
Setelah kepergian Dinar, Nenek dan Dinda masuk kedalam rumah.
"Nenekkkk, nenek darimana saja? Nenek hampir membuatku gila karena khawatir." kata Rakha dengan wajah khawatirnya.
"Tadi siang, nenek ingin menemui kamu di kantor. Tapi dijalan tiba tiba nenek pingsan, untung saja ada anak gadis baik hati yang menolong nenek." kata nenek
"Nenek, lain kali jika nenek ingin keluar rumah, nenek harus mengabariku supaya aku bisa menyuruh anak buahku mengantar nenek." kata Rakha
"Iya, nenek mengerti." kata nenek
"Oh iya kak, besok aku ingin jalan jalan. boleh kan?" kata Dinda dengan wajah memohon
"Baiklah, aku akan menyuruh Keynan menemanimu." kata Rakha
"Ish kakak ini. aku tuh mau pergi sama kakak cantik yang tadi bantuin nenek." kata Dinda cemberut
"Jangan sembarangan pergi dengan orang yang belum dikenal Dinda." kata Rakha pada Dinda dengan suara tenang yang dingin
"Terserah kakak lah, yang pasti besok aku akan tetap pergi karena nenek sudah mengizinkan, blekkk."
kata Dinda menjulurkan lidahnya sambil bergegas ke kamar.
Setelah Dinda pergi, Rakha mengambil hpnya dan menelfon seseorang
"Hallo, besok pagi kau datang kesini. Temani Dinda jalan jalan." kata Rakha pada orang yang dia hubungi
"Siap bos." kata Keynan
Dan langsung dimatikan oleh Rakha
"Dasar si muka datar." kata Keynan kepada bosnya itu
*****
Rakha naik ke lantai atas untuk melanjutkan pekerjaannya. Pekerjaannya sangat banyak sehingga ia harus mengerjakannya dirumah. Di sela sela kesibukannya, tiba tiba Rakha teringat Dinar yang menabraknya tadi pagi. Wajah Dinar seakan menari nari dalam fikirannya.
"Arghhh, wanita itu. kenapa dia terus menari nari dalam fikiranku. apa iya aku jatuh cinta? hahaha, bisa bisa jatuh harga diriku sebagai pemimpin mafia terkenal jika lemah seperti ini karena wanita. tapi dia benar benar cantik." kata Rakha frustasi.
Pagi Hari
Rakha turun menuju meja makan dengan setelan jasnya. semua makan dengan khidmat tanpa suara, hanya ada suara dentingan sendok.
"Haii semuanya." teriak Keynan menuju meja makan. Dia memang anak yang ceria, Keynan sudah tinggal dirumah Rakha sejak kecil karena orang tuanya meninggal, jadi orang tua Rakha yang merawatnya sejak kecil.
"Hai kak Keynan, ayo ikut makan." ajak Dinda
"Ayo nak duduk." kata nenek
Setelah makan, Rakha berangkat ke kantor bersama Johan. sementara Keynan dan Dinda menunggu Dinar dirumah
Rumah Dimas
Dinar sudah bangun pagi pagi dan bersiap untuk pergi ke rumah Dinda, Dinar pergi ke dapur untuk sarapan dan berpapasan dengan Dimas yang juga sedang sarapan. Dinar memakan sarapannya tanpa suara, bahkan dia tidak menyapa Dimas.
Dimas membuka suara untuk menghilangkan keheningan diantara mereka
"Dinar, kamu mau pergi kemana?" tanya Dimas
"Saya mau pergi ke rumah teman saya." jawab Dinar tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan.
kesunyian kembali tercipta, dan lagi lagi Dimas yang memulai obrolan
"Saya mau mengatakan sesuatu kepada kamu." kata Dimas
"Katakanlah." jawab Dinar acuh
"emm, bagaimana jika kita berpisah saja?" tanya Dimas ragu.
Dinar terdiam dan mengangkat kepalanya menatap Dimas
"Terserah." jawabnya
"Saya pergi dulu." kata Dinar meninggalkan Dimas
Dinar pergi dengan mobilnya menuju rumah Dinda
Rumah Dinda
Dinar memarkir mobilnya didepan gerbang rumah Dinda karena tidak mungkin dia masuk bersama mobilnya karena penjagaannya sangat ketat dan dia tidak memiliki akses keluar masuk disana.
"Permisi pak." sapa Dinda pada orang orang yang memakai baju serba hitam yang berdiri di depan gerbang.
"Ya nona, ada yang bisa saya bantu." sapa orang itu dengan ramah walaupun dia memiliki wajah yang sangar
"Saya mau bertemu dengan Dinda." kata Dinar lagi
"Oh jadi ini nona Dinar." kata orang itu
"iya pak." jawab Dinar.
"mari nona saya antar kata." kata orang itu sambil mempersilahkan Dinar masuk
"Iya pak." kata Dinar tersenyum sambil mengikuti langkah orang tersebut