
Pernikahan
"Kakak, apakah kau yakin dengan keputusanmu ini?" tanya Gio pada Dinara
"Aku tidak punya pilihan lain, perusahaan itu adalah peninggalan ayah satu-satunya. aku tidak ingin membuat ayah sedih dengan membirakan perusahaan yang sudah dia bangun puluhan tahun bangkrut begitu saja."
"Kakak, maafkan aku. aku tidak bisa membantumu" kata Febi
"Sudahlah, ini bukan salahmu"
"Kenapa harus kamu yang dijodohkan dengan Dimas oleh ibu, kamu itu tidak pantas menjadi nyonya Anggara. yang pantas itu hanya aku." ucap Erika kepada Dinara. Erika memang tidak menyukai Dinara karena dia iri dangan kecantikan Dinara, buka hanya cantik saja tapi Dinara juga pintar.boleh karena itu banyak orang yang mengaguminya.
"Mengapa kau tidak mengatakan itu langsung kepada orang tuamu, kau fikir aku mau menjadi istri orang yang sama sekali tidak aku kenal"
"Ceh, kau fikir aku bodoh. pasti kau kan yang sudah memaksa ibuku untuk menjodohkanmu dengan Dimas"
"Asal kau tahu, aku tidak serendah dirimu"
"apa katamu? mau kurobek mulutmu itu hah?"
"sudahlah kak, kau ini selalu saja mencari masalah dengan kak Dinara" ucap Febi menegur Rika untuk melerai mereka
"Diam kau anak kecil" kata Rika dan keluar dari ruang rias
akad nikah sudah dilaksanakan, sekarang tinggallah resepsi dan acara salam salaman dengan para tamu. tak nampak sedikitpun senyum dari wajah mempelai wanita. Dinara setia dengan wajah datarnya. yah, meskipun dikenal cantik dan pintar, dia juga dikenal dengan sikap cuek, dingin, dan wajah datarnya. dia akan berubah menjadi hangat jika berbicara kepada Gio, Febi dan keluarga paman Lee. Paman Lee adalah adik dari ibunya, paman Lee lah dan Istrinya yang selalu membantu dia dan Gio jika ada masalah. Paman Lee juga mempunyai anak perempuan seusia Dinara yaitu Widya. Selain saudara sepupu, mereka juga sudah bersahabat dari dulu. dan setiap ada masalah, pastilah Dinara selalu bercerita kepada Widya begitupun sebaliknya.
Acaranya sudah selesai. mereka semua sudah kembali kerumah, dan Dinara ikut kerumah Dimas. sepulangnya dari acara pernikahan sampai rumah, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. mereka seperti orang asing yang tinggak satu atap dan satu kamar.
"Apakah tidak ada kamar lain?" tanya Dinara kepada Dimas, dia kurang nyaman tidur satu kamar dengan Dimas.
"Apa kamu ingin tidir dikamar terpisah?" tanya Dimas
"Iya, aku kurang nyaman jika tidur sekamar denganmu. apalagi kau tahu, kita menikah hanya karena perjodohan dan tidak didasari dengan cinta. tapi aku berjanji, sebisa mungkin aku akan menjadi istri yang baik. aku akan belajar juga untuk mencintaimu. jadi kita akan sama sama belajar, itupun jika kau mau." kata Dinara
"Baiklah, tidurlah dikamar sebelah. aku tidak akan memaksamu."
"Terimakasih. satu lagi, aku harap kau mengerti jika aku ingin tidak ada kontak fisik diantara kita sebelum tumbuh rasa cinta."
"Aku mengerti. Tapi kau juga harus mengerti aku jika aku akan sering bermain dengan perempuan lain karena aku tidak menerima hakku sebagai suami dari istriku." kata Dimas dengan senyum liciknya
"Terserah kau saja, jadi jika begitu niatku untuk belajar mencintaimu akan kubatalkan. kita akan tetap menjadi suami istri yang tinggal satu rumah tetapi tidak saling peduli. bukan begitu?"
"Iya, urusanmu adalah urusanmu, aku tidak akan ikut campur. begitupun sebaliknya, jadi kau tidak perlu mengabariku atau meminta izinku jika kau mau pergi kemana dan dengan siapa. begitu juga sebaliknya. Tapi jangan sampai publik tau tentang rumah tangga kita yang tidak harmonis. aku tidak ingin merusak karier dan reputasiku sebagai pemimpin perusahaan Pratama."
"Deal" kata Dinara dan berjabat tangan dengan Dimas.