
Besok paginya, gue terlambat bangun. Sial, hari ini harusnya gue jemput Risa ke rumahnya. Tapi, karena kesiangan gue jadi tidak bisa pergi bersama dengannya.
Gue melihat isi ponsel gue penuh dengan notif dari Risa. 15 misscall dan 15 message. ******, Risa pasti bakalan ngamuk besar ini di sekolah.
Sejak pacaran dengan Risa, memang ada bagusnya, sih. Gue jadi jarang terlambat datang ke sekolah. Tapi, sekarang gue kembali kesiangan dan di hukum pak Uus karena keterlambatan gue. Dan, pak Uus lagi-lagi nyeramahin gue, ngomelin gue, marahin gue, pokoknya lengkap sudah penderitaan gue hari ini.
“Tumben lo kesiangan lagi? Biasanya lo datang cepet ke sekolah,” kata Erwin saat kami semua sedang memunguti sampah di lapangan sekolah.
“Gara-gara si Asti ini, gue jadi telat bangun.”
“Asti? Mantan pacar lu yang satu sekolah sama lu sebelumnya?” seru Mbul setengah berteriak.
“Iyee, gak usah teriak-teriak juga kali, Mbul!”
“Wah, emejing banget!” katanya kembali.
“Risa kayanya bakalan marah ini sama gue. Soalnya, tadi dia beberapa kali telepon dan whatssapp gue. Dan, telepon darinya sama sekali nggak gue angkat. Duh, ribet ini pasti urusannya.”
“Kalemlah, Bro. Cuma telat jemput doang masa si Risa ngambek? Dia kan baik kata lo bilang. Asal lo gak selingkuh sama si Asti, Risa pasti gak akan marah,” kata Erwin yang diberikan anggukan Tatang dan juga Mbul.
“Geblek, mana mungkin gue selingkuh. Sebrengsek-brengseknya gue, gue nggak pernah ya selingkuh atau pun nyakitin cewe. Biasanya itu gue yang sering disakitin bukan nyakitin!” sewot gue kesal.
“Ya, sabar kali, Bro. Gak usah nyolot juga. Masalah Asti doang lu jadi emosian gini. Heran gue,” kata Mbul yang membuat gue langsung mengacak-ngacak rambut gue frustasi.
“Habisnya, si Asti itu nekad banget malam-malam ke rumah gue cuma buat cerita kalau dia putus sama Tian. Udah gitu, ngajak gue balikan pula. Sinting nggak tuh namanya?”
“Woww, emejing!” seru Erwin, Mbul dan Tatang bersamaan.
“Tau ah, lieur urang mikiran yang gak penting kaya gitu.”
“Ya, kali. Lo yang mikirin bukan kita,” kata Tatang yang membuat Erwin dan juga Mbul langsung tertawa hingga di tegur pak Uus.
“Jadi, urang kudu kumaha?” tanya gue kembali. (Jadi, aku harus gimana?).
“Katanya tadi gak mau mikirin!” seru Bison yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
“Kefikiran, Son.”
“Bogoh pisan nyak maneh ka si Risa?” tanya Bison.
“Lamun teu bogoh, gak akan kefikiran kali si Arfan juga. Duh, Bison-Bison!” seru Mbul dengan ekspresi wajahnya yang super lucu. Mendadak, gue jadi ingin tertawa hanya melihat ekspresinya itu.
“Sudahlah, biarkanlah gue jadi obat ketawanya lu. Asal lu senang gue siap menghibur,” katanya kembali.
“Geblek! Kondisikan muka lo, udah macam makibau aja lo!” seru gue yang membuat semuanya tertawa.
“Kalau lo putus sama Risa kasih tahu gue, yah?” ujar Erwin tiba-tiba.
“Kenapa emangnya?” tanya gue bingung.
“Mau gue pacarin,” jawabnya terkekeh.
“Risanya juga mana mau sama lu, Win. Elo nggak nyadar diri, sih. Muka kaya sikat wc aja pengen sama si Risa. Mikir dua kali si Risanya juga,” kata Mbul yang langsung tertawa ngakak.
“Sialan lo, Makibau!” katanya kembali mengejek.
“Lagian, Desi mau lo ke manain?” tanya gue.
“Gue simpen di Musieum,” jawabnya asal yang membuat kami kembali tertawa mendengarnya.
Di saat fikiran mumet seperti ini obatnya cuma satu. Ketawa bareng anak-anak agar gue bisa melupakan kejadian kemarin. Melupakan tentang Asti dan juga Teh Sarah.
Saat jam istirahat, gue menghampiri Risa ke kelasnya. Untungnya gue masih sempat bertemu dengannya di depan kelas, jadi gue bisa ngobrol sebentar dengannya.
“Kita ke kantin duluan yah, Ris?” kata Jeni sambil mendelik tajam ke arah gue.
“Iya,” jawa Risa pendek.
“Duluan, Fan,” pamit Dhea yang sedikit lebih bersahabat ketimbang Jeni.
“Iya. Ris, lo marah sama gue?” tanya gue ketika Jeni dan Dhea pergi sambil menatap wajah Risa dengan ekspresi wajah yang terlihat bersalah.
“Menurut lo?” katanya sinis dan kembali jutek.
“Sorry, Ris. Gue telat bangun, makanya gue gak bisa jemput lo. Kalau telat, gue mana bisa angkat telepon lo dan bales whatssapp dari lo.”
“Lagian, lo kenapa bisa telat bangun, sih? Kan, selama ini udah jarang telat juga?” sewotnya galak.
“Ya maaf, gue juga gak tahu kenapa gue telat bangun. Lagian, masa cuma karena telat bangun doang lo ngambek, sih?”
“Bukan masalah telatnya. Tapi, gara-gara lo gue juga tadi telat masuk kelas. Gue gak bisa ikut ayah gue karena nungguin lo. Terus, tadi nunggu angkotnya lama. Alhasil, gue telat masuk kelas dan gak bisa ikutan ulangan matematika. Terus, gue harus ikutan ulangan susulan. Gue nggak nyalahin lo sepenuhnya, tapi gue juga kena imbas di sini.”
Baru kali ini gue melihat Risa marah besar seperti itu sama gue. Tapi, kalau lagi marah seperti ini wajahnya lucu banget. Jadi pengen nyubit pipinya.
“Kenapa ketawa? Nggak ada yang lucu juga!”
“Elo lucu. Gemes jadinya.”
“Gue kan emang ngegemesin,” katanya narsis.
“Iya gemesin. Kan, Risa pacarnya Arfan.”
Gue langsung menyubit kedua pipinya dengan gemas dan membuat Risa langsung menepis tangan gue karena kesakitan.
“Sakit tahu!” teriaknya sambil menepis tangan gue dari pipinya.
“Makanya, jangan marah lagi sama gue. Masa kemarin mesra-mesraan sekarang berantem, sih?”
“Kan, elo sendiri yang udah buat gue kesel.”
“Kan, gue juga udah minta maaf sama elo, Ris.”
“Iya gue tahu,” katanya sambil menundukkan kepala.
“Udah, jangan cemberut terus. Muka lo jelek banget.”
“Terus, kalau jelek emangnya kenapa? Nggak suka?” tanyanya galak.
Gue menghela nafas pendek. Gue pegang kedua bahunya Risa dan gue tatap matanya lembut dengan penuh cinta.
“Mau lo jelek, gendut, cantik atau apa pun itu, gue tetep suka sama lo, Ris. Elo bakalan tetep jadi kesayangannya gue. Gue akan selalu menerima lo apa adanya.”
Risa terdiam. Yang awalnya wajahnya terlihat ketus, lambat laun melunak juga. Malahan, sekarang kedua pipinya terlihat merona. Sepertinya, dia malu.
“Udah ah, gue laper. Mau makan!” serunya yang kemudian pergi.
“Ikut, Ris!”
Gue langsung merangkul Risa dan kami berdua pun memutuskan untuk makan siang bersama. Sesampainya di kantin, Risa memilih makan bersama dengan teman-teman gue. Karena Jeni dan Dhea juga berada di meja yang sama dengan Tatang cs.
“Sini, Ris, Fan!!” teriak Dhea memanggil kami.
“Mau pesen apa?” tanya gue.
“Samain aja kaya lo, Fan,” kata Risa menjawab.
“Ya udah, gue pesen makan dulu, yah?” kata gue yang langsung diberi anggukan Risa.
10 menit kemudian, setelah memesan makanan gue kembali dengan membawa dua piring nasi goreng. Saat kembali, gue melihat ekspresi wajah Risa terlihat berbeda dari sebelumnya. Wajahnya berkerut dan matanya terlihat sangat menusuk begitu melihat gue.
‘”Kenapa, Ris?” tanya gue bingung.
Risa masih diam, gue bertanya kepada Jeni dan Dhea, mereka juga terdiam membisu. Begitu gue tanya Tatang, Bison, Erwin dan Mbul, mereka diam saja dan terlihat panik juga cemas. Ada apa ini sebenarnya? Firasat gue mengatakan, kayanya ini ada yang nggak beres, deh.
“Bakalan kena ceramahnya mamah Dedeh lu,” bisik si Mbul di telinga gue.
“Berisik lo! Ris, elo kenapa? Ko, diem?”
“Asti siapa, Fan?” tanya Risa tiba-tiba sambil memberikan handphone gue yang berada di tangannya ke arah tangan gue.
Degghh, ****** ini! Risa pasti bakalan marah besar sama gue dan pasti dia bakalan salah faham. Saat gue check handphone gue, ternyata tadi Asti telepon. Apa jangan-jangan Risa lagi yang angkat. Duh, sial banget gue hari ini!
“Hah? Asti? Kenapa lo bisa tahu tentang nama itu?” tanya gue gugup.
“Udah jawab aja, Fan,” kata Dhea yang tiba-tiba membuka suara.
“Iya, jawab aja Asti itu siapa?” tutur Jeni dengan tatapan penyihirnya yang ikut memojokkan gue di depan Risa.
“Risa?” panggil gue pelan.
“Kalian mempunyai hubungan yang special?” tanya Risa kembali.
“Bakalan ada perang dunia ke tiga, nih!” seru Erwin setengah berbisik.
“Mampus lu, bekicot!” bisik Mbul yang membuat gue langsung menyikut dadanya kasar dan membuat anak-anak yang lain menertawakan gue.