
"Woww, hebat sekali dia."
"Selingkuhan tidak tahu diri."
"Wanita tidak tahu malu."
Blablabla
kata pengunjung cafe pada Rika yang masih tecengang.
Karena suda tidak kuat menahan malu, akhirnya Rika keluar dari cafe sambil menutupi wajahnya dengan tas.
"Awas saja kamu Dinar." geram Rika setelah sampai di mobilnya.
"Luar biasa." gumam seseorang yang tak lain adalah Rakha yang ikut menyaksikan pertengkaran Rika dan Dinar di dalam cafe.
.
Dinar kembali ke rumah Dimas dan langsung masuk ke kamarnya, sesampainya di kamar Dinar langsung merebahkan badannya.
"Huft, tinggal menunggu waktunya." gumam Dinar.
.
"Sayang." Kata Rika yang baru saja sampai di ruangan Dimas
"Iya sayang?" tanya Dimas lembut menatap Rika yang duduk di pangkuannya
"Aku mau kamu secepatnya menceraikan Dinar, dia barusaja mempermalukan aku didepan banyak orang." kata Rika mengadu pada Dimas
"Mempermalukan seperti apa?"
"Ceritanya panjang sayang, pokoknya aku mau kamu cepet pisah sama dia." kata Rika memaksa
"Baiklah, kita akhiri semuanya jika itu yang kamu mau." kata Dimas sambil membelai rambut Rika dan Rika tersenyum menang.
"Aku akan menyuruh asistenku mengurus semuanya." sambung Dimas lagi
"Terimakasih sayang." kata Rika sambil mengelus pipi Dimas
.
"Permisi nona, ini surat yang harus anda tanda tangani." kata Asisten Dimas pada Dinar
"Surat apa?" tanya Dinar dingin
"Ehmm, surat cerai." kata Asisten Dimas gugup karena nada dingin Dinar
"Berikan." kata Dinar santai dan langsung menandatangani surat tersebut
Setelah kepergian Asisten tersebut, Dinar langsung masuk ke kamarnya dan mengemasi barang barangnya dan memasukkan semua bajunya kedalam koper, setelah itu dia langsung bergegas menuju mobilnya untuk pergi dari rumah Dimas.
"Mau kemana kamu?" tanya Rika yang barusaja sampai bersama Dimas.
Dinar hanya melihat sekilas tanpa menanggapi pertanyaan Rika, dan hal itu membuat Rika kesal.
"Untunglah kamu sadar diri, jadi aku tidak perlu repot repot untuk menyadarkanmu." timpal Rika lagi dan perkataannya tidak ditanggapi lagi oleh Dinar, Rika semakin kesal dan dengan keras dia menarik tangan Dinar yang sibung memasukkan kopernya kedalam bagasi mobil.
"Apa kamu tidak mendengar aku berbicara hah?" kata Rika dengan nada tinggi
"Lepas." kata Dinar dingin
"Tidak akan, memohonlah terlebih dahulu." kata Rika sambil tersenyum meremehkan.
Dinar menatap Rika jengah, tanpa aba aba dia langsung memelintir tangan Rika ke belakang.
Krakkkk
Arrghhhhh
"Aku sudah mengatakan, jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu." kata Dinar sambil melepaskan tangan Rika yang sepertinya patah tulang karena dipelintir Dinar.
"Dinar, apa yang kamu lakukan?" kata Dimas panik melihat Rika yang merintih kesakitan hampir pingsan
"Hanya memberi pelajaran." kata Dinar lalu meninggalkan Dimas dan Rika.
"Sayang, tanganku." kata Rika merintih kesakitan.
"Kita ke rumah sakit sekarang." kata Dimas sambil menggendong tubuh Rika dan masuk kedalam mobil.
.
Dinar melajukan mobilnya menuju apartemen adiknya, dia berencana menjemput adiknya dan meminta adiknya untuk tinggal lagi bersamanya di rumah miliknya yang ditempati paman Joe dan bibi Reta.
Sesampainya di apartemen adiknya, Dinar langsung masuk tanpa mengetuk pintu dan hal itu membuat Gio yang sedang asik menonton Televisi terkejut olehnya.
"Hey, apa kakak tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu." kesal Gio
"Kenapa?" tanya Dinar santai sambil mendudukkan badannya disamping adiknya tersebut.
"Ada apa kau kemari?" tanya Gio
"Apa tidak boleh?" kata Dinar sambil melotot
"Ti..tidak, bukan begitu maksudku kak. tumben sekali." kata Gio sambil tetsenyum manis karena takut dipelototi kakaknya
"Kemasi barang barangmu, besok kita kembali ke rumah." kata Dinar