
Pagi Hari
Terik matahari di balik gorden kamar Rakha membangunkan Dinar yang sedang tertidur pulas karena kelelahan oleh ulah Rakha semalam yang melakukannya berronde-ronde. Dinar baru bisa tertidur jam 3 pagi karena ulah Rakha, tubuhnya terasa sakit semua terutama diarea kewanitaannya.
Dinar perlahan membukan matanya dan melihat wajah tenang suaminya yang ada didepannya.
Dinar tersenyum memandang wajah suaminya, bulu mata yang lentik, hidung mancung, rahang tegas, dan jangan lupakan bibir seksinya. Benar-benar pahatan sempurna.
Dinar perlahan mengangkat tangannya dan mengelus rahang suaminya dengan lembut sambil tersenyum manis.
Rakha memeluk Dinar dengan Erat.
"Suamimu memang tampan sayang." kata Rakha dengan mata masih tertutup.
"Kau sudah bangun?" kata Dinar terkejut
"Hemm." jawab Rakha singkat masih memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya pada Dinar.
"Sayang, lepaskan pelukanmu. Aku ingin ke kamar mandi." kata Dinar sambil memindahkan tangan Rakha tapi Rakha semakin mengeratkan pelukannya.
"Sayang, ayolah." rengek Dinar manja.
"Cupp....Terimakasih." kata Rakha mencium pucuk kepala Dinar.
"Untuk apa?" tanya Dinar bingung.
"Segalanya, kau memberiku segalanya." kata Rakha dengan senyum mengembang.
"Terimakasih kembali sayang. Dan sekarang bangunlah, kita mandi." kata Dinar
"Mandi berdua?" tanya Rakha penuh harap
"Yah. Ingat, hanya mandi." kata Dinar memperingati Rakha agar tidak melakukannya di kamar mandi lagi karena dia sudah sangat lelah.
"Satu ronde saja." mohon Rakha dengan wajah memelas.
"Just take a shower. if you don't want it then that's okay." jawab Dinar enteng
"Baiklah." kata Rakha dengan wajah lesu dan hal itu membuat Dinar gemas dengan wajah suaminya.
Sudah diperingatkan untuk tidak melakukannya, tapi Rakha masih saja melakukannya. Mandi yang biasanya 30 menit menjadi hampir 2 jam karena ulah Rakha.
"Sayang lihatlah, bibirku sampai pucat seperti ini karena ulahmu. Kau sangat menyebalkan." kata Dinar cemberut sambil memajukan bibirnya saat berdiri di depan kaca sesudah memakai baju.
"Hentikan, aku akan turun menemui mommy." kata Dinar berlalu begitu saja meninggalkan Rakha.
.
"Selamat pagi pengantin baru." sorak Dinda menggoda Dinar saat melihat Dinar menuruni tangga.
"Hey, kau senang sekali menggoda kakak iparmu." kata Daddy yang yang duduk di sebelah Dinda yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
"Pagi Daddy, pagi Dinda. Dimana mommy?" tanya Dinar yang tidak melihat mommy
"Entahlah, mungkin mengawasi maid yang sedang masak di dapur." kata Dinda
"Baiklah, aku akan kesana." kata Dinar berlalu menuju dapur.
"Selamat pagi mommy." sapa Dinar
"Pagi sayang, dimana suamimu?" tanya mommy
"Dia di kamar mom. Apa ada yang bisa Dinar bantu disini?" tanya Dinar
"Tidak ada sayang, sebaiknya kau memanggil suamimu untuk sarapan." suruh mommy pada Dinar dan Dinar menuruti perintah mommy.
"Sayang, kau sudah selesai. Ayo kita turun." kata Dinar sesampainya di kamar dan melihat Rakha yang sedang duduk di sofa sembari memangku laptopnya.
"Ayo." kata Rakha sembari memeluk Dinar dari samping.
"Jadi rencana kalian sekarang gimana?" tanya Daddy saat semuanya sedang sarapan.
"Rakha terserah Dinar Dad." kata Rakha
"Sepertinya Dinar akan ke Indonesia untuk waktu dekat ini." kata Dinar
"Untuk apa sayang?" tanya Mommy
"Dinar ingin mengambil perusahaan peninggalan Ayah yang seharusnya menjadi milik Gio. Lagipula Dinar sudah 3 tahun tidak pulang ke Indonesia mom, Dinar merindukan semuanya." kata Dinar menjelaskan.
"Apa Rakha akan ikut menemanimu sayang?" tanya mommy
"Tidak, Dinar ingin menyelesaikannya sendiri tanpa melibatkan Rakha." kata Dinar dan hanya diangguki saja oleh Daddy, Mommy, dan Dinda.