
"Kapan kamu akan berangkat?" tanya Bibi
"Entahlah, Dinar ingin secepatnya."
"Apa Dinar bisa minta tolong pada paman dan bibi?" tanya Dinar
"Katakanlah sayang, jangan sungkan dengan bibi maupun paman." kata bibi
"Tolong jaga Gio ya. Satu lagi, jangan mengatakan pada siapapun kalau Dinar pergi ke luar negri. jika ada yang bertanya tentang Dinar, katakan saja tidak tahu." kata Dinar
"Kenapa?" tanya paman
"Lakukan saja paman." mohon Dinar
"Baiklah, baiklah." kata paman
"Terimakasih."
"Dinar pamit dulu, Dinar mau mengurus semuanya. Gio, kamu tetaplah disini." kata Dinar dan dusetujui Gio.
.
"Bos, nona Dinar bercerai dengan suaminya." lapor Johan pada Rakha
Rakha tersenyum smirk tanpa menjawab perkataan Johan.
"Dasar es kutub, jawab kek." seru Johan dalam hati.
Rakha mengambil ponselnya dan menghubunhi salah satu nomor yang ada di dalam ponselnya.
"Bisakah kita bertemu?" tanya Rakha setelah panggilan itu terhubung.
"Tentu saja, kapan?" tanya orang di seberang telfon yang tak lain adalah Dinar
"Malam ini." kata Rakha
"Baiklah." kata Dinar dan Rakha langsung mematikan sambungannya.
"Lihatlah, dengan wanita yang dicintainya saja dia masih sedingin es." batin Johan yang sedari tadi memlerhatikan bosnya. Johan memang belum pernah jatuh cinta, tapi setidaknya dia tahu bagaimana cara berkata kata manis kepada wanita yang dicintai.
.
Kini mereka sedang duduk di dalam ruang VVIP sebuah Restaurant.
"Tumben sekali kamu mengajakku bertemu, apa ada hal penting yang ingin kamu katakan?" tanya Dinar
"Hemm." kata Rakha yang membuat Dinar kesal setengah mati.
"Bicaralah." kata Dinar lembut
Rakha menggenggam tangan Dinar yang ada diatas meja, dia menatap Dinar dalam. "Apa kita bisa memulainya dari awal? Aku sangat mencintaimu." kata Rakha serius
Dinar tersenyum manis dan juga menggenggam tangan Rakha.
"Apakah kau akan mengahragai keputusanku? apakah kau tidak akan membenciku jika kau mendengar jawabanku?" tanya Dinar, dan perkataan Dinar membuat Rakha tegang.
"Katakanlah." ucap Rakha
"Rakha, dengar aku baik baik. Aku mencintaimu, aku juga mencintaimu. Tapi maaf, untuk saat ini kita tidak bisa bersatu. Banyak masalah dalam hidupku, banyak tanggungan yang belum terpenuhi, banyak hal yang harus aku selesaikan. Bahkan untuk hidupku sendiri, aku tidak pernah memikirkan bagaimana kedepannya. Untuk hari esok saja aku tidak pernah memikirkannya, aku menjalani hidup dengan takdir tuhan, aku tidak punya rencana apapun dalam hidupku, biarkan tuhan yang mengatur semuanya, jika saat ini aku harus matipun, aku sudah siap."
"Katakan padaku semua masalahmu, aku akan membantumu." kata Rakha
Dinar menggeleng. "Aku tidak ingin menyusahkanmu."
"Lalu aku harus bagaimana? apa aku harus memunggumu?" tanya Rakha
Dinar kembali menggelengkan kepalanya.
"Lupakan aku, aku tau ini sangat sulit Rakha, untukmu dan juga untukku. Kita sama sama baru merasakan jatuh cinta dan juga sama sama baru merasakan terluka karena cinta yang tak bisa bersama. Berjanjilah padaku, sebagai wanita yang pertama kali memiliki hatimu. Jalani hari hari dengan baik, jangan pernah mencariku, lupakan aku. Jika kita memang berjodoh, kita akan bertemu dimasa yang akan datang, percayalah padaku." kata Dinar dan Rakha memandang Dinar dengan tidak percaya atas apa yang dikatakan Dinar barusan.
Rakha melepaskan tangannya yang masih digenggam oleh Dinar, dia langsung pergi meninggalkan Dinar begitu saja.
"Maaf" hanya kata itu yang bisa terucap dari mulut Dinar sebelum dia menitikkan air matanya.
"Ini juga sulit untukku, tapi aku tidak pernah berfikir untuk bahagia sebelum orang orang disekelilingku bahagia terlebih dahulu." kata Dinar dalam hati.