lagian, nggak bagus anak gadis malem-malem berkunjung ke rumah laki-laki.”
“Kenapa?” katanya dengan suara yang cukup keras hingga membuat gue langsung membekap mulutnya.
“Jangan teriak-teriak. Malu sama tetangga! Lagian, gue udah punya pacar. Dan, pacar gue itu lebih baik dari pada lo. Jadi, mending lo balik sekarang.”
“Siapa pacar lo sampai lo tega nolak gue, Fan?” katanya dengan nada kesal.
“Risa, cewe baik-baik yang sangat gue sayangi lebih dari apa pun itu.”
Setelah mengucapkan hal tersebut, gue langsung bergegas masuk dan menutup pintu rumah. Masa bodo Asti mau nangis atau teriak-teriak segala. Itu bukan urusan gue juga. Lagi pula, kenapa juga gue dulu pernah suka sama dia? Gue emang ****, jatuh cinta dan pernah patah hati hanya gara-gara cewe yang tidak menghargai gue sebagai kekasihnya.
Risa jauh lebih baik dari pada Asti. Bukan maksudnya untuk membanding-bandingkan. Asti memang jauh lebih cantik dari pada Risa. Dia primadona sekolah gue dulu. Banyak sekali yang menyukai dia, tapi entah kenapa dia mau pacaran dengan cowo bebal dan di bawah standar seperti gue. Tapi, kalau dalam urusan sikap perilakunya, Risa jauh lebih baik.
Asti ini perokok. Gue kenal rokok juga dari dia. Setiap kali di ajak sholat bareng, Asti selalu menolaknya dengan tegas. Bahkan, gue terkadang suka lupa sholat kalau sedang bersamanya. Kalau Risa beda, diajak sholat bareng dia mau. Bahkan, kadang dia yang suka ngingetin gue untuk sholat. Risa juga selalu mengingatkan gue untuk mengerjakan PR dan belajar kalau ada ulangan di kelas.
Banyak hal positif yang gue lakukan dengan Risa. Gue merasa menjadi pribadi yang lebih baik sejak berpacaran dengannya. Gue juga merasa jadi pria berprikemanusiaan bila bersama dengan Risa.
Ahh, membicarakan Risa gue jadi merindukannya. Sedang apa ya dia sekarang?