ABOUT YOU

ABOUT YOU
Yeol



Ella berhasil membuka loker milik Megan setelah semalam Megan meminta untuk mengambilkan beberapa barang. Belum sempat loker persegi panjang tersebut terbuka sepenuhnya, berbagai mawar merah bercampur cairan amis tumpah ke lantai.


Badannya mundur hingga menabrak loker sebrang. Bahunya perlahan terlihat bergetar menandakan gadis itu menangis. Ia masih terdiam dengan kedua tangannya menutup mulut agar tak bersuara.


Keadaan koridor sudah sepi setelah satu jam lalu lonceng berbunyi. Sambil terus menahan tangisnya yang mulai sesenggukan, Megan segera mencari nama seseorang di kontak handphone miliknya lalu menekan dial.


"Ha.."


"Help me" suara tergugu Ella membuat Harry gelagapan.


"Dimana kau?"


"Loker Megan". Setelah mengucapkan itu, handphone yang digenggamnya terjatuh bersamaan dengan luruhnya tubuh Ella ke lantai.


Suara hentakan sepatu terdengar menggema di sepanjang koridor. Mata Harry menangkap seorang gadis yang terduduk memeluk lutut.


"Ella!" panggil Harry dan langsung merengkuh tubuh mungil Ella.


"Hey what happen?" mata Harry menelisik mencoba mencari apa penyebab gadis ini menangis.


Gotcha!


"What the hell!" umpatnya lalu segera menelpon teman-temannya.


"Hey stop" ucap Harry lirih menenangkan Ella agar menghentikan tangisnya.


"What is this?!" suara Leo membuat Harry menoleh. Ketiga temannya itu sudah terlihat kebingungan dengan wajah memerah mereka.


"Apa-apaan ini?!" Arthur ikut berseru.


Sedangkan Jovial melangkah mendekati loker menjijikkan itu.


"Watch you step Jo" peringat Arthur.


Tangan Jovial mengeluarkan seluruh isi loker yang membuatnya sedikit meringis.


"Aku akan mengantar Ella. Wait for me" pamit Harry lalu membopong Ella yang lemas dengan wajah pucatnya.


"Thunder?" tebak Arthur yang mendapat hendikan bahu dari Jovial.


"Aku juga berpikiran sama. Jika dipikir Thunder tidak akan semudah itu menyerah. Kita semua tau watak licik Thunder" sahut Leo.


"Maybe. Tapi kita sebaiknya memberitahu Edward dulu.


"Ya. Apa uncle Mark ikut bersama mereka?"


"Tidak, kemarin dia memberitahuku kalau dia sedang di LA"


"Sebaiknya kita segera bereskan ini sebelum ada yang melihat. Arthur, kau lihat cctv dan hapus rekamannya" jelas Jovial yang mendapat anggukan.


🌚


"Sampai kapan kita disini?" tanya Megan yang sedang menyandarkan kepalanya pada bahu sang kekasih.


"Belum waktunya sweetheart" jawab Edward dengan mata tertutup menikmati angin Pantai Baker.


"Kau selalu berkata begitu. Aku sungguh merindukan Ella" rengek Megan yang sudah terduduk.


"Apa kau tak meleponnya?"


"Ah iya. Mengapa aku tak memikirkan itu"


Baru saja Megan mengeluarkan handphone dari slingbagnya, tangan Edward menahannya.


"Hey kita sedang berlibur kau tau"


"Ya ya. Baiklah" Megan mengalah lalu menatap hamparan laut biru di depannya lalu beralih menatap wajah tampan kekasihnya.


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


Megan sedikit terkejut dengan perkataan Edward yang bisa menebak pikirannya.


"Emm kenapa kau menjadikanku kekasihmu?" tanya Megan dengan hati-hati. Dilihatnya Edward membuka mata elangnya perlahan lalu menoleh ke arah gadis disampingnya.


"There is only one reason. Because I love you" ucap Edward tenang membuat darah diseluruh tubuh Megan berdesir. Ia mencoba mencari kebohongan pada pemuda di depannya ini. Namun nihil, ia hanya menemukan kesungguhan pada mata abu-abu itu.


Tanpa aba-aba, Megan segera menghambur ke pelukan sang kekasih dengan tangis yang sudah pecah. Tanpa ragu, Edward segera membalas pelukan gadisnya dengan sesekali mencium puncak kepalanya.


"Jangan tinggalkan aku" mendengar itu, tangis Megan semakin menjadi. Bagaimana mungkin seorang pemuda yang dulu dengan tiba-tiba mengklaim dirinya untuk menjadi kekasih sekarang sudah menjadi bagian dari hidupnya yang sangat ia cintai.


Pelukan keduanya mengerat bersama dengan tenggelamnya matahari.


🌚


Leo masih duduk tenang dengan permen karet yang sedari tadi di kunyahnya tanpa mengalihkan pandangannya pada sebuah rumah besar dengan pagar menjulang tinggi menutupi isinya.


Ditelinga kanannya terpasang sebuah earpiece yang memudahkannya berkomunikasi dengan ke 3 sahabatnya yang sudah saling terhubung.


"Hey hey hey who is he?"


"Dapatkan nomor mobilnya Leo"


"Okay. Lihat apa yang bisa kudapatkan" ucap Arthur tetap fokus pada layar monitor nya. Hening beberapa saat membiarkan Arthur menyelesaikan tugasnya.


"Apa yang kau dapatkan?" Jovial bersuara.


"Wow wow look at this guys"


Dahi Jovial berkerut melihat layar monitor mobil nya. "Andrew?"


"Bukankah dia pemenang ke tiga musim lalu?" tebak Leo.


"Ya. Dan ku kira kalian akan berpikiran sama denganku" ucap Arthur lalu menyesap cappuccino di gelasnya. "Akan ku sambungkan dengan Edward" lanjutnya.


"Jangan, bagaimana jika ia sedang bersama Megan?"


"C'mon dude. Sekarang sudah malam, dan disana pasti tengah malam"


Tak lama, wajah Edward muncul pada layar monitor.


"Kalian tau disini sekarang jam berapa?" tanya Edward dengan tatapan tajamnya. Nampaknya pemuda itu terbangun dari tidurnya.


"Loker Megan diteror kemarin, dan sekarang kami sedang mencari tau pelakunya" jelas Jovial membuat Edward mengumpat.


"Again? Shit! Apa yang kalian dapatkan?" mata Edward nampak sudah terbuka sepenuhnya sekarang.


"Belum ada, tapi ada beberapa informasi" Arthur bersuara.


"Andrew?" alis Edward bertaut saat membaca data yang baru saja dikirim Arthur.


"Ku kira sekarang waktunya Harry bergerak"


"Harry? Are you sleep?" tanya Leo karena sejak tadi Harry sama sekali tak bersuara.


"Mereka juga meneror Ella" suara Harry terdengar tajam.


"Ella?" tanya Leo memastikan.


"Ya. Handphone nya beberapa kali mendapat pesan ancaman dari nomor hitam"


"Dia memberitahumu?"


"Tidak. Dia sedang di rumahku sekarang"


"Whoaa what are you doing bro" Leo berucap sambil tertawa.


"Shut up Leo. Dia sendirian di rumah. Mana mungkin aku meninggalkannya"


"Good boy" puji Jovial.


"Harry, kau terus jaga Ella. Awasi handphone nya. Usahakan agar pesan hitam itu tidak muncul. Lalu soal Andrew, biar aku yang pegang"


"Aku akan terus berjaga disini" ucap Leo.


"Nice Leo"


"Mungkin lusa aku baru kembali, jadi aku minta kalian tetap berhati-hati" pesan Edward.


🌚


Mata Ella menyipit saat sinar matahari pagi berhasil menembus tirai kamar berbau mint ini. Kepalanya terasa sedikit nyeri saat berusaha mendudukkan dirinya.


"Dimana ini?" gadis itu berusaha mengingat-ingat kejadian yang dialaminya kemarin. Kepalanya mengangguk-angguk saat ia teringat bahwa ia sedang di rumah Harry.


"Kau bangun?" seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu dengan membawa nampan.


"Hmm"


"Makanlah, akan kusiapkan air hangat untukmu"


"Kau.."


"Aku Nessie, ibu Harry" ucap Nessie seakan paham.


"Ahh. Terimakasih nyonya" ucap Ella menundukkan kepalanya.


"Tak perlu memanggilku seperti itu, teman-teman Harry biasa memanggilku aunty Nes"


"Aaa, terimakasih aunty Nes"


"Kau masih lemah, makanlah bubur ini, setelah itu mandi agar tubuhmu segar. Aku akan kebawah dulu"


Setelah Nessie keluar kamar, Ella langsung memakan bubur yang sudah disiapkan. Bohong jika dia berkata bahwa dia tak lapar, perutnya belum diisi sejak kemarin.


Setelah selesai dengan berbagai kegiatannya, sekarang Ella sedang duduk bersila di sofa kamar Harry sambil membaca buku-buku koleksinya.


"Ah membosankan, kenapa semua buku ini berisi tentang seorang hacker" kesal Ella sambil menutup buku ke 9 nya.


"Dimana pemuda itu" kaki Ella tergerak mengelilingi kamar milik pemuda berambut blonde tersebut.


"Apa ini?"