ABOUT YOU

ABOUT YOU
SARAH



Lagi-lagi ponsel gue berdering dengan volume suara yang cukup keras. Saat melihat layar handphone, gue semakin malas mengangkat telepon darinya. Ini dia permasalahan hidup gue yang tak ada hentinya. Telepon itu benar-benar sudah mengganggu malam gue.


Setelah hampir 2 minggu tidak pernah menelepon, sekarang dia kembali menghubungi gue lagi.


“Ada apa?” jawab gue ketus, “di mana? Oke, tunggu 15 menit.”


Setelah mengakhiri pembicaraan kami, gue langsung mengambil jaket dan kunci motor gue. Tadinya, gue males banget keluar malam-malam begini. Tapi, karena dalam keadaan darurat gue harus pergi ke luar malam ini juga.


Gue memberhentikan motor gue di daerah Balai kota. Saat membuka helm, gue sudah melihat seorang wanita berusia 30an dengan memakai high heels, pakaian seksi dan make up tebal tak lupa dengan lipstik merahnya, melirik ke arah gue dengan tatapan sendunya.


“Kenapa? Saya nggak punya banyak waktu. Ini udah malam, nanti ibu saya khawatir kalau tahu jam segini anaknya nggak ada di rumah.”


“Ini,” katanya sambil menyodorkan sebuah amplop coklat yang sepertinya berisi uang.


“Apa ini?”


“Uang untuk kamu, Arfan.”


“Uang untuk apa? Saya nggak butuh uang tante. Ibu saya masih mampu memberikan saya uang,” jawab gue ketus.


“Ini uang jajan buat kamu, Fan. Ambilah, aku ikhlas memberikan uang ini untuk kamu,” katanya sedikit memaksa.


“Saya nggak butuh uang tante. Kalau nggak ada yang mau di bicarakan lagi, saya mau pulang.”


Gue langsung bergegas pergi dan memakai helm dengan terburu-buru. Namun, wanita itu berlari ke arah gue dan menarik tangan gue hingga membuat gue terkejut dengan perlakuannya barusan.


“Ada apa lagi?” tanya gue sinis.


“Apa kamu tidak bisa memanggilku dengan sebutan kakak? Bagaimana pun, aku ini tetap kakak kandungmu, Fan. Bukan tantemu!”


Gue memalingkan wajah. Memang benar dia itu adalah kakak kandung gue, kakak pertama gue, kakak yang sudah lama hilang dan pernah gue rindukan.


Sarah, kakak yang selama ini digosipkan orang-orang adalah wanita simpanan dan kekasih gue yang katanya tante-tante berlipstik merah.


“Saya tidak pernah punya kakak perempuan yang berpenampilan buruk sepertimu,” tutur gue yang mungkin terdengar kasar.


“Fan, bukan mau aku berpenampilan seperti ini. Aku . . .”


“Tante berpenampilan seperti wanita simpanan, ber make up tebal dan berpakaian seksi. Apa tante tidak pernah berfikir kalau kedua orang tua tante itu seorang pendidik? Apa tante tidak pernah diajari menjadi manusia yang berperilaku baik oleh kedua orang tua tante?” teriakku yang mulai emosi dengan dada yang mulai naik turun.


Wanita yang pernah gue anggap sebagai kakak gue itu menitikkan air matanya. Ia terlihat menangis dan membuat gue paling benci kalau sudah melihat seorang perempuan menangis seperti itu.


“Hapus air mata palsumu itu,” tutur gue kembali berkata kasar.


“Kamu tidak tahu penderitaan apa yang aku alami seperti ini, Fan. Aku seperti ini juga ada alasannya.”


“Bagaimana saya bisa tahu kalau tante nggak pernah cerita apa pun kepada saya dan juga keluarga!!”


“Aku tahu aku salah, aku memang anak durhaka, Fan. Tapi, aku . . . aku . . .”


“Sudahlah, saya mau pulang. Sudah malam, lebih baik tante juga pulang,” ujar gue yang kemudian pergi.


“Aku sakit, Fan!” teriaknya yang membuat langkah gue terhenti. “Aku sakit Leukeumia dan aku tidak pernah menikah dengan Edo. Kami tidak jadi menikah karena Edo ternyata selingkuh. Hidupku hancur, Fan. Diselingkuhi pacar, tidak jadi menikah, di vonis Leukeumia dan yang terakhir di usir bapa dan juga ibu. Hidupku sudah hancur,” tangisnya yang membuat gue juga ikut meneteskan air mata begitu mendengar cerita darinya.


“Hidupku sudah tidak ada artinya, aku hanyalah seorang anak durhaka yang berani melawan perintah orang tuanya. Sebenarnya, aku datang di pemakaman bapa. Tapi, aku tak berani menampakkan wajahku di depan ibu dan juga adik-adikku. Aku terlalu malu dan aku merasa hina. Meski pun terlambat, aku ingin memperbaiki semuanya sekarang. Aku merindukan ibu, bapa dan kalian semua.


“Aku berpenampilan seperti ini karena ingin melupakan kesedihanku. Aku tahu caraku salah, tapi ya beginilah diriku sekarang, Fan. Aku sudah gagal menjadi seorang wanita, gagal menjadi anak bapa dan juga ibu, juga aku gagal menjadi kakak yang baik untuk adik-adiknya.


"Aku merasa bersalah, aku mau minta maaf dan menebus semua kesalahanku. Aku butuh kamu Arfan, aku butuh bantuanmu, Dek,” katanya lirih.


Gue kembali meneteskan air mata. Gue tak menyangka sama kali, hidup kakak gue selama ini seperti itu. Sekarang gue bingung, bingung harus bagaimana menghadapinya dalam situasi seperti ini?


“Maaf kalau aku sudah mengganggumu, Dek. Aku harap, kamu mau menerima uang saku dariku. Itu halal, aku bekerja di salah satu supermarket sebagai kasir. Sampaikan salam rinduku untuk ibu, Ayu dan juga Arini,” katanya pelan, kemudian pergi.


Gue sempat menoleh ke belakang dan melihat kepergian kak Sarah yang selama ini selalu gue panggil dengan sebutan tante. Punggungnya seperti sedang memikul beban yang begitu berat. Hampa dan juga kosong.


“Gue juga sangat merindukan lo, Teh.”


Hari ini sungguh campur aduk. Fikiran gue melayang ke mana-mana. Kenapa kejadian hari ini harus datang secara bersamaan? Karena menjadi frustasi sendiri, gue pun mengendarai motor gue dengan kecepatan yang sangat tinggi.


“Arggghhh!!” teriak gue emosi.