
"Kau tak perlu menjelaskan apapun pada paman dan bibi. biar aku yang menjelaskan pada mereka." kata Dinar pada Widya di mobil saat pulang dan Widya hanya mengangguk
"Menangislah." kata Dinar dan seketika itu Widya menangis.
.
"Kakak. Kau lihat kan, kak Dinar sungguh wanita tangguh. aku ingin dia menjadi kakakku." kata Dinda dengan wajah penuh harap dan Rakha tidak menjawab perkataan adiknya karena fokus menyetir.
Rumah Widya
Dinar dan Widya baru saja sampai di rumah Widya.
"Hai sayang." sapa bibi Citra saat melihat mereka turun dari mobil
"Hai bibi." sapa Dinar sementara Widya hanya diam
"Sayang, kamu kenapa?" tanya bibi Citra pada Widya dan Widya tidak menjawab dia langsung memeluk ibunya.
"Kita masuk bi, biar aku yang menjelaskan. paman ada kan?" tanya Dinar dan diangguki bibi citra. mereka masuk ke dalam rumah dan langsung duduk di ruang keluarga untuk membahas masalah Widya.
"Ada apa sebenarnya?" tanya paman Lee
Dinar menghela nafas panjang. "Aku membatalkan pertunangan Widya dan Deni." kata Dinar dan ucapannya mampu membuat paman dan bibinya terkejut dan saling pandang.
"Kenapa? apa ada masalah?" tanya pamannya yg masih terkejut
"Dia selingkuh paman, sebenarnya sudah dari dulu dia selingkuh dari Widya tapi Widya selalu memaafkannya karena dia bilang dia akan berubah, dia playboy maka dari itu aku tidak pernah suka Widya berpacaran dengannya. aku masih bisa memahami karena mereka masih pacaran dan tidak ada ikatan resmi, tapi kini mereka akan bertunangan dan aku sudah benar benar geram paman, aku tidak bisa melihat saudariku dihianati terus menerus jika hidup dengannya." kata Widya menghela napas sebelum melanjutkan omongannya. "aku menyuruhnya besok datang kesini bersama orang tuanya untuk membatalkan pertunangan itu. aku permisi pulang paman, bibi." kata Dinar langsung beranjak keluar rumah tanpa melihat paman dan bibinya. Dia benar benar kecewa, entah kecewa dengan siapa, yang pasti dia sekarang sangat kecewa.
Rumah Dimas
Dinar barusaja sampai di rumah Dimas dan dia bergegas masuk kedalam rumah, saat masuk kedalam rumah dia melihat Rika dengan santainya duduk di ruang tamu.
"Hai saudariku, apa kabar?" tanya Rika dengan suara lembut di buat buat, Dinar tidak menjawab dn berniat pergi ke kamarnya tapi perkataan Rika mampu membuat langkahnya terhenti.
"Hey, apakah kau tidak bisa sopan sedikit pada calon nyonya Anggara?" tanya Rika dengan wajah sombongnya
Dinar berbalik menatap Rika dingin dan tajam lalu berkata "Tidak." kata Dinar acuh dan meninggalkan Rika yang sumpah mati sangat kesal.
"Lihat saja, sebentar lagi aku akan menendangmu dari rumah ini." kata Rika berapi api.
Dimas barusaja turun dari kamarnya dan Rika langsung menghampiri Dimas dan bergelaut manja di lengan Dimas.
"Sayang, Dinar membuatku kesal. kapan kau akan menceraikannya?" tanya Rika manja
"Secepatnya sayang, bersabarlah." kata Dimas dan diangguki oleh Rika. setelah itu mereka pergi dari rumah Dimas.
.
Sesampainya dikamar, Dinar merebahkan tubuhnya diatas kasur dan menatap langit langi.
"Tuhan, kapan semuanya akan berakhir. Ayah, ibu aku merindukan kalian. kalian tahu? mungkin jika bukan karena Gio, aku sudah menyusul kalian. setelah kepergian kalian, aku tidak pernah bahagia ataupun menangis, rasanya hatiku sudah mati rasa tidak seperti dulu saat kalian masih ada, rasanya dunia milik kita, canda dan tawa selalu mengisi hariku. sekarang semuanya hampa, hanya Gio yang Dinar punya. Dinar ingin dicintai dan juga mencintai, Dinar ingin hidup yang penuh cinta bukan derita." kata Dinar