A Journey Of Love

A Journey Of Love
Bab 42



"Dinaaaaaaarrr" teriak Widya sembari berlari menuju pelukan Dinar.


"Kenapa kau tidak mengabariku sama sekali, aku sangat merindukanmu." sambung Widya sembari menangis sesegukan dalam pelukan Dinar.


"Yang penting sekarang aku pulang." jawab Dinar menggoda Widya seakan-akan dia tidak merindukan Widya


"Kenapa kamu berbicara seperti itu ha? kamu tidak merindukan aku?" tanya Widya sembari melepaskan pelukannya dari Dinar.


"Siapa sayang?" tanya bibi Citra menyusul Widya ke luar rumah karena Widya lama.


Bibi Citra sangat terkejut karena melihat Dinar yang sedang berada di hadapannya.


Dia langsung mendekap Dinar dengan erat, pasalnya dia sudah sangat merindukan ponakan kesayangannya ini.


"Kenapa kamu tidak mengabari bibi ha? bibi sangat merindukanmu." kata bibi Citra sembari menangis


"Maaf bi, Dinar tidak mengabari bibi karena Dinar ingin membuat surprise untuk kalian semua." kata Dinar sembari tersenyum kecil


"Ayo kita masuk, bibi akan memasak makanan kesukaanmu." kata bibi Citra menarik tangan Dinar masuk kedalam rumah sampai-sampai dia melupakan anaknya yang ada di dekatnya.


"Apakah kalian melupakan aku?" kata Widya dengan wajah cemberut


"Bibi, apakah bibi mendengarnya. seperti ada orang berbicara." kata Dinar mengejek Widya sambil tertawa


"Bibi tidak tau, tiba-tiba bibi merinding. ayo cepat kita masuk." kata bibi Citra juga tertawa dan masuk bersama Dinar kedalam rumah meninggalkan Widya.


"Hey." teriak Widya karena ditinggal.


"Tuhan, aku bahagia sekali karena kami bisa berkumpul seperti ini kembali." kata Widya dalam hati sambil tersenyum dan kemudian menyusul ibunya dan Dinar ke dalam rumah.


"Lihatlah siapa yang datang." kata bibi Citra dengan lantang di ruang keluarga yabg otomatis membuat paman Lee dan Gio melihat ke arah mereka.


"Kakakkk." teriak Gio dan langsung berhambur memeluk Dinar dengan erat.


"Woah, kau sudah besar." kata Dinar sambil mendekap adiknya dengan erat, karena dia juga sangat merindukan adiknya.


"Kenapa kau tidak pernah pulang, apa kau sudah tidak menyayangiku lagi." kata Gio sambil terisak dalam pelukan Dinar.


"Paman, lihatlah. Adik laki-lakiku menangis? apakah aku tidak salah lihat paman? dia cengeng sekali." kata Dinar yang membuat Gio kesal, dan hal itu membuat paman, bibi, serta Widya tertawa.


"Kemarilah." kata paman Lee pada Dinar sambil merentangkan tangannya untuk memeluk Dinar.


"Bagaimana kabarmu?" tanya paman Lee sambil memeluk Dinar.


"Aku baik paman." kata Dinar setelah melepaskan pelukannya dengan pamannya.


"Suamimu?" tanya paman Lee lagi sambil berbisik, pasalanya di rumah ini yang tahu jika Dinar sudah menikah hanyalah paman Lee.


"Dia juga baik, dia memaksa ingin ikut tapi aku melarangnya." kata Dinar balik berbisik.


Bibi Citra, Widya, serta Gio saling pandang melihat Paman Lee dan Dinar yg berbicara berbisik-bisik seperti itu.


"Apakah sebegitu pentingnya, sampai kami tidak boleh tahu?" kata bibi Citra


"Ah tidak, kami hanya membicarakan pekerjaan saja. dan memang ini tidak begitu penting." kata Paman Lee berbohong.


"Baiklah, sebentar lagi waktunya makan siang. Bibi akan memasak makanan kesukaan Dinar dulu, dan Dinar pergilah ke kamar untuk istirahat." kata bibi Citra


"Tidak usah bi, Dinar akan membantu bibi memasak." kata Dinar


"Tidak, biar bibi saja." tolak bibi Citra


"Baiklah, Dinar akan pergi ke halaman belakang bersama Widya." kata Dinar


"Boleh kan bi?" tanya Dinar


"Ya, kalian boleh melepas rindu." kata bibi Citra


"Ayo Din." ajak Widya pada Dinar dan diangguki oleh Dinar


"Apakah aku boleh ikut?" tanya Gio


"Ayo." ajak Widya pada Gio