ABOUT YOU

ABOUT YOU
Ne



Alarm digital berdering nyaring membangunkan seorang gadis yang masih nyaman dengan selimut hitamnya. Tanganya terulur mematikan alarm yang menganggu alam bawah sadarnya.


“Kakak!” teriakan Chelin membuat Megan terperanjat kaget.


“Chelin, tolonglah. Aku masih sangat mengantuk.”


“Kau sudah berjanji mengajakku jogging pagi ini.”


Baiklah. Aku akan bersiap.” ucap Megan sambil mengacak pelan rambut adik kecilnya.


Megan sudah siap dengan training hitam serta hoody berwarna grey favoritnya. Tak lupa dengan snikers putih yang ia tali dengan benar.


“C’mon baby girl. Are you ready?.”


“Yashh.”


“Baiklah, ini sepedamu. Kayuh pelan-pelan saja. Dan jangan lupa hati-hati.” pesan Megan saat memakaikan helm kepada Chelin.


“Ay yay captain.”


Mata biru Megan tak lepas dari Chelin yang sudah mendahuluinya dengan sepeda roda tiga miliknya. Tanpa sadar, matahari sudah mulai muncul bersamaan dengan meluncurnya keringat di pelipis Megan.


“Chelin.” panggil Megan membuat gadis kecil itu menghentikan laju sepedanya, “Kau diam disini dulu, aku akan membeli minum.” ucap Megan yang mendapat anggukan Chelin.


2 botol air mineral sudah berada di genggaman Megan, senyumnya mengembang memberi sapaan pada beberapa lansia yang dilewatinya. Namun seketika senyumnya luntur saat netra nya tak menemukan Chelin. Megan berlari dengan sesekali bertanya kepada beberapa orang.


Sungguh, dunianya serasa runtuh saat sudah hampir satu jam ia belum juga menemukan gadis berusia 8 tahun itu. Air mata nya tiba-tiba menetes bersama dengan keringat dinginnya.


“Oh shit. Aku tak membawa handphone ku.”


Mata Megan kembali menelisik ke seluruh penjuru High Park dan terhenti pada salah satu objek “Chelin!.” teriak Megan membuat beberapa orang disekitarnya memandang aneh.


“Oh God. Kau dari mana saja? Aku hampir saja mati jika tak menemukanmu. Apa kau terluka? Ada yang menyakitimu? Beritahu aku Chel.” tanya Megan dengan air mata yang bertambah deras.


“Aku baik-baik saja. Edward mejagaku dengan baik.” ucap Chelin dengan logat cadel nya sambil melihat kearah pemuda yang ternyata sedari tadi berdiri disana.


“Edward? Apa yang kau lakukan.” Ucap Megan agak terkejut lalu segera menghapus air matanya.


“Dia sendirian.” ucap Edward sambil tangannya mengulurkan sebotol air mineral.


“Ah terimakasih. Maaf jika telah membuatmu kerepotan.” ucap Megan tulus tak berani menatap mata elang Edward.


“Duduklah. Chelin nampaknya masih ingin bermain.” Edward berucap dengan mata yang menatap Chelin.


Keheningan tercipta ditengah keramaian High Park. Sungguh baru kali ini Megan merasa canggung saat bersama seorang pemuda. Tapi kali ini Megan berpikir, bagaimana tidak canggugng jika yang sedang duduk bersamanya sekarang adalah seorang pemuda yang sangat populer di NSS sekaligus anggota salah satu keluarga terkaya di Tontoro.


“Em, apa kau sering kesini?.” tanya Megan hati-hati.


“Hanya saat akhir pekan.” jawab Edward lalu meneguk habis minumannya.


“Apa kau sudah selesai?.” tanya Megan saat Chelin bersama sepedanya datang menghampirinya.


“Ya. Aku sudah lelah.”


“Baiklah. Mari kita pulang.” pandangan Megan beralih pada Edward yang masih duduk, “Em Ed. Kami pulang dulu. Terimakasih.”


“Hm.”


 


🌚


 


“Aku akan memukul kepalanya karena menyembukan hal besar ini” gerutu Ella saat ia hampir sampai tujuannya.


Seorang wanita paruh baya terlihat sedang menyirami beberapa tanaman di halaman rumah ber cat putih.


“Aunty.” panggil Ella membuat wanita itu menoleh lalu tersenyum.


“Kau disini Ell. Megan ada di dalam. Masuklah.”


“Baiklah. Aku masuk dulu.” pamit Ella lalu masuk ke dalam rumah keluarga Andreas.


“Jiutji mothal juoghi dwetda”. Mendengar itu membuat Ella semakin tak sabar mendaratkan pukulannya pada kepala si pemilik suara.


Brakk!!


“Yaa!! Neon michusu?” umpat Megan saat terkejut akan gebrakan pintu kamarnya.


“Awsh . Ya! Apa yang kau laukan Ell” pekik Megan saat tiba-tiba Ella memukulnya dengan bantal.


“Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan bersama Edward di High Park?”


“Dari mana kau tau?”. Bola mata Megan hampir saja keluar saat Ella menunjukkan gambar dirinya bersama Edward tadi pagi.


“Kenapa kau tak bercerita padaku jika kau dekat dengannya? Aku akan sangat senang kau tau! Tapi kau malah menyembukan hal besar ini!” gerutu Ella.


“Apa yang kau katakan? Aku tak dekat dengannya, bahkan kejadian itu tak kusengaja” elak Megan.


“Ayolah Chall, mengapa kau tak berkata yang sebenarnya?”


“Aku mengatakan yang sebenarya Ella” ucap Megan dengan menekan di setiap katanya, “Aku bersamanya karena aku kehilangan Chelin, dan ternyata Chelin bersamanya”


“Benarkah?” ucap Ella tak percaya.


“Iya!”


“Tapi jika ku lihat-lihat kau serasi dengannya” goda Ella sambil menaik turunkan alisnya.


“Oh, jangan mulai Ell”


Disisi lain Edward terlihat tenang dan hanyut dalam pemainan online yang ia mainkan. Suara gaduh yang sangat mengganggu konsentrasinya membuat pemuda bertubuh tinggi itu mendengus sebal.


“Hey yo whatsup bro” suara Leo diikuti dengan masuknya manusia-manusia pengganggu ke dalam kamar luas Edward.


“Sepertinya our ice prince tengah jatuh cinta” goda Harry bersama dengan tawa lainnya.


“Tak kusangka kau sangat cepat dalam bertindak”


“Ya. Bahkan sekarang beritanya sudah menjadi bahan gosip warga Tontoro”. Alis Edward bertaut lalu memutar kursinya menghadap teman-temannya.


“Apa kau belum membuka berita pagi ini? Lihatlah” tanya Jovial sambil memberikan handphone berniat menunjukkan isinya.


“Aku tak menyangka akan menyebar secepat ini” Edward berkata dengan santai.


“Apa kau menyukainya?” tanya Jovial lagi.


“Entahlah”


“Dia gadis yang baik menurutku” Harry berpendapat.


“Akupun berfikir begitu. Sejak Jo berkata bahwa dia satu-satu nya gadis yang tidak tertarik pada kita, aku langsung mencari tahu tentang dirinya” Arthur menyahut.


“Dia anak dari Andreas Vanderson salah satu pengusaha kaya di Tontoro. Dia mempunyai seorang adik perempuan. Dia gadis penyuka K-Pop” jelas Arthur.


“K-Pop?” tanya Harry tak paham.


“Penyuka musik Korea Selatan” tambah Arthur.


“Aku yakin setelah ini hidupnya tak tenang” yakin Jovial.


“Ya. Apalagi jika Thunder mengetahui ini” Leo membenarkan perkataan Jovial.


“Arthur. Terus pantau Thunder” kata Edward yang mendapat anggukan dari alhflj.


“Aku rasa kau benar-benar menyukainya Ed”


🌚


“*Bukankah dia penyuka pria Korea?”


“Cukup cantik”


“Bagaimana Edward bisa menyukai gadis sepertinya?”


“Mungkin ia hanya menginginkan harta Edward”


“Dia gadis yang kemarin mengikuti kontes sains bukan*?”


 


Megan berjalan sedikit terburu-buru, ia sungguh ingin cepat sampai ke kelasnya. Namun sial, hari ini kelasnya berada di gedung belakang yang berarti ia harus mendengar lebih banyak tentang dirinya nanti. Ia merutuki dirinya sendiri karena tak menerima tawaran Ella untuk mengantarnya sampai ke kelas.


Megan mendudukkan dirinya disalah satu kursi kelas sejarah. Kenapa kelas sejarah nampak ramai kali ini? Oh God ingin rasanya Megan berteriak. Kursi di sebelah kanannya berderit bertanda ada yang mendudukinya.


 


“What the hell” Megan hampir saja berjingkat saat mengetahui Edward sudah duduk tenang di sampingnya. Pantas saja kelas tiba-tiba penuh.


“Morning Everyone” sapa Mr. Clack membuat Megan sedikit mengangkat kepalanya.


“Morning Sir”


“Daftar absenku hanya menunjukkan 34 orang, tapi jika kuhitung disini ada lebih dari 50?” tanya Mr. Clack sambil menatap seluruh siswa. “Baiklah. Ada yang bisa menjelaskan tugas yang kemarin aku bagikan?” Tak ada siswa yang bersuara membuat Mr. Clack berdiri dari duduknya.


“Megan?”


“Ah. Tugas kemarin adalah meneliti tentang tempat-tempat bersejarah. Aku sudah datang ke beberapa tempat dan mengumpulkan data untuk di cocokkan dengan informasi yang ada” jelas Megan membuat Edward mengulum senyum tipisnya.


“Aku tau kau tak akan membuatku kecewa Nona Andreas”


 


Sudah hampir dua jam Mr. Clack berdiri di depan dengan spidol hitam di tangan kirinya. Sudah hampir dua jam pula Megan menahan degup jantung yang membuat dirinya terpaks beberapa kali mengumpat.


 


“Mengapa kelas kali ini terasa sangat lama” batin Megan.


“Okay class. I think enough for today” ucap Mr. Clack membuat Megan bernafas lega lalu segera membereskan bukunya dan keluar kelas.


 


Tadi Megan sempat membaca pesan yang dikirim Ella untuk menemuinyadi halaman belakang, dan Megan pun bergegas pergi. Keadaan disini sangat sepi, dan nampaknya Ella belum datang. Megan menuju sebuah bangku di bawah pohon maple.


 


“So. Ini gadis yang dikabarkan dekat dengan Edward? Lumayan cantik”. Megan memutar bola matanya saat suara Emily memasuki gendang telinganya.


“Bahkan kau sudah berani mengencaninya!” bentak gadis dengan lipstik merah itu sambil menarik rambut Megan membuat empunya kesakitan.


“Lepaskan Em. Apa yang kau lakukan?” ucap Megan dengan suara yang mulai bergetar.


“Apa kau kesakitan Megan? Sayangnya aku tak mau melepasnya” Emily menarik lebih keras rambut Megan.


“Lepaskan tangan sialanmu!” suara bariton mengejutkan Emily yang langsung melepaskan cengkramannya. “Sekali lagi aku melihat kau mengganggunya,lihat apa yang aku lakukan!” ancam Edward lalu merangkul bahu Megan dan mengajaknya pergi.


 


Edward merasakan seragamnya basah. Pasti gadis di pelukannya ini tengah menangis. Tangan Edward terulur mengelus rambut Megan. Perasaan untuk melindungi gadis ini semakin menguat dalam dirinya. Sungguh, Edward berjanji akan selalu ada di sisi Megan.


 


Megan menarik kepalanya dari dada bidang Edward lalu menghapus air matanya. “Maaf membuat seragammu basah. Aku akan mencucinya” ucap Megan dengan suara paraunya sambil menerima tisu yang diberikan Edward. Hawa di dalam BMW i8 silver ini terasa panas.


“Aku akan mengantarmu pulang” ucap Edward menginjak gas lalu perlahan meninggalkan parkiran NSS.


“Kepalamu masih sakit?” tanya Edward tanpa mengalihkan fokusnya pada jalanan yang cukup lenggang siang ini. Tak mendengar jawaban dari gadis di sebelahnya, Edward pun menoleh dan mendapati Megan sudah tertidur.


 


Mobil Edward berhenti tepan di depan gerbang rumah Megan. Setelah keluar dari mobil, Edward menuju pintu seberang dan membukanya. Membopong Megan dengn sangat hati-hati agar gadis itu tak terbangun.


 


“Edward?”


“Kau masih mengingatku gadis kecil?”


“Tentu. Apa yang terjadi pada kakakku?”


“Astaga Megan. Apa yang terjadi padanya? Tolong bawa dia ke kamarnya” pinta Margareth menunjukan jalan.


Edward membaringkan tubuh Megan dengan hati-hati di tempat tidur.


“Apa yang terjadi pada Megan?” tanya Margareth khawatir.


“Dia terjatuh saat di koridor” Edward berbohong agar wanita di depannya ini tak terlalu khawatir.


“Megan yang malang. Ah ya siapa namamu?”


“Cukup panggil aku Edward” ucap Edward ramah.


“Baiklah Edward, terimakasih telah mengantar Megan”


“Bukan masalah besar. Kalu begitu aku pergi”


 


Mata elang Edward menatap curiga sedan hitam di depannya, lalu tak lama setelahnya mobil itu melaju meninggalkan Edward dengan berbagai pertanyaan di benaknya.


 


“Carikan sesuatu untukku” ucap Edward tajam lalu melajukan mobilnya.