
"Gio, kemarilah." kata Dinar pada Gio sambil merentangkan tangannya.
"Kakak, selamat. aku senang sekali akhirnya kamu menemukan orang yang tepat." kata Gio menangis didalam pelukan Dinar
"Hemm, jangan menangis." kata Dinar sambil mengusap punggung adiknya dengan lembut.
"Jadi kapan kalian akan mengadakan pesta pernikahan?" tanya Widya dengan antusias
"Yah, kapan kalian akan mengadakannya?" tanya bibi Citra
"Entahlah, Dinar juga belum memikirkan itu. Tapi jika diadakan, kemungkinan besar akan diadakan di Amerika." kata Dinar
"Bagaimana jika di Amerika dan Indonesia?" usul bibi Citra
"Dinar akan membicarakannya terlebih dahulu pada mami dan papi." kata Dinar
"Baiklah, sekarang kalian berdua istirahatlah ke kamar atas." suruh bibi Citra dan diangguki oleh Dinar dan Rakha.
Semua orang dibawah tidak mempermasalahkan sikap Rakha yang dingin dan sedari tadi tidak berbicara karena mereka sudah mengetahui sikap Rakha yang seperti itu jauh sebelum mereka tahu bahwa Rakha adalah suami Dinar.
"Sayang, apa kau mau mandi?" tanya Dinar saat mereka sudah berada di dalam kamar
"Ya, bersamamu." kata Rakha sambil tersenyum nakal
"Yaaa, aku akan menyuruh Gio untuk membelikan pakaian untukmu. Tunggu sebentar." kata Dinar sambil beranjak untuk turun kebawah
"Tidak usah sayang, aku akan menyuruh Johan." kata Rakha dan diangguki oleh Dinar.
.
Widya yang sedang membantu ibunya memasak terpaksa harus berhenti karena mendengar ada yang mengetuk pintu.
"Ya sebentar." jawab Widya dari dalam rumah sembari membuka pintu.
"Ya ada yang bisa saya bantu?" tanya Widya pada seorang pria tampan yang ada dihadapannya.
"Halo pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Widya lagi mengulang kata-katanya tadi karena tidak dijawab oleh Johan.
"Khem, ah iya. Saya Johan asisten tuan Rakha. Saya kesini untuk mengantarkan baju." kata Johan sedikit gugup
"Ah ya, tadi Dinar mengatakan pada saya. Mari masuk." ajak Widya pada Johan
"Siapa sayang?" tanya bibi Citra saat melihat Widya melewati dapur menuju tangga.
"Johan ma." jawab Widya setengah berteriak
"Johan?" tanya bibi Citra
"Yaa, asistennya suami Dinar. katanya mau nganterin baju." jawab Widya sembari berjalan diikuti Johan di belakangnya.
Widya mengetuk pintu kamar Dinar sambil memanggil-manggil nama Dinar. Tak lama kemudian Dinar membuka pintu kamarnya.
"Kenapa Wid?" tanya Dinar.
"Ini ada asistennya suami kamu, katanya disuruh nganter baju." kata Widya
"Ah ya." jawab Dinar dan Johan menyodorkan baju yang dimaksud Rakha
"Terimakasih Johan." kata Dinar sambil tersenyum dan diangguki sopan oleh Johan. Setelah itu Dinar menutup pintu kamarnya tanpa berkata apa-apa lagi.
"Eh lah, kok gitu doang. Terus ini pak Johannya disuruh ngapain lagi?" kata Widya bingung.
"Saya akan pulang." kata Johan dingin menjawab kebingungan Widya
"Buset, dingin amat pak kek kulkas 135 pintu." kata Widya tanpa sungkan berkata seperti itu di depan Johan
"Permisi." kata Johan lalu meninggalkan Widya begitu saja. Johan tidak bermaksud berkata sedingin dan sedatar itu pada Widya, tapi dia melakukan itu semua untuk menutupi rasa salah tingkahnya karena ini pertamakalinya dia merasakan hal itu pada seorang wanita. pasalnya selama ini dia tidak pernah jatuh cinta sama seperti bosnya yaitu Rakha.
"Gila, ganteng sih ganteng. Tapi mukanya datar dan dingin gitu. Takut gue." kata Widya sambil bergidik ngeri lalu kembali menuju dapur untuk membantu mamanya memasak.