
Dinar dan Widya sudah sampai dirumah Widya. Mereka masuk kedalam rumah dan langsung pergi ke kamar Widya untuk bersih bersih karena badan mereka lengket sehabis Jogging. untung saja Dinar tidak lupa membawa baju ganti, jadi dia tidak perlu repot repot meminjam baju dari Widya. setelah bersih bersih sekitar 1 jam, akhirnya Dinar selesai dan turun kebawah untuk menyapa paman dan bibinya sementara Widya masih dikamarnya.
"Bibik, apakah bibi melihat paman Lee dan bibi Citra?"
Tanya Dinar pada asisten rumah tangga disana, karena dia sudah berkeliling didalam rumah tapi tidak menemukan orang yang dicarinya.
"Iya non, sepertinya tuan dan nyonya ada di halaman belakang" ucap art tersebut
"Oh iya, terimakasih bi." kata Dinar sambil tersenyum
"sama sama non." balas bibi
setelah itu, Dinar bergegas pergi ke halaman belakang untuk menemui paman dan bibinya karena dia sudah sangat rindu dengan mereka.
"Yuhuuu, si cantik Dinar dateng nih." sapanya sambil tersenyum pada dua orang paruh baya itu. Yah itulah sikap Dinar ketika ada dihadapan paman dan bibinya yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya. Sikapnya akan berubah drastis, jika diluar dia bersikap dingin, maka ketika bersama keluarha yang dia sayangi dia akan berubah menjadi gadis yang ceria dan manja.
"Hai sayang, bibi sangat merindukanmu."
ucap bibi Citra sambil memeluk Dinar
"Dinar juga sangat merindukan bibi. dan paman, apakah paman tidak merindukanku?" kata Dinar sambil memasang wajah cemberut yang dibuat buat
"Tidak, paman tidak merindukanmu." ucap paman Lee sambil tertawa
"ayo duduk." ucap bibi Citra mempersilahkan Dinar duduk disampingnya
"Iya bibi." kata Dinar sambil duduk
"mungkin benar, tapi aku tidak perduli bi. biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau." kata Dinar dengan santai
"Apakah kamu tidak sakit hati?" tanya bibi Citra lagi
"Tidak, untuk apa." kata Dinar
"apakah hubunganmu dengan suamimu masih sama seperti dulu waktu kamu menceritakan pada bibi?" tanya bibi Citra
"Yah begitulah" jawab Dinar lagi
Dinar memang selalu jujur dengan Paman Lee dan Bibi Citra, jadi semua yang dialaminya selalu dia ceritakan kepada bibi Citra tanpa di tutup tutupi jika bibi Citra bertanya padanya
"Apakah kamu tidak berniat memperbaikinya nak? apa kamu tidak ingin memiliki keluarga kecil yang bahagia bersama suamimu?" Tanya Paman Lee akhirnya membuka suara
"Entahlah paman, aku bingung. Aku ingin memiliki keluarga yang bahagia seperti paman dan bibi, tapi dengan orang yang aku cintai." jawab Dinar
"Jadi, jika kamu ingin hidup dengan orang yang kamu cintai maka belajarlah untuk mencintai suamimu." kata paman Lee
"Paman, aku tidak bisa mencintainya dan tidak akan pernah bisa. aku tidak ingin mencintai orang yang bisa membuatku setiap hari sakit hati dengan kelakuannya. sekalinya dia berselingkuh, tidak menutup kemungkinan kan dia akan melakukannya dimasa yang akan datang." kata Dinar
"Mungkin saja dia bisa berubah, tidak ada yang tidak mungkin bukan jika Tuhan sudah berkehendak." kata paman Lee lagi
"Iya paman aku tahu. Tapi maaf, kali ini aku tidak bisa mengikuti saran paman untuk belajar mencintai suamiku. Benar kata paman, tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Mungkin saja kebahagiaanku bukan bersamanya, dan mungkin saja dimasa yang akan datang aku bertemu dengan cintaku dan kami hidup bahagia, mungkin saja bukan." kata Dinar
"Ya sudahlah, itu sudah menjadi keputusanmu. paman tidak akan memaksa. ayo kita kedalam, sudah saatnya makan siang." ajak pama Lee menyudahi obrolan mereka.